Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword or section
Like this
3Activity
P. 1
Indonesian Telecommunication Blue Print

Indonesian Telecommunication Blue Print

Ratings: (0)|Views: 229|Likes:
Published by bangetsaru
Indonesian Telecommunication Blue Print set by Indonesian INFOCOM Society 2005.
Indonesian Telecommunication Blue Print set by Indonesian INFOCOM Society 2005.

More info:

Published by: bangetsaru on Dec 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2013

pdf

text

original

 
 1
 
CETAK BIRU TELEKOMUNIKASI(MASTEL)
 MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIATHE INDONESIAN INFOCOM SOCIETY2005
 
 2
BAB IPENDAHULUAN
Sejak ditetapkannya Cetak Biru Kebijakan Telekomunikasi (Cetak Biru 1999) padapertengahan tahun 1999 dengan Surat Keputusan Menteri Perhubungan No. 72 tahun1999, telah terjadi berbagai perkembangan di bidang telematika di Indonesia, yangmeliputi telekomunikasi, penyiaran dan teknologi informasi. Pada 19 September 1999telah lahir UU 36/1999 tentang Telekomunikasi yang sebagian besar mencerminkan isisubstansi dokumen Cetak Biru 1999 tersebut. Sebagai konsekuensi adanya UU 36/1999ditetapkan pula berbagai produk hukum berupa peraturan pemerintah maupun yanglebih rinci dalam keputusan Menteri Perhubungan. Juga kita catat diundangkannya UUno. 32/2002 tentang Penyiaran pada tanggal 28 Desember 2002. Terwujudnya UUtentang Penyiaran, walaupun secara proses mengikuti semangat demokrasi (yangkadang-kadang berlebihan), namun dalam kenyataannya tidak didasari suatu Cetak Biruatau
Roadmap
bidang penyiaran. Sedangkan di bidang informasi ada satu RUU tentanginformasi dan transaksi elektronik yang telah diajukan ke DPR-RI untuk pengesahannya,lagi-lagi tanpa adanya cetak biru dan atau
roadmap
yang jelas tentang undang-undangserta konsep-konsep pemikiran apa saja yang perlu ditetapkan untuk mendapatkankerangka perundangan yang cukup untuk pembangunan dan pelayanan telematikaselanjutnya.Dalam pada itu, industri telematika yang masih mengalami dampak krisismoneter/ekonomi 1997, belum mampu bergerak maju secara signifikan, walaupun mulaidi tahun 2003, terdorong oleh permintaan masyarakat
(demand)
yang menumpuk,investasi dalam infrastruktur telekomunikasi mulai terlihat kembali.Dalam pelaksanaan reformasi di bidang telekomunikasi yang diamanatkan oleh UU36/1999 dan yang mulai efektif berlaku September 2000, terminasi dini eksklusifitastelah menjadi salah satu keputusan positif dari Pemerintah. Namun demikian, dalamkalangan industri telematika dewasa ini timbul pertanyaan, seefektif apa ketentuan-ketentuan yang berlaku atau ditetapkan pasca penetapan UU 36/1999 bagipertumbuhan industri telematika. Hal ini sangat didambakan oleh seluruh bangsa,apalagi dengan adanya berbagai deklarasi tentang “digital divide” serta “masyarakatinformasi” di forum-forum internasional yang menghendaki kebijakan dan langkah-langkah yang mampu mempercepat penetrasi layanan dan informasi kepada semualapisan masyarakat dan keseluruh penjuru negeri.
 
 3
Perkembangan-perkembangan yang dicapai di Indonesia ternyata masih dilakukandengan menggunakan pendekatan terpisah untuk masing-masing “sub-sektor” dalam“sektor telematika”, yaitu terpisah untuk telekomunikasi, penyiaran dan teknologiinformasi, sehingga menghasilkan dua Undang-undang terpisah untuk telekomunikasidan penyiaran. Dengan bertambahnya jumlah undang-undang terpisah mengenaitelematika, sukar untuk mencegah terjadinya tumpang tindih dan atau kebijakan yangsaling bertentangan, padahal konvergensi dalam telematika semakin terjadi. Apalagikarena tidak ada cetak biru dan
roadmap
tunggal untuk telematika dalamkeseluruhannya.Ditahun 90-an usaha menyusun dokumen terintegrasi oleh TKTI (Tim KoordinasiTelematika Indonesia) telah dilakukan, namun tidak rinci sebagaimana diperlukan, sertatidak dimuthakhirkan dan dirinci lebih lanjut sampai dewasa ini. Sebagai usaha dan hasilyang perlu diperhatikan adalah Kerangka Konseptual Sistim Informasi Nasional, yangditetapkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi pada pertengahan tahun 2003yang dapat dikatakan sebagai sebuah cetak biru (2003 – 2010) pembangunan sisteminformasi kepemerintahan.Kenyataan-kenyataan diatas menjadi dorongan bagi MASTEL untuk menyusundokumen ini, yang dimaksudkan sebagai langkah konkrit menuju Cetak Biru Telematika2005 – 2015 yang didasarkan pendekatan terintegrasi antara telekomunikasi, penyiarandan teknologi informasi. Adapun masukan-masukan yang terdapat dalam dokumen initidak mencakup seluruh masalah-masalah yang harus dikupas dalam Cetak Biru, dansistimatikanya juga tidak mengikuti yang seyogyanya digunakan dalam Cetak Biru.Masalah yang dikupas secara terfokus dibatasi pada beberapa isu kritis
(critical issues)
 dalam telekomunikasi, sebagai langkah penting untuk penyusunan Cetak Biru secaralengkap.Pemikiran MASTEL yang dituangkan dalam dokumen ini adalah berangkat dari situasisector telematika saat ini, menuju kepada tujuan bangsa Indonesia untuk sektor telematika yang akan menjadi salah satu pilar infra struktur penting dalampembangunan ekonomi bangsa dan negara, dimana layanannya mencakup danterjangkau masyarakat luas dengan penetrasi yang relatif tinggi termasuk USO, denganharga yang murah tidak tergantung waktu dan jarak, kompetitif dibanding harga jasatelematika di-negara lain, serta kemampuan layanan multiservices/konvergensi dankemampuan teknologi dan atau bandwidth yang besar untuk mencapai keadaan sepertiyang diuraikan dalam Bab-III-C tentang perubahan paradigma.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->