Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Masalah Nasionalisme Dan Patriotisme

Masalah Nasionalisme Dan Patriotisme

Ratings: (0)|Views: 1,068 |Likes:
Published by appror
Versi file lengkapnya dalam Ms. Wordnya Bisa Di Ambil Di:
https://bisnisbook.wordpress.com
http://ebookloe.wordpress.com


Versi file lengkapnya dalam Ms. Wordnya Bisa Di Ambil Di:
https://bisnisbook.wordpress.com
http://ebookloe.wordpress.com


More info:

Published by: appror on Jan 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

 
Versi file lengkapnya dalam Ms. Wordnya Bisa Di Ambil Di:
MASALAH NASIONALISME DAN PATRIOTISMENasionlasime di Indonesia
Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai jawaban ataskolonialisme. Pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah melahirkansemangat solidaritas sebagai satu komunitas yang mesti bangkit dan hidup menjadibangsa merdeka. Semangat tersebut oleh para pejuang kemerdekaan dihidupi tidak hanya dalam batas waktu tertentu, tetapi terus-menerus hingga kini dan masamendatang.Kebijakan pendidikan nasional di awal abad XX telah menciptakan inti darielite baru Indonesia yang terdiri dari para dokter, guru, dan pegawai sipil pemerintah.Bersamaan dengan itu, kebencian yang laten terhadap dominasi kolonial timbul diatas ambang kesadaran nasional. Berdirinya Boedi Oetomo (1908) menjadi tandakebangkitan nasionalisme Indonesia yang kemudian diikuti organisasi-organisasinasional lainnya.Jiwa nasionalisme kaum elite dari hari ke hari semakin meluas dan menguat dihati rakyat. Tekanan ekonomi yang teramat berat selama pendudukan Jepangmemperkuat semangat nasionalisme untuk mewujudkan Indonesia merdeka. Padakurun waktu 1945-1950, jiwa nasionalisme diperteguh oleh semangatmempertahankan kemerdekaan, serta persatuan dan kesatuan Indonesia yangdirongrong oleh perlawanan kedaerahan dari negara-negara boneka bentukanBelanda.Kini nasionalisme menghadapi tantangan besar dari pusaran peradaban barubernama globalisasi. Nasionalisme sebagai basic drive serta elan vital dari sebuahbangsa bernama Indonesia sedang diuji fleksibilitasnya, dalam arti kemampuan untuk berubah sehingga selalu akurat dalam menjawab tantangan zaman. Fleksibilitastidaklah mengurangi jiwa nasionalisme, justru sebaliknya, fleksibilitas menunjukkan
 
