Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tinjauan Materi Revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman

Tinjauan Materi Revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman

Ratings: (0)|Views: 801|Likes:
Published by Muamar Vebry
Tinjauan Materi Revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
Tinjauan Materi Revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman

More info:

Published by: Muamar Vebry on Jan 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/12/2011

pdf

text

original

 
Tinjauan Materi Revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan danPermukiman
Dipresentasikan di Jakarta Legal Aid Institute (LBH Jakarta), 12 Januari 2011
Muamar Vebry
muamar.vebry@gmail.com 081323293123
Gambaran Umum:
 
Nihil dalam upaya pembangunan sistem penyediaan perumahan yang mapan;
 
Sempit dalam cara pandang dan hanya mengatur perihal pembiayaan, pendanaan, perencanaan danproduksi perumahan;
 
Bias dan berpihak pada kepentingan swasta
 
Penyederhanaan (pendanaan & kelembagaan) melalui desentralisasi fiskal dan devolusi tugas kePEMDA tanpa memperhintungkan kemampuan dan kapasitas PEMDA secara proporsional.
1
 
Catatan:
 
UU tidak mengatur hal yang paling prinsipil dalam pembangunan sektor perumahan, yaitu
housingdelivery system
, yang merupakan tulang punggung bagi penyediaan perumahan yang mapan danberkelanjutan.
2
 
 
UU hanya memformalkan pendekatan pembangunan perumahan yang berbasis proyek.
 
UU mengesahkan mekanisme pendanaannya melalui desentralisasi fiskal dan mekanisme produksimelalui devolusi tugas ke PEMDA (BLU/BLUD).
3
 
 
Landasan filosofis dari UU tersebut hanya didasari oleh pendekatan pembiayaan (
housing financing
) semata dan mengabaikan pembangunan sebuah sistem penyediaan perumahan yangholistik bagi MBR.
4
 
Kelemahan UU:
 
KELEMBAGAAN:
Devolusi tugas ke PEMDA melaluis Badan; BLU/BLUD lemah secarastruktural, bersifat ad-hoc/sementara, tempelan di K/L, tidak 
dedicated 
dari segi kelembagaan,
1
 
The law opening more rooms for local government to be in-charge for housing delivery; this ishighly overrated given the limited capacity and lack of transparency of local government in management of  public funds. We have seen to-notch inefficiently in management of decentralization funds in so many aspectswhereby fund leakages are easily found in every corner of development pipeline.
 
2
 
The aspect of system development for a sustainable housing delivery system is nowhere to be found; the by-lawhas too much emphasize on the production side (as a means) and financing side (as support vehicle) rather than focusing on the whole aspect of housing delivery system; i.e. institutional development, management and investment aspect and etc.
 
3
 
Pendekatan desentralisasi fiskal dan devolusi tugas ke PEMDA lewat BLU/BLUD ini
oversimplistic
dan tidak sistemik.
4
 
Pembiayaan dan produksi hanyalah sebahagian dari rangkaian sub-sistem yang belum lengkap dalam konteks
housing delivery system
yang sangat kompleks.
 
fungsi tidak jelas; hanya sebagai SATKER yang bertindak untuk membagikan paket-paket proyek ke developer (badan hukum).
 
PENDANAAN:
Sangat bergantung kepada
 
APBN, APBD dan sumber lainnya melaluimekanisme desentralisasi fiskal.
 
 
PRODUKSI:
(i) terlalu detail mengatur proses perencanaan yang tidak relevan diatur dalam UUPerumahan ; (ii) terlalu detail mengatur jenis dan tipe-tipe rumah (UU Bangunan) yang seharusnyatidak perlu diatur dalam UU Perumahan; (iii) UU tidak mengatur "klasifikasi" rumah sesuaidengan
keunikan karakter, kebutuhan dan kemampuan MBR
 
(i.e. Public Rental Housing,Social Housing dan sebagainya).
5
 
 
PEMBIAYAAN:
(i) sangat liberal; (ii)
lack of social dimension
; (iii) pendekatan
affordability
 tidak didefinisikan secara jelas; (iv) melekatkan pembiayaan perumahan untuk MBR melalui
market oriented approach (subtle but tangible)
, di
sugar-coat 
dengan mekanisme pembiayaanseperti fasilitas-fasilitas likuiditas (subsidi bunga dan subsidi uang muka) yang tidak berorientasikepada penyediaan rumah murah bagi MBR
6
; (v) fokus pada perluasan
niche market 
bagideveloper ke pangsa pasar rumah murah bagi MBR yang seharusnya dilindungi dan disediakanoleh Negara; (vi) menguntungkan kelas penimbun properti (miss targeted – rumah menjadi objek investasi): (vii)
expanding the spread of loan practice
bagi pihak perbankan dengan
mortgageinterest rate
sesuai
market rate
namun disubsidi dengan "Uang" Rakyat sementara harga pokok rumah tidak dapat dijangkau oleh MBR.
 
