Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Latar Belakang Esensi Magna Charta

Latar Belakang Esensi Magna Charta

Ratings: (0)|Views: 258 |Likes:
Published by vinvidvic

More info:

Published by: vinvidvic on Jan 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

 
 KETENTUAN INTERNASIONAL TENTANGHAK ASASI MANUSIALembar Fakta No. 2
Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia
1
 
LATAR BELAKANG
Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia terdiri dari DUHAM, Kovenan Internasional tentang HakEkonomi, Sosial dan Budaya, dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan dua Protokol Opsional-nya.Hak asasi manusia telah disebut-sebut dalam Kovenan Liga Bangsa-Bangsa, yang diantaranya, menuju padapembentukan Organisasi Buruh Internasional (ILO). Pada Konperensi San Francisco 1945, yang diselenggarakan untukmerancang Piagam PBB, sebuah usulan tentang "Deklarasi tentang Hak Esensial Manusia" telah diajukan, namun tidak dibahaskarena memerlukan pertimbangan yang lebih matang dari yang mungkin dilakukan pada saat itu. Piagam tersebut secara jelasmenyebutkan "memajukan dan mendorong penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasar bagi semua orangtanpa membedakan ras, jenis kelamin, bahasa atau agama" (Pasal 1 ayat 3). Ide untuk membuat "Ketentuan Internasionaltentang Hak Asasi Manusia" juga dianggap oleh banyak pihak telah tersirat dalam Piagam tersebut.Komisi Persiapan PBB, yang segera mengadakan pertemuan setelah penutupan sidang Konperensi San Francisco,merekomendasikan agar Dewan Ekonomi dan Sosial dalam sidang pertamanya membentuk sebuah komisi untuk memajukanhak-hak asasi manusia, sebagaimana telah digambarkan dalam Pasal 68 Piagam PBB. Berdasarkan hal ini Dewan membentukKomisi Hak Asasi Manusia di awal 1946.Pada sidang pertama di 1946, Majelis Umum membahas sebuah rancangan Deklarasi Hak Asasi Manusia danKebebasan dasar dan menyampaikannya ke Dewan Ekonomi dan Sosial "sebagai rujukan Komisi Hak Asasi Manusia agardipertimbangkan … dalam persiapannya membuat Ketentuan Internasional tentang hak asasi manusia" (resolusi 43 (I)). Padasidang pertamanya di awal 1947, Komisi meminta pejabat-pejabatnya untuk merumuskan apa yang dinamakannya sebagai"rancangan awal Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia." Kemudian, buruhan tersebut diambil alih oleh suatukomite perancang formal yang terdiri dari anggota Komisi dari delapan Negara yang dipilih dengan memperhatikan letakgeografis.
Menuju Deklarasi Universal
Pada mulanya, muncul perbedaan pendapat tentang bentuk ketentuan tentang hak asasi manusia. Komite Perancangmemutuskan untuk menyiapkan dua dokumen: yang pertama dibuat dalam bentuk deklarasi yang akan memuat prinsip-prinsip atau standar-standar umum hak-hak asasi manusia; yang lainnya dalam bentuk konvensi yang akan merumuskan secarakhusus hak-hak dan batasan-batasannya. Sehubungan dengan itu, Komisi menyampaikan rancangan pasal-pasal deklarasiinternasional dan konvensi internasional tentang hak asasi manusia kepada Komisi Hak Asasi Manusia. Pada sidangnya yangkedua pada Desember 1947, Komisi memutuskan untuk menggunakan istilah "Ketentuan Internasional tentang Hak AsasiManusia" untuk rangkaian dokumen yang sedang dipersiapkan, dan membentuk tiga kelompok kerja: satu untuk deklarasi,satu untuk konvensi (yang kemudian diganti menjadi "kovenan") dan satu lagi untuk penerapan. Komisi merevisi rancangandeklarasi pada sidangnya yang ketiga pada Mei/Juni 1948, dengan memperhatikan komentar-komentar yang diterima dari berbagai Pemerintah. Akan tetapi Komisi tidak memiliki waktu untuk membahas kovenan atau masalah penerapannya. Olehkarenanya Deklarasi disampaikan melalui Dewan Ekonomi dan Sosial kepada Majelis Umum dalam pertemuannya di Paris.Dengan resolusi 217 A (III) tertanggal 10 Desember 1948, Majelis Umum menetapkan Deklarasi Universal HakAsasi Manusia (DUHAM) sebagai instrumen pertama dari sekian yang telah direncanakan.
Menuju Kovenan Internasional
Pada hari yang sama dengan ditetapkannya DUHAM, Majelis Umum meminta kepada Komisi Hak Asasi Manusiauntuk menyiapkan sebagai prioritas, sebuah rancangan kovenan hak asasi manusia dan rancangan upaya-upaya penerapan.
2
 
