/  11
 
Ketegangan Teologi dan Filsafat
(Pergumulan Rasionalisme dalam Islam)Dikutp dari buku
WACANA BARU FILSAFAT ISLAM
Penerbit, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 2004Penulis, A Khudori SolehHal. 20-36Para pemikir muslim sepakat bahwa kekuatan akal ataurasionalisme sangat diperlukan dalam kajian-kajian keagamaan.Namun, sampai sejauh mana kemampuan rasio bisa diikuti dandipakai, inilah yang menjadi persoalan. Sebagian menyatakanbahwa rasio mesti ditempatkan dibawah wahyu, sebaliknyasebagian lain menganggap bahwa rasio saja telah cukup untukmembimbing manusia dalam mengenal kebenaran dan Tuhan,wahyu diperlukan hanya sebagai justifikasi penemuan akal. Tulisan ini pertama membahas akar-akar rasionalisme dalamIslam kemudian ketegangan yang terjadi antara teologi Islam(
ilm al-kalâm
) dengan filsafat, dua aliran pemikiran dalam Islamyang sama-sama menggunakan kekuatan rasio.
A. Akar Rasionalisme Islam.
Ketika dikatakan bahwa pemikiran rasional Islam tidakbersumber dari filsafat Yunani, tetapi benar-benar berdasar padaajaran-ajaran pokok Islam sendiri seperti disampaikan OliverLeaman, Louis Gardet, dan al-Jabiri,
1
muncul pertanyaanbagaimana dari pokok-pokok ajaran Islam, Al-Qur’an yang globaldan tidak mengajarkan tata berfikir secara rinci bisa melahirkansistem berfikir yang baik dan rasional?Menurut Lauis Gardet dan Anawati,
2
kemunculan sistemberfikir rasional dalam Islam,
 pertama
, didorong oleh munculnyamazhab-mazhab bahasa (
nahw
) lantaran adanya kebutuhanuntuk bisa memahami ajaran al-Qur’an dengan baik dan benar.Harus difahami, meski al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab,tetapi tidak semua lafat-lafatnya bisa dengan mudah difahamioleh orang-orang arab sendiri saat itu. Sejak khulafa’ al-Rasyidinsudah dirasakan adanya kebutuhan akan tafsir dan carapembacaan yang ‘benar’. Dengan semakin banyaknya orang
1
Lihat Oliver Leaman,
 Pengantar Filsafat Islam
, terj. HM Amin Abdullah, (Jakarta,Rajawali Press, 1989), 8; Louis Gardet,
 Falsafat al-Fikr al-Dîni, II 
, terj. Subhi Saleh dan FaridJabr, (Bairut, Dar al-Ulum, 1978), 77; al-Jabiri,
Takwîn al-Aql l-Arabi
, (Markaz al-¢aqafi al-Arabi,1991), 57.
2
Lihat Louis Gardet dan Anawati,
Falsafat al-Fikr al-Dîni, I 
, 64 dan seterusnya. Lihat pula pada Machasin,
 Kelahiran dan Pertumbuhan Ilmu Teologi
, makalah pengantar pada matakuliah studi ilmu teologi, pada semester I program pascasarjana IAIN Yogya, 1997, tidak diterbitkan.
 
 Historis/Ketegangan Teologi-Filsafat 
non-arab yang masuk Islam, kebutuhan tersebut semakin besardan mendesak, dan ketika pengetahuan keagamaan mulai didengungkan, orang-orangpun semakin merasa perlu akanadanya pembakuan aturan kebahasaan yang memungkinkanorang untuk membaca al-Qur’an secara benar, disamping untukmengetahui kemukjizatan al-Qur’an dari segi bahasanya.Sehubungan dengan hal itu, muncul tiga mazhab nahwu.Pertama, mazhab Basrah. Mazhab ini mempunyai kecenderunganuntuk menegakkan koordinasi rasional terhadap bahasa. Mereka juga membuat aturan-aturan umum dan menganggap tidakbenar segala penyimpangan yang dilakukan terhadap aturanyang diciptakannya. Menurut sebagian orang, seperti sumber-sumber dari Syiah, mazhab ini dibangun oleh Abu Aswad al-Duwali, atas nasehat Imam Ali ibn Abu Thalib ra (w. 661 M). Akantetapi, sumber-sumber lain yang lebih menyakinkan menyatakanbahwa mazhab ini dibangun oleh Isa ibn `Umar al-Tsaqafi (w. 766M). Tokoh utamanya saat itu adalah Khalil, kemudian muridnya;Sibawaih (w. 793 M). Menyusul kemudian al-Asma`i (w. 830 M)dan Abu `Ubaidah (825 M) yang sangat terkenal pada masaHarun al-Rasyid (785-809 M), lalu al-Mubarrad (w. 898 M), al-Sukari (w. 888 M) dan Ibn Duraid (w. 934 M).
3
Kedua, mazhabKufah yang merupakan tandingan dari mazhab Basrah yangdidirikan oleh al-Rasai, beberapa tahun kemudian. Berbedadengan mazhab Basrah yang bersandar pada sosiologi bahasa(
sima`i),
mazhab Kufah lebih menekankan prinsip universallinguistik sehingga lebih bebas dalam menerima aturan yangberbeda-beda. Bahkan, bila perlu, bisa bersandar padapemakaian-pemakaian yang tidak lazim untuk membuat aturanbaru. Tokohnya yang penting adalah al-Mufadlal al-Dlabbi (w. 876M), al-Kisai (w. 805 M), al-Farra (w. 822 M), Ibn al-Sikkait (w. 858M) dan Tsa’lab (w. 904 M).
4
Ketiga, mazhab Baghdad. Iniberusaha merukunkan persaingan keras diantara kedua mazhabdiatas dengan cara menggabungkan dua kecenderungan yangketat dan longgar diantaranya. Tokoh utamanya adalah IbnQutaibah (w. 889 M).Perdebatan antara mazhab-mazhab nahwu ini mempunyaipengaruh cukup besar dalam pembacaan al-Qur’an yang padagilirannya, nahwu yang dielaborasi dengan cermat membuka --bagi para pelaku perdebatan teologi saat itu-- suatu bingkai,kategori-kategori suatu kosa kata yang memberikan catatan khaspada teologi atau pemikiran rasional.
Kedua
, muncul mazhab-mazhab fiqh. Pada zamanshahabat, apalagi ketika Rasul masih hidup, persoalan-persoalan
3
Gardet dan Anawati,
Falsafat al-Fikr al-Dîni, I 
, 70. Ahmad Amin,
 Dhuhâ al-Islâm, II 
,((Kairo, Dar al-Fikr al-Arabi, 1936), 298.
4
 
