Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengembangan Kepribadian; Cara Bicara

Pengembangan Kepribadian; Cara Bicara

Ratings: (0)|Views: 933 |Likes:
Published by rumahbianglala
You can boost your personality by the way you speak. Teguh Wahyu Utomo tell you how (in Bahasa Indonesia)
You can boost your personality by the way you speak. Teguh Wahyu Utomo tell you how (in Bahasa Indonesia)

More info:

Published by: rumahbianglala on Jan 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2012

pdf

text

original

 
Cara Berbicara
oleh; Teguh Wahyu Utomo(cilukbha@gmail.com)Salah satu bagian yang menyenangkan dari kepribadian seseorang adalahkemampuan untuk bisa berbicara dengan baik. Seseorang yang bisa mengekspresikan diridengan jelas dan tidak samar akan lebih unggul daripada yang tidak bisa. Pandai berbicara adalah salah satu anugerah besar terhadap orang-orang tertentu. Dengan bantuan kehebatan berbicara, seseorang bisa menemukan jalan yang jelas dalam semua bentuk situasi atau masalah. Yang lebih penting, lewat kata-kata yang tepat lah ia bisamerembeskan semua kepercayaan diri yang menjadi kunci semua kesuksesan. Bahkan,faktanya; kemampuan berbicara adalah kualitas yang paling menonjol yang bisa dicatatseseorang untuk membukakan jalan baginya menuju semua jenis kesuksesan dan dalamsemua bidang pekerjaan.Ada berbagai mode kemampuan berbicara. Ada orang yang gampang terseliplidah dan otaknya berputar-putar tak karuan saat berbicara dengan seseorang di ruangkecil atau saat hendak berbicara di ruang besar yang dihadiri banyak orang. Ada jugaorang yang tidak terlalu lancar dengan kata-kata tapi punya jenis ekspresi dan suara yangmemikat pendengarnya sehingga bisa memberikan kesan sangat kuat. Ada juga jenis- jenis lainnya.Meski ini bakat yang sudah terbawa sejak lahir, kemampuan berbicara ini bisa juga dikembangkan dengan menggunakan cara-cara latihan sistematis. Salah satu caradasar untuk belajar meningkatkan kualitas berbicara adalah latihan berbicara lebih jelasdan lebih efektif. Yang dimaksud efektif di sini bukanlah si orang yang berbicara bakalsegera melihat dampak dari pembicaraanya pada si pendengar saat pembicaraan berlangsung. Bahkan, kebiasaan menerawangkan mata untuk mencari tahu seberapa besar dampak pembicaraan itu pada pendengar justru akan berdampak lebih buruk bagiefektifitas pembicaraan itu sendiri. Berbicara efektif ini lebih berarti kita harus berbicaradengan cara sedemikian rupa sehingga pasti bisa menghasilkan suatu dampak tertentu.Cara berbicara semacam ini harus dilatih jika kita tidak dianugerahi bakat berbicaraefektif. Setelah bisa menguasai kemampuan berbicra seperti ini, kita segera lupakantentang dampaknya langsung pada pihak yang kita ajak bicara. Justru, kita harusmelanjutkan pembicaraan secara alami dalam bentuk obrolan, tanya-jawab, atau bahkan pidato tanpa berharap mendapatkan dampak langsung saat pembicaraan sedang berlangsung. Biasanya, dampak pembicaraan itu akan lebih terasa setelah pembicaraan berlangsung.
1. Pidato yang bagus
Kita semua tentu sudah sangat akrab apa yang dimaksud dengan cara pidato atauceramah yang bagus. Mari kita lihat gaya ceramah dai kondang. Ia berbicara di depan publik. Jumlah pendengarnya bisa kecil atau sangat besar tergantung pada kapasitasruang dan medianya. Hal yang menjadi perhitungan dai itu adalah bagaimana iamenyampaikan khotbah dengan penampilan paling mengesankan –selain isi dari
 