 
TATA KELOLA/MANAJEMEN:
Tidak jelas, hanya mengatur prinsip pada tatananpemeliharaan perumahan sementara pengelolaan perumahaan (perumahan umum) juga dilakukansecara individu/swadaya.
BLU/BLUD:Definisi BLU:
Instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepadamasyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencarikeuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.(Pasal 1 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara)
Catatan:
BLU/BLUD sesuai dengan peraturan kementrian keuangan didisain sebagai badan pelaksana(SATKER) untuk penyediaan barang dan jasa yang dilekatkan ke Kementrian/Lembaga sebagai unitkerja dengan sifat ad-hoc. Bentuk kelembagaan Badan Layanan Umum ini dibutuhkan karena fungsipemerintahan sesuai dengan agenda reformasi keuangan negara yang mengamanatkan pergeseran daripengganggaran tradisional menjadi pengganggaran berbasis kinerja. BLU ialah satu alternatif untuk mendorong peningkatan pelayanan publik dengan mewiraswastakan pemerintah untuk men-
deliver 
 
barang dan jasa
dengan efektif. Meksipun objektif BLU ialah untuk menyelengrakan fungsiorganisasi berdasarkan kaidah-kaidah manajemen yang baik dalam rangka pemberian layanan yang
5
Fokus seharusnya diorientasikan kepada moda delivery perumahan dan fungsi rumah berdasarkan kriteriakemampuan dari kelompok target.
Capping
harga (penyederhanaan konsep
"Affordability"
yang malangnyamasih akan diterapkan) dan pendekatan
Financial Engineering
bukan solusi dalam penyediaan perumahan untuk MBR. Sistem yang terpadu yang mampu menyediakan rumah bagi MBR sesuai dengan kriteria
"kebutuhan"dan "kemampuannya"
yang seharusnya dibenahi oleh UU. System yang bekerja berdasrakan demand tersebutcuma mampu disediakan oleh kelembagaan yang bersifat
dedicated dalam
Housing Develivery System yangbaik dan sitemik.
6
 
The low-income earners has no other options rather than buying a subsidized house (interest rate and down payment); as result, number of NPL will be paramount as people who has no capacity to buy house will betempted to buy a house – despite the fact that that the capping of "housing core price" is not affordable – byabandoning the fact he/she has no constant ability to pay the mortgage.
 
bermutu dan berkesinambungan dengan fleksibel dengan
business-like approach
, model tersebut tidak akan dapat diaplikasikan kedalam konteks
housing delivery system
yang baik.
Kenapa BLU/BLUD tidak
 applicable
dalam konteks housing delivery:
 
BLU hanya sekedar unit kerja (SATKER) untuk men-deliver output tertentu yang sifatnya terbatasdalam tempo dan jangka waktu tertentu (
 procurement 
; pengadaan).
 
BLU/BLUD ini karena bentuknya seperti SATKER maka sifatnya juga ad-hoc sehingga memilikiketerbatasan ruang gerak untuk tumbuh berkembang menjadi lembaga penyedia perumahan publik yang "membangun" dan "dibangunkan" dalam sebuah sistem penyediaan perumahan.
7
 
 
Tingkat kompleksitas penyediaan perumahan sangat tinggi sehingga dibutuhkan sebuah sistemyang solid dan cerdas yang malangnya tidak dituangkan didalam UU Perumahan.
 
Dalam konteks UU Perumahan, Badan atau BLU yang dimaksud hanya sekedar berupa unit kerjaatau SATKER yang nantinya akan bertugas untuk membagi-bagikan proyek-proyek perumahan kepihak developer (Badan Hukum).
 
KESIMPULAN:
Penyediaan perumahan secara sistemik dan handal tidak akan mampu ditanganioleh BLU/BLUD karena secara disain kelembagaannya – mengacu ke peraturan Menkeu – hanyadiperuntukkan untuk menyediakan barang dan jasa
sementara rumah dan perumahan sendiribukanlah barang dan juga bukan produk jasa.
 
8
 
Kesimpulan:
 
 
Azas dasar:
 
to strike a balance between public needs and private interest 
!
 
Fokus kepada sistem penyediaan perumahan, bukan hanya pada produksi dan pembiayaan yangmenguntungkan pihak developer, spekulator penimbun properti dan pihak perbankan.
 
Kesetimbangan antara sub-sistem
:
 Housing Finance is recognised as "a support vehicle"
dan
 Housing Production is recognised as "a means" in housing delivery system
.
KEYWORD:
 
Housing Finance bukan sebuah SYSTEM
!
 
Bangun sistem dan kelembagaan yang di dedikasikan dan di spesialisasikan untuk penyediaanperumahan, yang mampu tumbuh berkembang sebagai sebuah corporation (capital daninstitutional) dan turut membangun sebuah sistem yang handal
as it grows
.
Perlu diingat:pembangunan sistem perumahan yang sistemik tidak dapat dilakukan oleh badan yangbersifat ad-hoc.
 
Sistem Penyediaan Perumahan yang Baik
 
MANDAT:
sebagai leading agent dalam pemenuhan kebutuhan rumah bagi MBR, fokus kepadapenyediaan public dan social housing dengan diversivikasi moda penyediaan yang disesuaikandengan karakter, kebutuhan dan kemampuan kelompok target.
9
 
 
KELEMBAGAAN:
 
 Dedicated 
, berbentuk badan hukum bisa berupa Corporation seperti URA diJepang dan KNHC di Korea atau juga bisa berbentuk Housing Authority seperti HHA Hong Kong.
7
 
Satker BLU tidak akan memiliki kemampuan untuk mentransformasikan dirinya menjadi dedicated entityseperti URA di Jepang atau KNHC di Korea dikarenakan hambatan mandat dan regulasi BLU itu sendiri.
8
 
 Devolution of task, fiscal decentralization, production based approach and ad-hoc entities could be capitalized as a basis to conceive/build a systemic and sustainable housing delivery system.
 
9
 
KNHC:
100% government owned, mandated to enhancing public welfare and social stability through providing low-cost rental housing and housing for sale. The government also mandates it with responsibility toundertake residential land development and to lead various new town/city projects
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->