 Ibid,
305; Lihat pula Gardet,
 Falsafat al-Fikr 
, 71.2
 
 Historis/Ketegangan Teologi-Filsafat 
hukum (fiqh) relatif mudah dipecahkan. Disamping wilayahnegeri Islam belum luas dan masyarakatnya masih relatif seragam, persoalan-persoalan yang muncul saat itu juga masihrelatif sederhana. Masih bisa langsung dirujukkan pada al-Qur’an,Sunnah ataupun kebiasaan yang ada pada zaman sahabat. Akantetapi, ketika para sahabat sudah tidak ada, ketika wilayah Islamtelah demikian luas dan masyarakat yang beraneka ragambudaya dan adatnya masuk Islam, persoalan yang muncul tidaklagi sesederhana masa-masa sebelumnya. Persoalan yang adatidak bisa lagi di pecahkan secara langsung dengan al-Qur’anmaupun Sunnah. Muncullah pemikiran baru dalam bidang hukumyang akhirnya melahirkan mazhab-mazhab fiqh, apalagi,waktunya memang sangat kondusif dan mendukung. Saat itu,Bani Abbas hendak menerapkan hukum-hukum Islam secaraketat, dalam tata kehidupan sehari-hari. Maka, lahirlah kodifikasihukum-hukum Islam. Antara lain, yang masih ada dan diikutimasyarakat sampai sekarang; mazhab Malik (716-796 M) yangmempertahankan tradisi namun tetap menerima penafsiranpribadi dalam apa yang disebut
istishlâh.
Mazhab Abu Hanifah(699-767 M) pendukung ra’y dan qiyas, yang kalau perludibenarkan dengan
istihsân.
Mazhab Syafi`i (767- 820 M) yangmemperluas tradisi Madinah yang dipakai Malik menjadi ijma`,seraya menolak ra’y; baik yang berupa
istishlâh
maupun
istihsân
.Mazhab Ibn Hanbal (780-855 M) yang hanya menerima sumberSunnah yang telah disaring dengan ketat. Yang perlu dicatat dalam pertumbuhan dan perkembanganmazhab-mazhab fiqh ini --dalam kaitannya dengan pemikiranrasional-- adalah tempat yang diduduki logika dalam perdebatan-perdebatan fiqhiyah, setidaknya pada lingkungan merekapendukung ra’y.
5
Walau logika terpusat pada qiyas dan masihsangat sederhana, akan tetapi maknanya cukup besar dalamperkembangan pemikiran rasional. Sering terjadi, sebelummenjadi seorang teolog atau filosof, yang bersangkutan adalah
fâqih
(ahli hukum). Ia sudah mempunyai pengalaman yang cukupbanyak tentang metode perdebatan, sehingga ketikamenghadapi persoalan teologis atau filsafat, kebiasaan untukmendekatinya dengan metode perdebatan berlangsung begitusaja.
6
Ketiga
, penterjemahan buku-buku Yunani kuno. Usahaperterjemahan buku-buku ini, terutama filsafat Aristoteles (384-322 SM), sebenarnya telah dilakukan sejak zaman BaniUmayyah, tetapi usaha ini baru benar-benar dilakukan secaraserius dan besar-besaran pada masa Bani Abbas awal, yakni
5
Gardet,
 Ibid 
, 74, Lihat pula Mustafa Abd al-Raziq,
Tamhîd li Târîkh al-Falsafat al- Islâmiyah
, (Kairo, Lajnah al-Taklif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr, 1959), 203-213.
6
Gardet dan Anawati,
Falsafat al-Fikr,
71.3

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...