kedua atau ketiganya sekaligus.Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82; lihat Gunarwan, 1994:85-86) membagi tindak tutur menjadi lima kategori:1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnyaakan kebenaran atas apa yang diujarkan2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yangdimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalamtuturan itu3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannyadiartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya5.Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakanhal (status, keadaan, dsb) yang baru.B. Jenis Tindak Tutur Wijana (1996:4) menjelaskan bahwa tindak tutur dapat dibedakan menjadi tindak tutur langsungdan tindak tutur tindak langsung, tindak tutur literal dan tidak literal.1. Tindak tutur langsung dan tak langsungSecara formal berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif),kalimat tanya (interrogative) dan kalimat perintah (imperative). Secara konvensional kalimat berita (deklaratif) digunakan untuk memberitahukan sesuatu (informasi); kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaaan atau permohonan. Apabila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengadakansesuatu, kalimat tanya untuk bertanya dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak memohon dan sebagainya, maka akan terbentuk tindak tutur langsung (direct speech). Sebagaicontoh : Yuli merawat ayahnya. Siapa orang itu? Ambilkan buku saya! Ketiga kalimat tersebutmerupakan tindak tutur langsung berupa kalimat berita, tanya, dan perintah.Tindak tutur tak langsung (indirect speech act) ialah tindak tutur untuk memerintah seseorangmelakukan sesuatu secara tidak langsung. Tindakan ini dilakukan dengan memanfaatkan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Misalnyaseorang ibu menyuruh anaknya mengambil sapu, diungkapkan dengan Upik, sapunya dimana?”Kalimat tersebut selain untuk bertanya sekaligus memerintah anaknya untuk mengambilkansapu.2. Tindak tutur literal dan tindak tutur tak literalTindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang dimaksudnya sama denganmakna kata-kata yang menyusunnya. Sedangkan tindak tutur tidak literal (nonliteral speech act)adalah tindak tutur yang dimaksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan kata-kata yangmenyusunnya. Sebagai contoh dapat dilihat kalimat berikut.1. Penyanyi itu suaranya bagus.2. Suaramu bagus (tapi kamu tidak usah menyanyi)Kalimat (1) jika diutarakan dengan maksud untuk memuji atau mengagumi suara penyanyi yangdibicarakan, maka kalimat itu merupakan tindak tutur literal, sedangkan kalimat (2) penutur bermaksud mengatakan bahwa suara lawan tuturnya jelek, yaitu dengan mengatakan “Tak usahmenyanyi”. Tindak tutur pada kalimat (2) merupakan tindak tutur tak literal.Apabila tindak tutur langsung dan tak langsung diinteraksikan dengan tindak tutur literal dan tak literal, maka akan tercipta tindak tutur sebagai berikut :1. Tindak tutur langsung literal (direct literal speech act), ialah tindak tutur yang diutarakandengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. Maksudmemerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, danmenanyakan sesuatu dengan kalimat tanya. Misalnya : Ambilkan buku itu! Kusuma gadis yang