Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aborsi Menurut Hukum Di Indonesia

Aborsi Menurut Hukum Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 811|Likes:
Published by Agung Bachrudin

More info:

Published by: Agung Bachrudin on Jan 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/13/2012

pdf

text

original

 
Aborsi Menurut Hukum di Indonesia
 Billy N. <
billy@hukum-kesehatan.web.id 
>
 Aborsi merupakan salah satu topik yang selalu hangat & menjadi perbincangan di berbagaikalangan masyarakat, di banyak tempat & di berbagai negara, baik itu di dalam forum resmimaupun forum-forum non-formal lainnya. Sebenarnya, masalah ini sudah banyak terjadi sejak zaman dahulu, di mana dalam penanganan aborsi, cara-cara yang digunakan meliputi cara-carayang sesuai dengan protokol medis maupun cara-cara tradisional, yang dilakukan oleh dokter, bidan maupun dukun beranak, baik di kota-kota besar maupun di daerah terpencil.Pertentangan moral & agama merupakan masalah terbesar yang sampai sekarang masihmempersulit adanya kesepakatan tentang kebijakan penanggulangan masalah aborsi. Oleh karenaitu, aborsi yang ilegal & tidak sesuai dengan cara-cara medis masih tetap berjalan & tetapmerupakan masalah besar yang masih mengancam perempuan dalam masa reproduksi.Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, baik teknologi maupun hukum sampai saat ini, paradokter kini harus berhadapan dengan adanya hak otonomi pasien. Dalam hak otonomi ini, pasien berhak menentukan sendiri tindakan apa yang hendak dilakukan dokter terhadap dirinya, maupun berhak menolaknya. Sedangkan jika tidak puas, maka pasien akan berupaya untuk menuntutganti rugi atas dasar kelalaian yang dilakukan dokter tersebut. Timbulnya berbagai pembicaraan& undang-undang soal hak otonomi perempuan membuat hak atas diri sendiri ini memasuki areawacana soal aborsi, atau penentuan dari pihak perempuan yang merasa berhak juga untuk menentukan nasibnya sendiri terhadap adanya kehamilan yang tidak diinginkannya. Namun, biladilihat dari sisi para pelaku pelayanan kesehatan ini, seorang dokter pada waktu lulus, sudah bersumpah untuk akan tetap selalu menghormati setiap kehidupan insani mulai dari saat pembuahan sampai saat meninggal. Karenanya, tindakan aborsi ini sangat bertentangan dengansumpah dokter sebagai pihak yang selalu menjadi pelaku utama (selain para tenaga kesehatan baik formal maupun non-formal lainnya) dalam hal tindakan aborsi ini. Pengguguran atau aborsidianggap suatu pelanggaran pidana.Sampai saat ini, di banyak negara masih banyak tanggapan yang berbeda-beda tentang aborsi.Para ahli agama, ahli kesehatan, ahli hukum, & ahli sosial-ekonomi memberikan pernyataanyang masing-masing ada yang bersifat menentang, abstain, bahkan mendukung. Para ahli agamamemandang bahwa apapun alasannya aborsi merupakan perbuatan yang bertentangan denganagama karena bersifat menghilangkan nyawa janin yang berarti melakukan pembunuhan,walaupun ada yang berpendapat bahwa nyawa janin belum ada sebelum 90 hari. Ahli kesehatansecara mutlak belum memberikan tanggapan yang pasti, secara samar-samar terlihat adanyakesepakatan bahwa aborsi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan penyebab, masa depananak serta alasan psikologis keluarga terutama ibu, asal dilakukan dengan cara-cara yangmemenuhi kondisi & syarat-syarat tertentu. Begitu juga dengan ahli sosial kemasyarakatan yangmempunyai pandangan yang tidak berbeda jauh dengan ahli kesehatan. Namun pada umumnya, para ahli-ahli tersebut menentang dilakukannya aborsi buatan, meskipun jika berhadapan denganmasalah kesehatan (keselamatan nyawa ibu) mereka dapat memahami dapat dilakukannya aborsi buatan. Dilihat dari adanya undang-undang yang diberlakukan di banyak negara, setiap negaramemiliki undang-undang yang melarang dilakukannya aborsi buatan meskipun pelarangannyatidak bersifat mutlak.Sampai saat ini praktik aborsi masih terus berlangsung, baik yang legal maupun yang ilegal.Bahkan menurut Azrul Azwar, sumbangan aborsi ilegal di Indonesia mencapai kurang lebih 50 persen dari angka kematian ibu (AKI), sementara angka kematian ibu di Indonesia (AKI) ini
 
