Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Memelihara Republik, Mengaktifkan Akal Sehat

Memelihara Republik, Mengaktifkan Akal Sehat

Ratings: (0)|Views: 6 |Likes:
Published by Tomix Pribadi

More info:

Published by: Tomix Pribadi on Dec 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2010

pdf

text

original

 
Memelihara Republik, Mengaktifkan Akal Sehat
I. Indonesia hari-hari ini...
 Ada konvoi pemuda beringas berkeliling kota menebar moral. Ada anak muda memetik dawaimengelilingi dunia mengukir prestasi. Ada fatwa penyair tua sepanjang hari membenci tubuh.Ada pelajar menggondol medali biologi di pentas dunia berkali-kali. Ada lumpur pebisnisdibersihkan negara dengan pajak rakyat. Ada perempuan desa menembus bukit menyalurkan air  bersih dengan tangannya sendiri. Ada koruptor diusung partai jadi pahlawan. Ada relawan bergegas ke medan bencana tanpa menyewa wartawan.Kita seperti hidup dalam dua Republik: Republic of Fear dan Republic of Hope. Akal sehat kitatentu menghendaki perwujudan Republic of Hope itu, secara saksama dan dalam tempo yangsesingkat-singkatnya. Tetapi nampaknya, penguasa politik lebih memilih memelihara Republicof Fear, karena di situlah statistik Pemilu dipertaruhkan. Kemajemukan hanya diucapkan didalam pidato, selebihnya adalah tukar-tambah kepentingan yang diatur para broker. Hak AsasiManusia dipromosikan ke mancanegara, tetapi kejahatan kemanusiaan di dalam negeri,diputihkan untuk modal Pemilu. Toleransi dihimbaukan ke seluruh rakyat, tetapi ketegasan tidak hendak dilaksanakan. Mengapung diatas bara sosial itu, sambil membayangkan siasat politik suksesi, adalah agenda harian elit politik hari-hari ini.Politik tidak diselenggarakan di ruang publik, tetapi ditransaksikan secara personal. Tukar tambah kekuasaan berlangsung bukan atas dasar kalkulasi ideologis, tetapi semata-mata karenaoportunisme individual. Di layar nasional, politik elit tampil dalam bentuknya yang palingdangkal: jual-beli di tempat! Tidak ada sedikitpun upaya "sofistikasi" untuk sekedar memperlihatkan sifat "elitis" dari percaloan politik itu. Dengan wajah standar, para koruptor menatap kamera, karena yakin bahwa putusan hakim dapat dibatalkan oleh kekuasaan, bilamenolak ditukar saham. Dan sang hakim (juga jaksa dan polisi) memang mengkondisikansebuah keputusan yang transaksional. Kepentingan bertemu kepentingan, keinginan bersuakebutuhan.Di layar lokal, politik bahkan sudah diresmikan sebagai urusan "uang tunai". Seorang calonkepala daerah sudah mengijonkan proyek-proyek APBD kepada para pemodal, bahkan sebelumia mencalonkan diri dalam Pilkada. Struktur APBD daerah umumnya condong membengkak  pada sisi pegeluaran rutin pejabat dan birokrasi ketimbang pada sisi pengeluaran pembangunanuntuk kesejahteraan rakyat. Maka sangat mudah memahami bahwa "human development index"kita tetap rendah karena biaya renovasi kamar mandi bupati lebih didahulukan ketimbangmembangun puskesmas. Bahkan antisipasi terhadap kemungkinan sang kepala daerah ditetapkansebagai tersangka korupsi, juga sudah dipikirkan. Maka berbondong-bondonglah para kepaladaerah bermasalah itu hijrah dari partai asalnya, masuk ke partai penguasa. Tentu itu bukantransfer politik gratisan. Tadah-menadah politik sudah menjadi subkultur politik nasional. Sekalilagi: kepentingan bertemu kepentingan, kemauan bersua kebutuhan.
 