Versi file lengkapnya dalam Ms. Wordnya Bisa Di Ambil Di:
https://bisnisbook.wordpress.comhttp://ebookloe.wordpress.combegitu dalamnya nasionalisme mengakar sehingga dalam waktu bersamaan dia tetaphidup dan terus-menerus bermetamorfosis.Pusaran ekonomi global menendang nasionalisme jauh ke pinggiran.Nasionalisme menjadi tidak relevan lagi. Di masa lalu modal terkait erat denganrakyat. Dia memiliki tanggung jawab sosial untuk menghidupi seluruh anggotakomunitas (bangsa). Namun kini, privatisasi terus-menerus menyeret modal menjauhdari dimensi sosial atau komunitasnya. Demi keuntungan yang sebesar-besarnyamodal dengan cepat berlari (capital flight) ke (negara) mana pun yang disukainya.Globalisasi sebagai proses de-teritorialisasi tidak hanya menimbulkanpersoalan di bidang ekonomi, tetapi juga kebudayaan. Kebudayaan kerap dikaitkandengan teritori tertentu. Ruang membentuk identitas budaya. Ini berarti nasionalismeIndonesia pun dibangun oleh kebudayaan Indonesia yang berada dalam batas-batasgeografis tertentu. Itu pemahaman kebudayaan di masa lalu.Globalisasi sebagai proses de-teritorialisasi telah mengubah semua itu.Kebudayaan tidak lagi terkungkung dalam teritori tertentu. Kini tidak sedikit anak-anak muda Kota Kembang yang lebih terampil break dance daripada jaipongan; ataulebih mahir bermain band, daripada menabuh gamelan. Kita juga bisa menyaksikanorang barat yang menjadi dalang dan piawai memetik kecapi. Kita bisa menyaksikanibu-ibu yang setia berkebaya serta bapak-bapak yang bersarung atau berpeci, padawaktu bersamaan begitu menikmati fast food bermerek global. Kebudayaan telahmelepaskan diri dari keterikatannya pada nation-state. Kenyataan ini menghadapkannasionalisme dengan persoalan, manakah kebudayaan yang akan menjadi mediaberurat-akarnya nasionalisme?Bersamaan dengan proses de-teritorialisasi dan mengglobalnya kebudayaanterjadi gerak sebaliknya berupa pencarian identitas lokal yang semakin intensif.Proses mengglobal dan melokal janganlah dipandang sebagai penyakit ataukelainan dalam budaya masyarakat tetapi mesti diterima sebagai keutamaan hidupmanusia; semakin mengglobal semakin rindu akan identitas lokalnya. Gerak paradoks
 
Versi file lengkapnya dalam Ms. Wordnya Bisa Di Ambil Di:
https://bisnisbook.wordpress.comhttp://ebookloe.wordpress.comtersebut tampak jelas dalam bangkit dan menguatnya gerakan-gerakan etnis sertaagama. Nation-state menghadapi ancaman dari berbagai gerakan partikular sehinggamemicu domestic conflicts yang dapat membawa pada runtuhnya nation-state sepertiyang dialami oleh bekas negara Uni Soviet. Pada titik ini nasionalisme pundipertanyakan eksistensi dan relevansinya.Globalisasi bidang politik mendatangkan persoalan serupa atas nasionalisme.Globalisasi telah mereduksi pentingnya lingkup politik dari nation-state yangmerupakan basis bagi pembangunan sosial-politik. Peran nation-state menjadisubordinat karena diambilalih oleh lembaga-lembaga ekonomi transnasional. Jikaeksistensi nation-state terpinggirkan, halnya sama dengan nasionalisme, nasionalismemenjadi ideologi yang kedaluarsa.Dari perspektif ekonomi, budaya, dan politik global tampak bahwanasionalisme menghadapi tantangan yang sangat besar di tengah pusaran globalisasisaat ini. Apakah ini berarti nation-state tidak relevan lagi, yang berarti tidak relevanpula membicarakan nasionalisme? Fakta menunjukkan bahwa hingga saat inikewarganegaraan modern dengan berbagai hak sosial, politik, dan sipilnya tidaklahmelampaui batas-batas nasional. Meski kini berkembang berbagai komunitastransnasional, Uni Eropa misalnya, namun seseorang yang hendak menjadi anggotaterlebih dahulu mesti memperoleh kewarganegaraan dari salah satu negaraanggotanya. Ini berarti di tengah arus globalisasi, peran nation-state sertanasionalisme tetap relevan dan signifikan.Nasionalisme sebagai identitas bukanlah "kata benda" yang bentuk danwujudnya sudah jadi dan final. Nasionalisme merupakan "kata kerja", artinya diaadalah suatu projek yang mesti terus-menerus dikerjakan, dibangun, serta diberi dasardan makna baru pada setiap kesempatan. Proses kerjanya dijalani lewat public criticalrational discourse yang melibatkan seluruh bagian anak negeri sebagai yang sederajattanpa mengecualikan siapapun.

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Sin Ling Tan liked this
Ibe Santoso liked this
Fahmi Abdillah liked this
Eka Prasetiyo liked this
Eka Prasetiyo liked this
Bima Birru liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->