khotbahnya itu sendiri. Jika berhasil, ia akan memikat perhatian audiens lalumendapatkan
applause
dari siapa saja yang mendengarkan khotbahnya.Maculay menegaskan, semakin besar audiens atau publik berarti semakin bagushasilnya bagi seorang orator. Sebaliknya, bagi pembicara yang setengah-setengah,semakin besar publik berarti rasa cemasnya juga semakin besar. Ini artinya, pembicarasejati tidak takut pada besarnya jumlah pendengar. Seorang pembicara yang tanggungakan takut pada jumlah pendengar yang besar.Kualitas utama bagi pidato yang baik adalah para pendengar bisa menerima isi pesannya dengan baik. Semua pemikiran, ide, maupun sikap penentangan dari pihak  pendengar segera meleleh di hadapan arus kuat kata-kata yang dialirkan si pembicara.Aliran kata-kata itu bisa menyengat bagaikan listrik sehingga secara bertahap mengubah pandangan para pendengar yang berbeda menjadi sependapat dengan apa yangdisampaikan si pembicara. Masing-masing pendengar menjadi lupa ia sebelumnya punya pendapat yang berbeda. Atau, pendengar tak peduli lagi bahwa sebelumnya ia jengkelatas volume atau kecepatan suara si pembicara. Masing-masing pendengar merasa apayang diucapkan si pembicara adalah kebenaran sejati.Lalu, power bagaimana yang dipunyai pembicara semacam itu? Tentu saja powernya luar biasa. Pembicara semacam itu bisa menciptakan atau menghapus suatuisu, bisa menyuntikkan doktrin jauh ke dalam benak si pendengar, dan sejenisnya. Andai(sekali lagi, andai) pembicara sekaliber ini ingin menyakiti pendengarnya, ia akan bisadengan mudah melakukannya lewat kata-kata. Kalau untuk kebaikan pendengar, ia bisamengajarkan cara-cara baru, disiplin baru, kepatuhan, dan kesetiaan untuk menghasilkanmanfaat sebesar-besarnya.Orang secara umum akan menyukai pembicara yang baik ini. Mereka akanmerasa si pembicara ini tidak sekadar ingin menciptakan nama baik bagi diri sendiri tapimemiliki sesuatu yang diperjuangkan untuk orang banyak. Ia menginginkan hal-hal yang baik bagi khalayak ramai dan bukannya sekadar mencari nama baik untuk diri sendiri. Iamenyampaikan sesuatu yang brilian dan tujuan kejayaan di dalam kehidupan dan bahkansesudah hidup. Ia akan melihat dirinya sekadar alat atau suatu cara bagi suatu tujuan yanglebih besar. Hal utama yang ia buru adalah membangkitkan masyarkaat agar  berpartisipasi aktif dan memetik hasil, bukannya menjerumuskan mereka ke dalam perbudakan atau jeratan.Saat pembicara sekaliber ini sudah angkat bicara, ia bakal meleburkan diri sendiri.Dalam kondisi sudah kehilangan diri sendiri ini, ia seolah-olah bukan lagi manusia, bukan lagi pembicara, tapi hanya penyampai pesan dari sesuatu yang jauh lebih besar danagung. Pembicara seperti ini bisa menjadi pemimpin sejati.
 Applause
dan dukungan yangia terima sifatnya seragam dan abadi terhadap kepribadiannya.Selain dalam khalayak yang lebih besar, kita juga melihat bagaimana pembicarayang baik dalam lingkup percakapan yang melibatkan lingkaran-lingkaran lebih kecil; diantara teman dan mitra, dalam pesta atau pertemuan ramah-tamah, di dalam acara-acarakecil, dan sejenisnya. Dalam kondisi seperti ini, pembicara yang bagus harus bisamengikuti aturan atau penampilan yang berbeda dalam percakapan. Itu karena dalamlingkungan yang lebih kecil tentu saja efek dramatis dari oratorinya juga berbeda. Meskihanya sejumlah kecil kata-kata yang disampaikan, bisa saja beribu opini didengarkan.Bahkan, orang bisa mendapatkan popularitas sebagai pembicara yang baik karenasuaranya, volumenya, intonasinya, rasa humornya, dan kecerdasannya.
 