Dalam perjanjian konstitusional negara dengan warganegara, keadilan dan keamanan dijadikanagunan untuk menetapkan kewajiban timbal balik. Karena itu, bila saudara membayar pajak,maka saudara berhak memperoleh sistem politik yang memungkinkan keadilan itu diwujudkan.Bila saya patuh pada hukum, maka saya berhak menerima rasa aman dari negara. Tetapi urusaninilah yang kini amat jauh dari harapan publik. Para perusak hukum justeru dilindungi negara.Para pengemplang pajak, justeru dirangkul negara. Dan dalam urusan sistem politik, kita berhadapan dengan persekongkolan politik kartel yang memonopoli distribusi sumber daya politik dan ekonomi. Bahkan oligarki kekuasaan yang sesungguhnya, hanya melibatkan dua-tigatokoh kunci yang saling menyogok, saling tergantung, dan saling mengintai. Politik menjadikegiatan personal dari segelintir elit yang terjebak dalam skenario yang saling mengunci, karenamasing-masing terlibat dalam persekutuan pasar gelap kekuasaan pada waktu Pemilu.Ketergantungan politik pada uang-lah yang menerangkan persekongkolan itu. Pertaruhan initidak ada hubungannya dengan politik ideologi, karena relasi personal telah menyelesaikan persaingan ideologi. Relasi itu tumbuh karena pelembagaan politik tidak berlangsung. Artinya,sistem kepartaian modern dan sistem parlemen kita tidak tumbuh di dalam kebutuhan untuk membudayakan demokrasi, tetapi lebih karena kepentingan elitis individual. Pemahaman tentangdalil-dalil bernegara tidak diajarkan di dalam partai politik. Etika publik bukan merupakan prinsip politik parlemen. Bahwa seolah-olah ada kesibukan mengurus rakyat, itu hanya tampildalam upaya mempertahankan kursi politik individual, dan bukan karena kesadaran untuk memberi pendidikan politik pada rakyat. Parlemen adalah kebun bunga rakyat, tetapi rakyat lebihmelihatnya sebagai sarang ular. Tanpa gagasan, minim pengetahuan, parlemen terus menjadisasaran olok-olok publik. Tetapi tanpa peduli, minim etika, parlemen terus menjalankan dua pekerjaan utamanya: korupsi dan arogansi.Defisit akal di parlemen adalah sebab dari defisit etika. Arogansi kepejabatan digunakan untuk menutupi defisit akal. Maka berlangsunglah fenomena ini: sang politisi yang sebelumnyamenjadi pengemis suara rakyat pada waktu Pemilu, kini menyatakan diri sebagai pemilik kedaulatan. Seperti anjing yang menggonggongi tuannya, politisi memutus hubungan historisnyadengan rakyat, dan mulai berpikir menjadi pengemis baru. Kali ini, bukan pada rakyat, tetapi pada kekuasaan eksekutif. Faktor inilah yang menerangkan mengapa oposisi tidak dapat bekerjadalam sistem politik kita. Tukar tambah kepentingan antara eksekutif dan legislatif bahkan berlangsung sampai urusan "titik dan koma" suatu rancangan undang-undang. Transaksi itusering tidak ada kaitannya dengan soal-soal ideologis, karena memang motif koruptiflah yang bekerja di bawah meja-meja sidang.Asal-usul politik koruptif ini terkait dengan tidak adanya kurikulum "kewarganegaraan" dalamsemua jenjang pendidikan nasional. Sistem pendidikan kita tidak mengorientasikan murid padakehidupan publik. Konsep "masyarakat" di dalam kurikulum sekolah tidak diajarkan sebagai"tanggung jawab merawat hidup bersama", tetapi lebih sebagai kumpulan ajaran moral komunalyang pertanggungjawabannya diberikan nanti di akhirat. Konsep "etika publik" tidak diajarkansebagai keutamaan kehidupan "bermasyarakat".Memang, amandemen konstitusi tentang tujuan pendidikan nasional bahkan lebih mengutamakan pendidikan "akhlak" ketimbang "akal". Konsekwensinya terhadap kehidupan Republik sangatlah berbahaya, karena warganegara tidak dibiasakan sejak dini untuk secara terbuka berargumen.
 
