2
Maka, bisa diduga bahwa money game dan skema piramid aslinya bisa mendomplengbisnis apa saja. Bukan hanya bisnis MLM, tapi modus operandinya bisa diaplikasikandi semua program bisnis. Asal prinsip gali lubang tutup lubang terpenuhi, dan asalprinsip mencari penghasilan utama dari merekrut dijalankan, maka berlakulah yangnamanya money game atau skema piramid.Ironisnya, kasus-kasus money game dan piramid yang merupakan suatu bentukbisnis penipuan ini sudah merasuk ke segala lapisan masyarakat. Mulai darimasyarakat yang berpendidikan terbawah sampai yang tertinggi, di daerah pedesaanhingga perkotaan. Bisnis ini juga bisa menghinggapi kalangan politisi, partai politik,aparat penegak hukum, birokrasi, pemerintahan daerah, pelajar dan mahasiswa,kalangan perguruan tinggi, sampai kalangan rohaniawan. Tak satu pun yang luputdari incaran money game dan skema piramid.Di sisi lain, kita tidak memiliki payung hukum berupa Undang-Undang Anti Moneygame dan Skema Piramid. Rancangan Undang-Undang yang diusulkan oleh APLIkepada pemerintah tidak terdengar lagi nasibnya. Lebih susah lagi, media massasebagai mitra masyarakat dalam memberikan informasi yang benar dan akurat, belum juga menunjukkan “giginya”. Yang sering kita temui adalah kesalahan pemberitaanmedia massa, yaitu menyamakan money game dan skema piramid dengan bisnisMLM yang murni dan legal.
II. Mengenal Pyramid Scheme/Skema Piramida.
Berikut ini adalah definisi dari “Pyramida Scheme” oleh FBI:
“Pyramid schemes, also referred to as franchise fraud, or chain referral schemes, are marketing and investment frauds in which an individual is offered a distributorship or franchise to market a particular product. The real profit is earned, not by the sale of the product, but by the sale of new distributorships.Emphasis on selling franchises rather than the product eventually leads to a point where the supply of potential investors is exhausted and the pyramid collapses. At the heart of each pyramid scheme there is typically a representation that new participants can recoup their original investments by inducing two or more prospects to make the same investment. Promoters fail to tell prospective participants that this is mathematically impossible for everyone to do, since some participants drop out, while others recoup their original investments and then drop out”.
Add a Comment