mencegah penyakit ISPA. Sedangkan “penyakit pneumonia membunuh sangatcepat kecuali jika mendapat pertolongan medis” (Arthag, 1992).Kejadian ISPA terkait erat dengan pengetahuan tentang ISPA yangdimiliki oleh masyarakat khususnya ibu, karena “ibu sebagai penanggungjawabutama dalam pemeliharaan kesejahteraan keluarga. Mereka mengurus rumahtangga, menyiapkan keperluan rumah tangga, merawat keluarga yang sakit, danlain sebagainya. Pada masa balita dimana balita masih sangat tergantung kepadaibunya, sangatlah jelas peranan ibu dalam menentukan kualitas kesejahteraananaknya” (Nadesul, 2002). Karena itu sangatlah diperlukan adanya penyebaraninformasi kepada masyarakat mengenai ISPA agar masyarakat khususnya ibudapat menyikapi lebih dini segala hal – hal yang berkaitan dengan ISPA itusendiri.Selain itu program P2ISPA yang dilakukan oleh Depkes sendirimengupayakan agar istilah ISPA lebih dikenal di masyarakat melalui berbagaikegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi lainnya.Penyakit ISPA masih menjadi urutan pertama 10 penyakit terbesar dibeberapa Puskesmas di Indonesia. Hasil SKRT tahun 1997 penyakit ISPAmenempati urutan teratas sebagai penyebab utama kematian pada anak berumur dibawah 1 tahun (36,4%).Kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama ISPA di Indonesia pada akhir tahun 2000 sebanyak lima kasus diantara 1.000 bayi / balita. Berarti,akibat pneumonia, sebanyak 150.000 bayi / balita meninggal tiap tahun atau2