adalah yang tertinggi di Asia.Adapun para penyebab dari kejadian aborsi ini antara lain adalah:1. Faktor ekonomi, di mana dari pihak pasangan suami isteri yang sudah tidak mau menambahanak lagi karena kesulitan biaya hidup, namun tidak memasang kontrasepsi, atau dapat jugakarena kontrasepsi yang gagal.2. Faktor penyakit herediter, di mana ternyata pada ibu hamil yang sudah melakukan pemeriksaan kehamilan mendapatkan kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya cacat secarafisik.3. Faktor psikologis, di mana pada para perempuan korban pemerkosaan yang hamil harusmenanggung akibatnya. Dapat juga menimpa para perempuan korban hasil hubungan saudarasedarah (incest), atau anak-anak perempuan oleh ayah kandung, ayah tiri ataupun anggotakeluarga dalam lingkup rumah tangganya.4. Faktor usia, di mana para pasangan muda-mudi yang masih muda yang masih belum dewasa& matang secara psikologis karena pihak perempuannya terlanjur hamil, harus membangun suatukeluarga yang prematur.5. Faktor penyakit ibu, di mana dalam perjalanan kehamilan ternyata berkembang menjadi pencetus, seperti penyakit pre-eklampsia atau eklampsia yang mengancam nyawa ibu.6. Faktor lainnya, seperti para pekerja seks komersial, µperempuan simpanan¶, pasangan yang belum menikah dengan kehidupan seks bebas atau pasangan yang salah satu/keduanya sudah bersuami/beristri (perselingkuhan) yang terlanjur hamil.Dari banyaknya penyebab permasalahan aborsi di atas, semua pihak dihadapkan pada adanya pertentangan baik secara moral & kemasyarakatan di satu sisi maupun dengan secara agama &hukum di lain sisi. Dari sisi moral & kemasyarakatan, sulit untuk membiarkan seorang ibu yangharus merawat kehamilan yang tidak diinginkan terutama karena hasil pemerkosaan, hasilhubungan seks komersial (dengan pekerja seks komersial) maupun ibu yang mengetahui bahwa janin yang dikandungnya mempunyai cacat fisik yang berat. Anak yang dilahirkan dalam kondisi& lingkungan seperti ini nantinya kemungkinan besar akan tersingkir dari kehidupan sosialkemasyarakatan yang normal, kurang mendapat perlindungan & kasih sayang yang seharusnyadidapatkan oleh anak yang tumbuh & besar dalam lingkungan yang wajar, & tidak tertutupkemungkinan akan menjadi sampah masyarakat.Di samping itu, banyak perempuan merasa mempunyai hak atas mengontrol tubuhnya sendiri. Disisi lain, dari segi ajaran agama, agama manapun tidak akan memperbolehkan manusiamelakukan tindakan penghentian kehamilan dengan alasan apapun. Sedangkan dari segi hukum,masih ada perdebatan-perdebatan & pertentangan dari yang pro & yang kontra soal persepsi atau pemahaman mengenai undang-undang yang ada sampai saat ini. Baik dari UU kesehatan, UU praktik kedokteran, kitab undang-undang hukum pidana (KUHP), UU penghapusan kekerasandalam rumah tangga (KDRT), & UU hak azasi manusia (HAM). Keadaan seperti di atas inilahdengan begitu banyak permasalahan yang kompleks yang membuat banyak timbul praktik aborsigelap, yang dilakukan baik oleh tenaga medis formal maupun tenaga medis informal. Baik yangsesuai dengan standar operasional medis maupun yang tidak, yang kemudian menimbulkankomplikasi ± komplikasi dari mulai ringan sampai yang menimbulkan kematian.Definisi dari aborsi sendiri adalah adanya perdarahan dari dalam rahim perempuan hamil dimana karena sesuatu sebab, maka kehamilan tersebut gugur & keluar dari dalam rahim bersamadengan darah, atau berakhirnya suatu kehamilan sebelum anak berusia 22 minggu atau belumdapat hidup di dunia luar. Biasanya disertai dengan rasa sakit di perut bawah seperti diremas-remas & perih. Aborsi dibagi lagi menjadi aborsi spontan yang terjadi akibat keadaan kondisi
 
fisik yang turun, ketidakseimbangan hormon didalam tubuh, kecelakaan, maupun sebab lainnya.Aborsi buatan, yang dibagi menjadi aborsi provokatus terapetikus (buatan legal) & aborsi provokatus kriminalis (buatan ilegal). aborsi provokatus terapetikus adalah penggugurankandungan yang dilakukan menurut syarat-syarat medis & cara yang dibenarkan oleh peraturan perundangan, biasanya karena alasan medis untuk menyelamatkan nyawa/mengobati ibu. Aborsi provokatus kriminalis adalah pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan/mengobati ibu, dilakukan oleh tenaga medis/non-medis yang tidak kompeten,serta tidak memenuhi syarat & cara-cara yang dibenarkan oleh peraturan perundangan. Biasanyadi dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Dari segi medis adapun tahapan-tahapan aborsi spontan adalah sebagai berikut:Aborsi iminens, yaitu adanya tanda-tanda perdarahan yang mengancam adanya aborsi, di mana janin sendiri belum terlepas dari rahim. Keadaan seperti masih dapat diselamatkan dengan pemberian obat hormonal serta istirahat total.Aborsi insipiens, yaitu aborsi yang sedang berlangsung, di mana terjadi perdarahan yang banyak disertai janin yang terlepas dari rahim. Jenis seperti ini biasanya janin sudah tidak dapat lagidiselamatkan.Aborsi inkomplitus, yaitu sudah terjadi pembukaan rahim, janin sudah terlepas & keluar daridalam rahim namun masih ada sisa plasenta yang menempel dalam rahim, & menimbulkan perdahan yang banyak sebelum akhirnya plasenta benar-benar keluar dari rahim. Pengobatannyaharus dilakukan kuretase untuk mengeluarkan sisa plasenta ini.Aborsi komplitus, yaitu aborsi di mana janin & plasenta sudah keluar secara lengkap dari dalamrahim, walaupun masih ada sisa-sisa perdarahan yang kadang masih memerlukan tindakankuretase untuk membersihkannya.Di Indonesia adapun ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan soal aborsi & penyebabnyadapat dilihat pada:KUHP Bab XIX Pasal 229,346 s/d 349:Pasal 229: Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang perempuan atau menyuruhnyasupaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan ituhamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.Pasal 346: Seorang perempuan yang dengan sengaja menggugurkan atau mematikankandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lamaempat tahun.Pasal 347:(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuantanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama duabelas tahun.(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama limabelas tahun.Pasal 348:(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuandengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam dengan pidana penjara tujuh tahun.Pasal 349: Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 & 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga & dapat dicabut hak 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->