Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Eiji Yoshikawa - Taiko (Indonesia) Bag 05

Eiji Yoshikawa - Taiko (Indonesia) Bag 05

Ratings:

4.5

(1)
|Views: 258|Likes:
Published by andri46

More info:

Published by: andri46 on Aug 10, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2013

pdf

text

original

 
MAJIKAN BARU
a
eBook oleh
Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.comMATSUSHITA KAHEI berasal dari Provinsi Enshu. la putra samurai desa, danmenjadi pengikut marga Imagawa, dengan tempat tinggal di Suruga dangaji tetap sebesar tiga ribu
kan.
la penguasa benteng pertahanan diZudayama dan pengurus kepala pos penghubung di Jembatan Magome. Dimasa itu Sungai Tenryu dibagi menjadi Tenryu Besar dan Tenryu Kecil.Kediaman Matsushita berada di tepi Tenryu Besar, beberapa ratus meter sebelah timur Zudayama.Pada hari itu Kahei sedang dalam perjalanan pulang dari BentengHikuma, tempat ia mengikuti rapat dengan sesama pengikut Imagawa. Para pejabat provinsi bertemu secara berkala untuk memperketat pengawasanterhadap rakyat dan berjaga-jaga terhadap serbuan marga-marga tetangga:Tokugawa, Oda, dan Takeda.Kahei membalikkan badan di atas pelana, dan memanggil salah satu dariketiga orang yang menyertainya, "Nohachiro!"Laki-laki yang menyahut memelihara jenggot dan membawa tombak  panjang. Taga Nohachiro berlari menyusul kuda majikannya. Mereka sedangmenyusuri jalan antara Hikumanawata dan perahu tambang di Magome.Pohon-pohon tumbuh di kedua sisi jalan, dan di balik pepohonan terlihat pemandangan sawah dan ladang yang menyenangkan."Dia bukan petani, dan tampangnya bukan seperti peziarah," Kahei bergumam. Nohachiro mengikuti garis pandang Kahei. Ia mengamati kuningnya bunga-bunga moster, hijaunya gandum, dan air dangkal di persawahan, tapiia tidak melihat siapa-siapa."Apakah ada sesuatu yang mencurigakan?""Ada laki-laki di sebelah sana, di pematang sawah itu. Sepintas mirip burung bangau. Sedang apa dia, menurutmu?"117
MR. Collection's 
 
 Nohachiro melihat sekali lagi, dan ternyata memang ada orang yangmembungkuk di pematang."Selidiki apa yang sedang dilakukannya." Nohachiro menyusuri jalan setapak sempit. Berdasarkan peraturan yang berlaku di semua provinsi, segala sesuatu yang tampak mencurigakan harussegera diselidiki. Para pejabat provinsi sangat peka terhadap perbatasanmereka serta penampilan orang asing. Nohachiro kembali dan memberikan laporannya, "Dia mengaku sebagai penjual jarum dari Owari. Dia memakai baju luar berwarna putih yangsudah kusam. Itulah yang mengingatkan Tuan pada burung bangau. Diaanak kecil dengan muka mirip monyet.""Ha ha! Bukan bangau atau gagak, tapi monyet, heh?""Dan banyak omong, lagi. Dia suka mengumbar kata-kata besar. Waktuhamba menanyainya, dia berusaha memutarbalikkan semuanya. Dia bertanyasiapa majikan hamba, dan waktu hamba menyebut nama Tuan, dia berdiritegak dan memandang ke sini dengan cara yang berani sekali.""Kenapa dia berdiri membungkuk tadi?""Dia bercerita bahwa dia akan bermalam di salah satu losmen diMagome, dan bahwa dia sedang mengumpulkan keong untuk dimakannanti malam."Kahei menyadari bahwa Hiyoshi telah kembali ke jalan, dan berjalan didepan mereka.Ia bertanya pada Nohachiro, "Tak ada yang mencurigakan?""Hamba tidak melihat sesuatu yang aneh."Kahei meraih tali kekang. "Kita tak bisa menyalahkan orang darikalangan rakyat jelata kalau mereka tak punya sopan santun." Kemudian,sambil memberi isyarat berupa anggukan kepala kepada anak buahnya, ia berkata, "Ayo, jalan lagi." Dalam sekejap mereka telah menyusul Hiyoshi.Pada waktu melewatinya, Kahei menoleh sambil lalu. Hiyoshi sudah lebihdulu menyingkir dari jalan dan berlutut penuh hormat di bawah deretan pohon. Pandangan mereka beradu."Tunggu sebentar." Kahei mengekang kudanya, dan sambil berpaling pada anak buahnya, berkata, "Bawa si tukang jarum ke sini." Lalu iamenambahkan dengan nada heran, "Orangnya sungguh aneh... ya, adasesuatu yang berbeda pada dirinya." Nohachiro sudah terbiasa dengan tingkah majikannya, dan segera bergerak."Hei! Tukang jarum! Majikanku ingin bicara denganmu. Ayo, ikut aku."Kahei menatap Hiyoshi dari atas kudanya. Ada apa pada diri pemuda pendek berpenampilan acak-acakan dengan pakaian lusuh ini, yang mem- buatnya begitu terpesona? Bukan kemiripannya dengan monyet, yang malahhampir tidak disadari oleh Kahei. Untuk kedua kali pandangannya melekatlama pada Hiyoshi, namun ia tak sanggup menuangkan perasaannya kedalam kata-kata. Sesuatu yang kompleks sekaligus tak berwujud seakan-akan118
 
