Kawan, b
o
lehkah aku mengeluh? Mencurahkan isi hati ini, yang sedang gelisah, gundah-gulanah, sejak di kelas sampai di jalan tadi. B
o
leh kah kawan? Kalau tak b
o
leh aku kanmemaksanya, kawan. Dengar, dengarlah ini kawan.Mengapa di kampung tak ada lagi pemuda, apakah mereka telah dijadikan kaum r
o
mushaatau r
o
di? Ku Tanya bunda, ke k
o
ta jawabnya. Tapi kawan, apa yang dilakukan mereka?Apa? Kutanya bunda, bekerja, katanya. Apa kerjanya? Kuli, jawabnya. Kawan aku sedihmelihat pemuda bertelanjang kaki bertelanjang dada tadi, di jalan. Aku sedih melihat si butadan si bisu, dan si cacat berkaki satu. Bermusafir ke negeri riuh yang jauh, mengadu nasibberkuli diri, kawan.
S
edih, pedih hati ini kawan. Meminta, mengiba, merengek, sudah jadipr
o
fesi. Ingat, mengemis jadi PROFE
S
I. Para akademisi sibuk mengejar m
o
derenisme,menanggalkan kekun
o
an, mengganti baju dengan westernis. Kalaulah ada yang berhasilbert
o
ga, angka-angka dan ter
o
ti para pemikir yang dipelajarinya, tak dapat dipakainya untukbertahan hidup. Wahai kaum pintar para penguasa, t
o
l
o
ng jelaskan padaku. Obatikegelisahan, kegundahan hati ini, biar aku bisa tidur dengan tenang, beristirahat dengannyaman.Tubuh ini, kian lesu, namun tak dapat ku pejamkan mata ini. Entah lah, mungkin aku terlaluberpikran memikirkan mereka, padahal mungkin tak pantas aku memikirkannya.
S
udahlah,biar mata ini terpejam sendiri, tubuh ini tertelungkup sendiri, tak perlu risaukan apapun.
Add a Comment