Komisi memeriksa teks rancangan kovenan pada 1949, dan pada tahun berikutnya Komisi merevisi 18 pasal pertama, berdasarkan komentar-komentar yang diterima dari berbagai Pemerintah. Pada tahun 1950, Majelis Umum menyatakan bahwa "penikmatan kebebasan sipil dan politik, serta hak ekonomi, sosial dan budaya adalah saling berhubungan dan salingtergantung" (resolusi 421 (V), ayat E). Oleh karenanya Majelis memutuskan untuk memasukkan: hak ekonomi, sosial dan budaya dan pengakuan yang tegas atas persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam hak-hak yang berkaitan, sebagaimanatercantum dalam Piagam, kedalam kovenan hak asasi manusia. Pada 1951, Komisi merancang 14 pasal tentang hak ekonomi,sosial dan budaya, berdasarkan usulan yang dibuat oleh berbagai Pemerintah dan saran yang diberikan oleh badan khusus.Komisi juga merumuskan 10 pasal tentang langkah-langkah penerapan hak-hak tersebut, yang menjadi dasar Negara Pihakuntuk menyampaikan laporan berkalanya. Setelah debat yang panjang dalam sidangnya yang keenam, pada 1951/1952,Majelis Umum meminta pada Komisi "untuk merancang dua Kovenan tentang Hak Asasi Manusia, … satu yang memuat haksipil dan politik dan yang lain memuat hak ekonomi, sosial dan budaya" (resolusi 543 (VI), paragraf 1). Majelis menghendakiagar kedua kovenan tersebut sebanyak mungkin memuat ketentuan yang serupa. Majelis juga memutuskan untuk memasukansebuah pasal yang menyatakan bahwa "semua bangsa harus memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri" (resolusi 545(VI)).Komisi menyelesaikan persiapan kedua rancangan pada sidangnya yang kesembilan dan kesepuluh pada 1953 dan1954. Majelis Umum menelaah kedua teks tersebut pada sidangnya yang kesembilan pada 1954, dan memutuskan agarrancangan tersebut disebarluaskan, sehingga Pemerintah-pemerintah dapat mempelajarinya secara seksama, dan masyarakatumum dapat menyatakan pendapatnya dengan bebas. Majelis merekomendasikan agar Komite Ketiga mulai mendiskusikanteks tersebut pasal per-pasal dalam sidangnya yang kesepuluh pada 1955. Walaupun diskusi setiap pasal dimulai sesuai jadwal, baru pada 1966 persiapan kedua kovenan itu dapat diselesaikan.Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil danPolitik ditetapkan oleh Majelis Umum melalui resolusi 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966. Protokol Opsional yangpertama dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang ditetapkan berdasarkan resolusi yang sama, memuattentang perangkat internasional untuk menangani komunikasi dari individu yang menyatakan dirinya sebagai korbanpelanggaran hak-hak yang diatur dalam Kovenan.
DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA
DUHAM ditetapkan dan dicanangkan oleh Majelis Umum
sebagai standar umum keberhasilan untuk semua bangsa dan semua negara, dengan tujuan agar setiap individu dan organ masyarakat,dengan selalu mengingat Deklarasi ini, harus mengupayakan melalui pengajaran dan pendidikan untuk memajukan penghormatanterhadap hak dan kebebasan ini; dan melalui upaya-upaya yang progresif, baik di lingkup nasional maupun internasional, untukmenjamin pengakuan dan pematuhannya secara universal dan efektif, baik di antara rakyat Negara Anggota sendiri, maupun diantararakyat yang berada di wilayah yang berada dalam wilayah hukumnya.
Empat puluh delapan Negara mendukung Deklarasi, tidak ada yang menentang dan delapan Negara tidakmemberikan suara. Dalam pernyataan setelah pemungutan suara, Presiden Majelis Umum mengemukakan bahwa penetapanDeklarasi ini merupakan "suatu pencapaian yang luar biasa, sebuah langkah maju dalam proses evolusi yang besar”. Peristiwaini merupakan kesempatan pertama di mana komunitas bangsa-bangsa yang terorganisir telah membuat Deklarasi hak asasimanusia dan kebebasan dasar. Instrumen tersebut didukung oleh otoritas pendapat PBB secara menyeluruh, dan jutaanmanusia – laki-laki, perempuan dan anak-anak di seluruh dunia – akan merujuk padanya untuk bantuan, pedoman daninspirasi.
3

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->