menariknya—kedua mata anak itu! Mata manusia biasanya dianggap sebagaicerminan jiwa. Kahei tak melihat hal lain yang bernilai pada diri makhluk kecil dan berkerut-kerut ini, tapi sorot matanya begitu penuh tawa, sehinggatampak segar dan mengandung... apa? Kemauan gigih, atau barangkaliimpian yang tak mengenal batas?Dia punya daya tarik, pikir Kahei, dan ia memutuskan bahwa ia suka pada anak bertampang aneh ini. Kalau saja ia mengamati dengan lebihsaksama, ia akan menemukan sepasang telinga semerah jengger ayam jantantersembunyi di bawah debu yang menempel di kepala Hiyoshi. Kahei jugatidak menyadari bahwa meski Hiyoshi masih muda, kemampuan besar yangakan diperlihatkannya di kemudian hari telah terukir pada garis-garis dikeningnya, yang sepintas lalu membuatnya tampak seperti orang tua.Ketajaman pandangan Kahei tidak sebesar itu. Ia hanya merasakan kasihsayang yang aneh terhadap Hiyoshi, bercampur semacam harapan.Tak mampu membebaskan diri dari perasaan itu, namun tanpa berkatasepatah pun pada Hiyoshi, ia berpaling pada Nohachiro dan berujar, "Bawadia." Ia menggenggam tali kekang dengan erat dan memacu kudanya.Gerbang depan yang menghadap ke sungai terbuka lebar, dan beberapa pengikutnya menunggu. Seekor kuda telah ditambatkan, dan sedang me-rumput. Rupanya ada tamu yang datang ketika Kahei sedang pergi."Siapa dia?" ia bertanya sambil turun dari kudanya."Kurir dari Sumpu."Kahei mengangguk dan melangkah masuk. Sumpu merupakan ibu kotamarga Imagawa. Kedatangan kurir bukan hal langka, tapi pikiran Kaheimasih tertuju pada pertemuan di Benteng Hikuma, sehingga ia melupakanHiyoshi."Hei, kau, mau ke mana kau?" seorang penjaga menegur Hiyoshi yanghendak melewati gerbang bersama rombongan Kahei. Tangan Hiyoshi dan buntalan terbungkus jerami yang dibawanya berlepotan lumpur. Percikan- percikan lumpur yang mengering di wajahnya terasa gatal. Barangkali si penjaga gerbang mengira Hiyoshi hendak mempermainkannya dengan sengajamenggerak-gerakkan hidung? Si penjaga gerbang mengulurkan tangan untuk menangkap tengkuk Hiyoshi.Sambil melangkah mundur, Hiyoshi berkata, "Aku penjual jarum.""Pedagang keliling tak bisa melewati gerbang ini tanpa izin. Pergi sana!""Sebaiknya tanya majikanmu dulu.""Kenapa aku harus berbuat begitu?""Aku mengikutinya ke sini karena dia yang menyuruhku. Aku datang bersama samurai yang baru saja masuk.""Tuan Kahei tak mungkin mengajak orang seperti kau ke rumahnya.Hmm, tampangmu cukup mencurigakan."Pada saat itu Nohachiro teringat pada Hiyoshi dan kembali ke gerbang."Biarkan dia masuk," ia memberitahu si penjaga gerbang.119

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
sblackto12 liked this
Piet Luphry liked this
ilmu2 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->