Sangatlah bertentangan misi pendidikan itu dengan imperatif konstitusi kita yang mewajibkankita "melihat dunia" melalui "kecerdasan" dan "perdamaian". Sesungguhnya filsafat publik kitasemakin merosot menjadi pandangan sempit dan picik, karena pertarungan kecerdasan di parlemen di dalam membela ide masyarakat bebas tidak dapat berlangsung. Pengetahuan dan pemahaman konseptual tentang ide Republik lebih banyak diucapkan dalam retorika"nasionalisme", dan karena itu kedudukan primer konsep "warganegara" tidak cukup dipahami."Kewarganegaraan" adalah ide tentang tanggung jawab warganegara lintas politik, lintaskomunal. Realisasinya memerlukan pemahaman fundamental tentang etika parlementarian, yaitu bahwa "kedaulatan rakyat" tidak pernah diberikan pada "wakil rakyat". Yang diberikan hanyalahkepentingan rakyat tentang satu isu yang secara spesifik didelegasikan pada "si wakil", dankarena itu dapat ditarik kembali setiap lima tahun. Juga dalam tema ini kita pahami bahwa"kedaulatan rakyat" tidak sama dengan "mayoritarianisme". Kedaulatan rakyat justerudifungsikan untuk mencegah demokrasi menjadi permainan politik golongan mayoritas. Itulahsebabnya kedaulatan rakyat tidak boleh dikuantifikasi dalam statistik atau dalam hasil Pemilu.Defisit politik warganegara juga adalah akibat dari surplus politik feodal. Hari-hari ini hegemonikultur politik feodal itu masuk dalam politik publik melalui langgam perpolitikan istana, ketika"kesantunan" menyisihkan "kritisisme". Dan kultur itu terpancar penuh dari bahasa tubuhPresiden. Prinsip yang berlaku adalah: kritik politik tidak boleh membuat kuping Presidenmenjadi merah.Feodalisme adalah sistem kekuasaan. Kita tentu tidak menemukannya lagi dalam masyarakatmodern. Tetapi seorang penguasa dapat terus mengimajinasikan dirinya sebagai "raja", "tuan","pembesar" dan sejenisnya, dan dengan kekuasaan itu ia menyelenggarakan pemerintahan. Kita justeru merasakan itu dalam kepemimpinan politik hari-hari ini, dalam diskursus bahasa tubuh,dalam idiom-idiom tatakrama, dalam simbol-simbol mistik, bahkan dalam politik angka keramat.Di dalam kultur feodalistik, percakapan politik tidak mungkin berlangsung demokratis. Bukansaja karena ada hirarki kebenaran di dalam diskursus, tetapi bahkan diskursus itu sendiri harusmenyesuaikan diri dengan "aturan politik feodal", aturan yang tak terlihat namun berkekuasaan.Sangatlah aneh bila kita berupaya menyelenggarakan sebuah birokrasi yang rasional danimpersonal, tetapi mental politik yang mengalir dalam instalasi birokrasi kita masih mentalfeodal.Konsolidasi demokrasi memang sudah tertinggal oleh akumulasi kekuasaan. Enersi yang pernahkita himpun untuk menghentikan otoritarianisme, tidak lagi cukup untuk menggerakkan perubahan. Sebagian disebabkan oleh sifat politik reformasi yang amat "toleran", sehinggamemungkinkan seorang jenderal pelanggar HAM duduk berdebat semeja dengan seorang aktivisHAM, mengevaluasi kondisi demokrasi. Juga tidak aneh menyaksikan seorang tokoh terpidanakorupsi menjadi narasumber sebuah talkshow yang membahas arah pembangunan nasional.Transisi yang amat toleran itu telah meloloskan juga obsesi-obsesi politik komunalistik yanghendak mengatur ruang politik publik dengan hukum-hukum teokrasi. Di dalam keserbabolehanitulah kekuasaan politik hari-hari ini menarik keuntungan sebesar-besarnya. Tetapi berdiri di atas politik uang dan politik ayat, kekuasaan itu kini tampak mulai kehilangan keseimbangan. Antara

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->