/  14
 
ANALISIS DARI SEGI HUKUM, AGAMA DAN MATEMATISTENTANGBISNIS “MONEY GAME” BERKEDOK M.L.M (MULTI LEVEL MARKETING)I. Pendahuluan.
Akhir-akhir ini dunia “bisnis” Indonesia kembali dihebohkan oleh kehadiran sebuahpeluang bisnis bertaraf Internasional yang didirikan di India, yang “menjual” voucherhotel dengan cara penjualan langsung (direct selling). Bisnis ini menjanjikan kekayaanyang melimpah dalam waktu singkat bagi para anggotanya yang saat mendaftar harusmengeluarkan uang sejumlah US$250 dengan janji keuntungan sebesar US$10,000,-secara periodik bila bisa “membangun” jaringan berdasarkan sistem yang ada.Ketika pertama kali saya mengetahui bisnis ini, sudah terlintas dalam pikiran sayabahwa ini adalah “money game” berkedok MLM dengan skema Piramida yang telahdinyatakan “Illegal” di banyak Negara seperti Malaysia, Italia, Australia, Amerika,Hungaria, China dan bahkan Federal Bureau of Investigation (FBI) pun juga telahmenyatakan bahwa “Pyramid Scheme” tersebut adalah Illegal.Setelah saya kumpulkan informasi-informasi melalui internet, saya temukan faktabahwa “pentolan” dari bisnis ini adalah orang yang sama dengan bisnis-bisnis serupayang sudah hilang pamornya dan telah menelantarkan para anggotanya yang beradadi level bawah sementara sang “pentolan” itu tentunya telah mengeruk kekayaanmilyaran rupiah. “Modus operandi” dalam meyakinkan calon anggotanya pun jugasama yaitu dengan merekrut pejabat atau istri/keluarga pejabat untuk bergabungdalam bisnis tersebut yang tentunya bertujuan untuk melegitimasi bahwa bisnistersebut adalah LEGAL.Korban money game atau skema piramid terus berjatuhan sampai sekarang. Dulu,sewaktu bisnis MLM sedang tumbuh mekar, money game dan skema piramid jugaikut marak. Korban berjatuhan di mana-mana, tidak saja di Indonesia, tapi juga diseluruh dunia, tak terkecuali di negara-negara maju sekalipun. Sekarang, ketikabanyak program investasi dan bisnis baru bermunculan, ternyata money game danskema piramid tetap saja ikutan marak.
 
 
2
Maka, bisa diduga bahwa money game dan skema piramid aslinya bisa mendomplengbisnis apa saja. Bukan hanya bisnis MLM, tapi modus operandinya bisa diaplikasikandi semua program bisnis. Asal prinsip gali lubang tutup lubang terpenuhi, dan asalprinsip mencari penghasilan utama dari merekrut dijalankan, maka berlakulah yangnamanya money game atau skema piramid.Ironisnya, kasus-kasus money game dan piramid yang merupakan suatu bentukbisnis penipuan ini sudah merasuk ke segala lapisan masyarakat. Mulai darimasyarakat yang berpendidikan terbawah sampai yang tertinggi, di daerah pedesaanhingga perkotaan. Bisnis ini juga bisa menghinggapi kalangan politisi, partai politik,aparat penegak hukum, birokrasi, pemerintahan daerah, pelajar dan mahasiswa,kalangan perguruan tinggi, sampai kalangan rohaniawan. Tak satu pun yang luputdari incaran money game dan skema piramid.Di sisi lain, kita tidak memiliki payung hukum berupa Undang-Undang Anti Moneygame dan Skema Piramid. Rancangan Undang-Undang yang diusulkan oleh APLIkepada pemerintah tidak terdengar lagi nasibnya. Lebih susah lagi, media massasebagai mitra masyarakat dalam memberikan informasi yang benar dan akurat, belum juga menunjukkan “giginya”. Yang sering kita temui adalah kesalahan pemberitaanmedia massa, yaitu menyamakan money game dan skema piramid dengan bisnisMLM yang murni dan legal.
II. Mengenal Pyramid Scheme/Skema Piramida.
Berikut ini adalah definisi dari “Pyramida Scheme” oleh FBI:
“Pyramid schemes, also referred to as franchise fraud, or chain referral schemes, are marketing and investment frauds in which an individual is offered a distributorship or franchise to market a particular product. The real profit is earned, not by the sale of the product, but by the sale of new distributorships.Emphasis on selling franchises rather than the product eventually leads to a point where the supply of potential investors is exhausted and the pyramid collapses. At the heart of each pyramid scheme there is typically a representation that new participants can recoup their original investments by inducing two or more prospects to make the same investment. Promoters fail to tell prospective participants that this is mathematically impossible for everyone to do, since some participants drop out, while others recoup their original investments and then drop out”.
 
 
3
Jadi, ciri khas utama dari Skema Piramida ini adalah tidak mengutamakan penjualanproduk untuk meraih income, namun lebih mengutamakan perekrutan anggota barudimana anggota lama disubsidi oleh anggota baru hingga akhirnya sampai ke levelpaling bawah dimana anggotanya akan mengalami kesulitan dan akhirnya system inimenjadi collapse/berhenti. Pyramid Scheme adalah system bisnis yang tidak “fair”yang menjanjikan “income” yang melimpah bagi para anggotanya hanya denganmencari anggota baru tanpa menjual sebuah produk nyata kepada public kalaupunada produk yang dijual itu hanya merupakan kedok/kamuflase untuk menyamarkanSkema Priramida tersebut (dikutip dari Wikipedia).Pyramid Scheme ini sudah ada sejak 1 abad yang lalu dan telah banyak berubah“modus operandi”-nya namun tetap dengan skema yang sama. Dalam skemapiramida ini hanya pendiri/founder bisnis yang bersangkutan (atau biasa disebutsebagai “pharaoh/fir’aun”) dan orang-orang pada level atas yang bisa menikmati“kekayaan” melimpah, sedangkan para pengikut atau “follower” pada level palingbawah yang nantinya pasti akan mengalami kesulitan dalam merekrut anggota baruakan mengalami kerugian atau defisit.Apabila sang Fir’aun ini merasa bahwa Bisnis A misalnya sudah sampai kepada titikterbawah dimana para anggota level terbawah makin kesulitan dalam mencarianggota baru, maka dengan santainya si Fir’aun ini me-restart atau memulai usahabarunya dalam mengeruk uang para pecandu MLM dengan membangun usaha barumelalui Perusahaan B, C dan seterusnya dengan system yang sama, SkemaPiramida dan tentunya dengan pengikut orang-orang lama pula yang sudah “terjerat”oleh “lingkaran setan” sejak bergabung pada Perusahaan A.Untuk menyamarkan “modus operandi” skema piramida ini, biasanya disertai denganadanya produk yang dijual yang harganya jauh di atas harga pasaran untuk produkserupa dengan merk berbeda (terkadang produk yang beredar bebas di pasaran yanglebih murah harganya malahan lebih baik mutunya dibandingkan dengan yang dijualmelalui MLM tersebut) dan bahkan terkadang para “upline” mengajak para “downline”-nya untuk tidak mengutamakan jualan produk atau mengesampingkan fungsi/manfaatproduk yang didapat oleh anggota baru setelah membayar biaya yang “tidak sedikit”,

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...