Suara yang bagus dan mengesankan adalah separo dari total bobot mutu pembicara itu.Jika seseorang memiliki suara yang bagus dan pengucapan yang khas, lalu memilikitaktik yang pas untuk ambil bagian dalam suatu percakapan, maka ia akan lebih gampangdisukai dalam pertemuan-pertemuan skala kecil ini. Selain dari pertemuan keluarga atauteman, ia bisa saja diundang ke dalam pertemuan sosial (yang banyak pesertanya tidak dikenal) untuk mengungkapkan fikirannya tentang topik-topik tertentu. Atau, munginsaja ia diminta ambil bagian dalam membahas tren umum yang sedang jadi perbincangan.Jika ia tidak bisa memberikan nilai baik dalam pembicaraan itu, popularitasnya bisamemudar. Itu karena, dalam semua keadaan, pembicara yang bagus harus memiliki banyak informasi, perbendaharaan kata, dan banyak kreativitas dalam penyampaiannyauntuk memelihara penerimaan sosial di antara orang-orang lain.
2. Bercakap-cakap
Kita sudah menyentuh subyek ini dalam pembahasan sebelumnya. Sama-sama bertujuan menyampaikan pesan, bercakap-cakap sangat beda dengan berpidato, berorasi, berkhotbah, atau beraksi-panggung. Dalam percakapan, pesan tidak disampaikan satuarah tapi dari dan ke berbagai arah yang melibatkan sejumlah kecil peserta.Agak aneh, tapi nyata, bahwa ada beberapa orator ulung atau aktor pangung jagoan yang agak tidak bagus dalam percakapan. Bisa jadi ini karena kondisi yang berbeda. Seorang orator mungkin mempertimbangkan pendengarnya berdasarkan bentuk dan besarnya jumlah. Tapi, jika di dalam ruang, saat berbicara dengan hanya empat ataulima orang, ia memandang audiensnya menyempit sehingga tidak bisa mengekspresikandiri sepenuhnya. Ini karena ia terjebak dalam kebiasaan memperlakukan semua orangsebagai pendengarnya –seperti halnya kebiasaan beberapa guru yang menganggap semuaorang adalah muridnya. Bagi aktor panggung, kegagalan melakukan percakapan mungkin juga disebakan kegagalannya menyesuaikan diri dengan keadaan. Mungkin ia orang senisejati sehingga kesulitan memberikan perhatian atau mengungkapkan perasaan di tempat-tempat umum dan hal-hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Sepertinya, ia telah terjebak di dalam upaya memenuhi ekspresi teatrikal dalam situasi dramatis. Jadi, untuk menjadi partisipan yang baik dalam percakapan kecil, ia harus memiliki seni yang beda mutlak dari seni-budaya meski sama-sama menggunakan suara dan kata-kata.Esensi dari percakapan ini bukan pada talenta (seperti yang dimiliki orator atauseniman) tapi lebih pada seni atas kesadaran dan perasaan praktis tentang kondisilingkungan. Maka, jangan heran jika banyak orang dari strata lebih rendah yang lebihmemiliki seni ini daripada masyarakat dari kelas menengah atau bahkan yang berpendidikan tinggi. Ini karena orang-orang yang dicap berada di kelas sosial rendahternyata memiliki lebih banyak pengetahuan dan pengalaman praktis. Mereka juga lebihakrab bersentuhan dengan cara-cara hidup praktis di dunia ini sehingga cara berfikir dan berekspresi mereka lebih gampang tumbuh dan terasah. Mereka juga lebih mengandalkan pada eksistensi sosial dan kelompok –masyarakat pedesaan, suku-suku primitif, dansejenisnya– dan mereka mengembangkan cara ekspresi yang impresif. Yang lebih penting, mereka sudah meleburkan semua kesadaran atas diri sendiri serta mengurangirasa malu. Ini membuat mereka lebih bisa membuka benak mereka kapan pun merekamau dan kapan pun mereka ingin melalui kata-kata sederhana, jelas, bisa dipahami, dan jauh dari istilah-istilah ornamental yang biasa dipakai kelas-kelas berpendidikan tinggi.

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ari Wijanarko liked this
Andika Super liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->