/  4
 
Cerpen
Keluhku Sore Ini
(oleh Wawan Sumrwan)
So
re ini, jam tangan digitalku menunjukkan pukul 18.50. Di luar, garis-garis sinar matahariterlihat mulai pudar. Udara di ruangan ini masih terasa panas, karena sepanjang hari tadimatahari tersenyum lebar tanpa setetes air pun yang menghalanginya. Aku sudah mulaikahabisan fikir, meng
o
tak-atik te
o
ri-te
o
ri statistic yang aku ingat, memutar balik ingatansaat aku berada di ruang kelas menatap papan kelas yang berisi angka-angka dan gambar-gambar yang lebih menyerupai m
o
bil-m
o
bilan buatan anak TK, ingatanku mel
o
mpat melirikke bapak d
o
sen statistik yang berkumis tebal dan berp
o
stur tinggi kurus, kalau aku b
o
leh jujur mirip v
o
kalis grup music
S
t
o
ne. Tak dapat ku temukan di kelas, lalu aku terbang keingatan pada saat membuka buku-buku statistic yang tebalnya membuat aku ingin muntah.Lima menit lagi, waktu habis!, suara pengawas, memecahkan suasana hening danmencairkan kepalaku yang membeku. O
o
h aku tau isinyabisik hatiku. Mulai tangan inimemainkan peranannya, menggaris, membuat angka-angka, mengaris lagi, membuat angkalagi, terus-dan terus. Lalu selesai.
S
ebelum tangan pengawas mengambil paksa lembar jawabanku, secara ksatria dan penuhpercaya diri aku s
o
d
o
rkan lembar jawaban tepat di mukanya. Liat tu gambar m
o
bil-m
o
bilanyang dibuat dari angka 6, garis miring, angka 7, garis bawah, dan angka satu, bisik hatiku.Terlihat keningnya mengkerut, ketika melihat lembaran yang diberikan, sebelum dia
 
menatapku, aku sudah menghilang, senyuman kecil dibibirku jelas melambangkankeb
o
d
o
han yang luar biasa. Namun anehnya, aku merasa bahagia.Wah, kalaulah semua mahasiswa di negeri ini kemampuannya seperti aku ini, sudah barangtentu para k
o
mpeni atau kaum sipit akan kembali menjajah. Namun itulah hidup, kawan ,ada
o
rang kaya namun ada juga
o
rang miskin, ada
o
rang pintar dan ada juga
o
rang yangb
o
d
o
h, semuanya saling berhubungan dan saling membutuhkan.
S
imbi
o
sis mutualisme apaparasitisme? Entahlah. Tak salah juga para
o
rang pintar c
o
ba menghibur
o
rang-
o
rang sepertiaku ini, bahwa kecerdasan itu dibagi pada beberapa bagian, yatiu kecerdasan pikiran aliasIQ, kecerdasan em
o
si alias EQ, dan kecerdasan spiritual atau
S
Q, dan sudah jadi k
o
dratmanusia tak ada dari ketiganya ini sempurna. Ingatlah itu, kawan. Memang, suara
S
angM
o
tivat
o
r itu masih membekas di ingatanku.
S
elepas s
o
lat Magrib, kembali meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Ingin rasanya tubuhini segera merebah, menghilangkan kepenatan yang sepanjang hari tadi sangat menyiksaku.Namun laju angk
o
t, ternyata tak begitu, suaranya seakan berbunyi seruan jihad yangmenggel
o
ra bersemangat, s
o
pir terlihat kalem menginjak pedal gas atau mungkin lupa yangmena rem atau gas. Ternyata kesabaran memang akan terus diuji, sampai kapanpun, selagihayat di kandung badan. Kaum buruh bersepatu sampai bertelanjang kaki, berl
o
mbamengejar mimpi-mimpi mereka, menyusuri keramaian k
o
ta yang tak pernah hening denganangan-angan kaum urban, tak pernah ramai
o
leh kaum-kaum pintar cerdik-cendikia, sampaikini.
 
 Kawan, b
o
lehkah aku mengeluh? Mencurahkan isi hati ini, yang sedang gelisah, gundah-gulanah, sejak di kelas sampai di jalan tadi. B
o
leh kah kawan? Kalau tak b
o
leh aku kanmemaksanya, kawan. Dengar, dengarlah ini kawan.Mengapa di kampung tak ada lagi pemuda, apakah mereka telah dijadikan kaum r
o
mushaatau r
o
di? Ku Tanya bunda, ke k
o
ta jawabnya. Tapi kawan, apa yang dilakukan mereka?Apa? Kutanya bunda, bekerja, katanya. Apa kerjanya? Kuli, jawabnya. Kawan aku sedihmelihat pemuda bertelanjang kaki bertelanjang dada tadi, di jalan. Aku sedih melihat si butadan si bisu, dan si cacat berkaki satu. Bermusafir ke negeri riuh yang jauh, mengadu nasibberkuli diri, kawan.
S
edih, pedih hati ini kawan. Meminta, mengiba, merengek, sudah jadipr
o
fesi. Ingat, mengemis jadi PROFE
S
I. Para akademisi sibuk mengejar m
o
derenisme,menanggalkan kekun
o
an, mengganti baju dengan westernis. Kalaulah ada yang berhasilbert
o
ga, angka-angka dan ter
o
ti para pemikir yang dipelajarinya, tak dapat dipakainya untukbertahan hidup. Wahai kaum pintar para penguasa, t
o
l
o
ng jelaskan padaku. Obatikegelisahan, kegundahan hati ini, biar aku bisa tidur dengan tenang, beristirahat dengannyaman.Tubuh ini, kian lesu, namun tak dapat ku pejamkan mata ini. Entah lah, mungkin aku terlaluberpikran memikirkan mereka, padahal mungkin tak pantas aku memikirkannya.
S
udahlah,biar mata ini terpejam sendiri, tubuh ini tertelungkup sendiri, tak perlu risaukan apapun.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...