Hubunga pemerinta pusat dan daerah bukanlah permasalahan yang baru di indonesia akan tetapiproblem masalalu yang hingga saat ini belum terselesaikan, meskipun waktu yang lebih dari cukuptelah terlewati akan tetapi bukan berarti tidak ada usaha sama sekali dalam menangani masalahtersebut. Telah banyak usaha yang dilakukan pemerinta walhasil sampai saat ini belum kunjungterselasaikan, permasalahan hubungan antara pemerintah pusat dan daerah telah banyak undang-undang yang mengatur sampai saat ini ternyata tidak kunjung terselesaikan juga, pemerintahan yangsentralistik maupun pemerintahan yang demokratis telah di praktekkan di negri ini yang tentunyamelahirkan berbagai pandangan dan penilaian masing-masing. Seperti adanya anggapan bahwaPemerintaha yang sentralistik dinilai mambuat masyarakat menjadi apolitis.Pada beberapa titik wilayah yang ada di indonesia begitu banyak yang menyuarakan aspirasidaerahnya, sehingga tuntutan masyarakat tentang pemekaran wilaya yang sangat luar biasa terjadi dibeberapa daerah, atasnama memperjuangkan aspirasi rakyat, kemudahan administrasi yang hendakdi perjuangkan hingga saat ini adanya upaya pemerintah mengevaluasi beberapa daerah hasilepemekaran. Dalam fenomena tersebut bahwa ternyata Hal menarik lainya yang dapat kita saksikan,sebagai dampak dari otonomi daerah dan terjadinya pemekaran wilayah di berbagai daerah yaitupada pembagian wilayah yang ada di indonesia bukanlah pembagian administratif tapi pembagianklaster poliitik, pada dasarya pemekaran wilayah yang terjadi di berbagai daerah yang ada diindonesia semangatnya telah berubah denga derajat yang sangat tinggi, diman pada setiappemekaran yang ada bukan lagi terletak pada aspek administrasi, tapi pada semangat suku. Dapatdiliha pada penyelenggaraan pemerintahan yang ada di berbagai wilaya di indonesia. Wawan mas’udidalam hal ini mencontohkan pemerintahan antara yogyakarta dan Jawatengah. Kalau di sulawesitengah dapat diliha pada kasus yang terjadi di kabupaten bungku dan kolonedale kabupatenmorowali.Jikalau pembagian dengan di dasarkan pada admionistratif, maka dapat dipastikan sangat banyakdaerah yang tidak layak atau tidak memenuhi untuk menjadi suatu daerah yang otonom, kondisidemikianlah yang terjadi di indonesia saat ini, Dalam pemerkaran wilayah yang ada di indonesia adasebenarnya ada unsur politk didalamnya, pemekaran daerah yang ada tidak lagi terletak padasubstansinya, banyaknya tantangan yang di hadapi dalam penyelenggaraan otonomi daerah tentunyamembutuhkan perhatian pemerintah dalam hal tersebut, bebrapa kabar terdengar pada akhir-akhirini bahwa otonomi daerah akan di evaluasi, respon pemerintah tersebut dengan melakukanpembentukan evaluasi terhadap pelaksanaanya, dan kabar terakhir yang kita dengarkan bahwa timtersebut telah terbentuk seperti yang diberitakan pada, (
kompas)
sabtu 09 januari 2010.Pemerintahan yang sentralistik dinilai berbenturan dengan karakteristik yang ada di daerah, disetiap daerah yang ada di indonesi memiliki karakter yang berbeda, baik daris segi potensi wilyah yang ada di indonesia maupun dari segi kultur yang ada di masyarakat sehingga sangat dimungkingkanterjadinya perbedaan kebutuhan yang ada di daerah sehingga ada yang beranggapan bahwapemerintahan yang ada di daerah seharusnya memperhatikan kearifan lokal yang ada di daerah,sehinggga dalam pembangunan yang ada karakter daerah tetap dipertahankan, disamping itukebijakan yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang ada di daerah, terlebihdengan kondisi indonesia yang plural. Disamping itu ada anggapan bahwa bahwa untuk membangunnegara menjadi maju pemerintahan yang sentralistik juga bisa mewujudkanya, wawan mas’udimemberikan gambaran Di eropa dengan pemerintahan sentralistik juga manjadi negara maju akan