daya tahan tubuh lemah sehingga bayi mudah terkena infeksi, oleh karena itu pengetahuan kesehatan bagi ibu sangatlah penting dan memilih makanan yang sehat bagi bayi merupakan kunci baik tidaknya status gizi bayi (pudjiadi, 1997).Menurut Almatsier (2001) status gizi bayi merupakan hasil dari keseimbanganantara asupan gizi dengan kebutuhan gizi. Dilihat dari kebutuhan gizi, kematanganfisiologis, dan keamanan imunologis, pemberian makanan selain Air Susu Ibu (ASI)sebelum bayi berusia 4 bulan adalah tidak perlu dan juga dapat membahayakan.Kerugian dan resiko apabila makanan pelengkap diberikan terlalu dini dapatmengganggu perilaku dalam pemberian makanan bayi, pengurangan produksi ASI, penurunan absorpsi besi dari ASI, meningkatnya resiko infeksi dan alergi pada bayi,dan meningkat pula resiko terjadinya kehamilan baru. Di samping itu juga dapatterjadi pula resiko terhadap defisit air yang akan menyebabkan
hiperosmolaritas
dan
hipernatremia
, yang pada kasus-kasus ekstrim dapat menyebabkan terjadinya letargi,kejang-kejang, dan bahkan kerusakan yang menetap pada otak (Akre, 1994).Bayi yang tidak mendapatkan ASI kemungkinan akan mengalami gangguan pertumbuhan yang dimulai ketika bayi berusia 2–3 bulan, yang merupakanmanifestasi gangguan gizi bayi. Gangguan gizi bayi merupakan faktor signifikanterhadap kematian bayi (WHO, 1996). Bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif,
mortalitas
dan
morbiditas
nya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bayi yangmendapat susu formula. Menurut laporan WHO (2000) pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama terbukti menurunkan angka kematian 1,5 juta bayi pertahun(www. google.com, 2002), sedangkan angka kesakitan untuk bayi yang tidak diberi2