Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
1
E. Perilaku Ekonomi dan Pola Konsumsi
Perilaku Konsumen (
consumer behavior 
) didefinisikan sebagai studitentang unit pembelian (
buying units
) dan proses pertukaran yangmelibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan barang, jasa,pengalaman serta ide-ide. Definisi yang sederhana ini mengandungsejumlah konsep penting.Deliarnov (1997; 131-133) menjelaskan pola perilaku orang terikatdengan masyarakat sekeliling, dan orang dalam tingkah lakunya berusahaikut menunjang terhadap perkembangan masyarakat. Orang berusahamenghindari perbuatan yang akan merugikan orang banyak. Tetapi apa yangdilihatnya sekarang dalam masyarakat kapitalis finansil di Amerika ialahorang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri saja, dan tiidak terlalutertarik dengan kepentingan masyarakat banyak.Berarti hal yang diperhatikan sekarang hanya uang, orang tidak peduliapakah perilaku ekonominya merugikan orang lain atau tidak. Orangberlomba-lomba mencari dan memperebutkan harta tanpa peduli akan cara.Hal ini disebabkan anggapan bahwa hanya harta yang mampu menaikkanstatus, harga diri atau gensi seseorang dalam masyarakat.Jika harta telah terkumpul, orang yang punya banyak waktu untukbersenang-senang (
leisure
). Dengan demikian pada masa sekarang
 
2
kemampuan untuk hidup bersenang-senang juga dijadikan sebagai alatuntuk memperlihatkan derajat atau status seseorang. Makin mampu ia tidakbekerja dalam pekerjaan-pekerjaan produktif (
leisure
), makin tinggi derajatdalam masyarakat. Penyakit seperti ini banyak menghinggapi kaum wanita,dimana mereka memakai gaun mode mutakhir hanya sekedar untukmengumumkan pada orang-orang bahwa ia absen dari pekerjaan produktif.Penyakit suka pamer ini menurut Veblen cepat berjangkit dalammasyarakat. Dalam hal ini ia memberi contoh, kalau seorang boss berlibur selama sebulan menggunakan
yacht 
pribadi ke Bermuda, makasekertarisnya dengan segala upaya (mungkin dengan menghabiskan seluruhtabungannya selama setahun) berusaha agar dapat berlayar selamaseminggu ke Karibia. Kecendrungan perilaku konsumsi seperti ini disebutVeblen dengan istilah
Conspicious consumption
, yaitu konsumsi barang-barang dan jasa-jasa yang bersifat
ostentatious
(pamer, melagak), yangdimaksudkan membuat orang kagum. Sebagaimana diungkapkan olehVeblen :
“Conspicious consumption of value goods is a means of reputability to the gentlement of leisure”.
Yang jadi incaran konsumsi bagi masyarakat
leisure
ini terutamabarang-barang sangat mahal, tidak peduli apakah barang itu tidak bergunabagi kehidupan sehari-hari atau tidak. Manfaat yang diperoleh daripengkonsumsian barang-barang mahal tersebut memang tidak diperoleh dari
 
3
barang itu sendiri, tetapi lewat dampaknya melalui orang lain. Apa yangdikatakan Veblen tentang perilaku konsumsi bermewah-mewahan di atas,yang faedahnya tidak diperoleh langsung dari konsumsi barang itu sendiri,melainkan dari dampaknya terhadap orang lain,
Duesenberry 
mengembangkan lebih lanjut yang dikenal dengan istilah
demonstrationseffects.
 Bagi Veblen gambaran di atas sungguh terbalik dengan tesis kaumKlasik dan Neo-Klasik yang mengatakan bahwa orang akan selalu memilihalternatif konsumsi terbaik untuk memperoleh kepuasan sebesar-besarnya.Perilaku tersebut juga bertentangan dengan anggapan kaum Klasik bahwatiap keputusan konsumen didasarkan pada rasio, bukan emosi.Menurut pandangan Veblen orang yang membeli sesuatu barangyang melebihi proporsi yang wajar jelas tidak rasional, dan yang lebih paralagi, kadang-kadang tingkah laku konsumsi mereka seperti orang “norak” Halseperti ini sering terjadi pada golongan
nouve riche,
atau di Indonesiadikenal dengan istilah Orang Kaya Baru (OKB). Golongan ini umumnyaberasal dari orang miskin yang kemudian berhasil meningkatkan statusfinansilnya, karena kurang terbiasa dengan pola hidup orang-orang kaya,maka perilaku konsumsinya menjadi seperti tidak wajar.
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more