semenyeramkan itu. Mungkin mereka masih -terus- percaya: orang-orang Jakarta akan matibila usia mereka sudah tua. Mereka begitu yakin: mati nanti bila usia telah tua. Dan kini,ketika mereka masih muda, tak perlu risaukan maut dengan banyak beribadah. Kelak merekaakan melakukannya; bila sudah renta, bila ajal semakin nyata di depan mata. Kalau begitu,bila mereka masih percaya itu keyakinan yang tak berguru itu, saya yakin mereka tak akanpernah betul-betul sadar: orang mati bisa kapan saja.
Asa Mulchias
asamulchias@yahoo.com
Untuk Yusna: Yus, maafkan saya selama ini. Maaf atas segala kesalahan, atas segalakekhilafan. Maafkan segera, sebelum saya menyusulmu kesana... Ah, Yus... sedikit lagi, kan,bulan puasa....
Cinta Abu Bakar untuk Al-Musthafa
Publikasi: 06/08/2004 08:28 WIB
Ketika Rasulullah berada di hadapan,Ku pandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepalaTahukah kalian apa yang terjelma?Cinta!
(Abu Bakar Shiddiq r.a)Gua Tsur.Wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar.Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat parapemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar. “Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pastimelihat kita berdua”. Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggungsahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua.Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaanmaha, Allah”.Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkankeselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelakitampan yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana