Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan Yang Spiritual Is

Pendidikan Yang Spiritual Is

Ratings: (0)|Views: 570|Likes:
Published by ir_budi

More info:

Published by: ir_budi on Jan 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/10/2012

pdf

text

original

 
PENDIDIKAN YANG SPIRITUALIS
:Mengoptimalkan Kecerdasan Spiritual Melalui Pendidikan AgamaAbstrak Islam sebagai agama, sesungguhnya mengajarkan kepada umatnya untuk membentuk masyarakat yang berperadaban tinggi. Antara agama dan peradaban memiliki korelasi positif,semakin tinggi sikap keberagamaan seseorang, maka semakin tinggi pula kontribusinyadalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban, demikian pula sebaliknya.Makalah ini menolak pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya "SQ:Spiritual Intelligence ± The Ultimate Intelligence" yang menyatakan bahwa kecerdasanspiritual (SQ) tidak memiliki hubungan dengan agama. Dengan demikian, sumber bahanyang digunakan dalam makalah ini adalah buku SQ: Spiritual Intelligence ± The UltimateIntelligence karya pasangan psikolog Danah Zohar dan Ian Marshall yang diterbitkan olehBloomsbury, Great Britain tahun 2000, yang dibaca dengan menggunakan pola pikir teologis-tasawuf yang dibuat oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya "Islamic SpiritualityFoundations" dan telah diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ke dalam bahasa Indonesia danditerbiutkan oleh Mizan Bandung Tahun 2002 lalu dikombinasikan dengan pola pikir teologisJohn Renard dalam bukunya "Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims" diterbitkan oleh University of California Press dan diterjemahkan ke dalam bahasaIndonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimens-dimensi Islam" terbitan Jakarta:Inisiasi Press Tahun 2004
 
Pendahuluan
Kehadiran teori kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang dipopulerkan oleh pasangan psikolog, Danah Zohar dan Ian Marshall pada tahun 2000 turut merubah orientasi pendidikanmodern yang selama ini lebih cenderung kepada kecerdasan intelektual (IntellectualQuotient). Kecerdasan spiritual dianggap penggagasnya sebagai jenis "Q" ketiga (thirdintelligence) dan kecerdasan tertinggi (the ultimate intelligence) yang paling menentukankesuksesan seseorang sekaligus sebagai landasan yang diperlukan untuk memungsikan IQdan EQ secara efektif. Namun teori kecerdasan spiritual yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall tidak sepenuhnya relevan dengan konsep pendidikan agama, terutama yang berkenaan dengankonsep hubungan SQ dan agama. Menurut pasangan psikolog ini, SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bahkan ia menegaskan bahwa banyak orang humanis danateismemiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQsangatrendah. Pemahaman semacam ini bisa berdampak negatif terhadap pengembangan pendidikan. Sebab, ketika SQ dianggap sebagai kecerdasan yang tertinggi maka pelaksanaan pendidikan bisa lebih berorientasi kepada kecerdasan spiritual dan mengabaikan aspek religius, bahkan ajaran agama dapat dianggap sebagai ajaran yang parsial. Jika kondisi initerjadi, maka agama tidak lagi menjadi pegangan hidup dan akan mudah ditinggalkan,termasuk dalam pelaksanaan pendidikan.Padahal, agama memiliki ajaran yang universal, komprehensif dan holistik sehingga aspek spiritual yang sesungguhnya menjadi bagian penting di dalamnya. Pendidikan agamasebagaiupaya mendidik peserta didik memiliki sikap keberagamaan yang sempurna padahakikatnya juga berorientasi kepada multikecerdasan seseorang, termasuk kecerdasan spiritual.Konklusisementara ini akan diuraikan lebih lanjut dalam makalah ini secara analisis dan rasionalsehingga menjawab hakikat pendidikan agama dan hubungannya dengan kecerdasanspiritual(SQ) seseorang.Adapun metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan cara menganalisis konsepkecerdasan spiritual yang dipopulerkan oleh Ian Marshal dan Danah Zohar, khususnyayang berkenaan dengan hubungan agama dan kecerdasan spiritual. Kemudian, akan dianalisis pulakajian tentang spiritual dalam Islam. Setelah itu akan dilakukan formulasi model pendidikanagama yang mampu mencerdaskan spiritual seseorang yang pada gilirannya akanmencerdaskan suatu bangsa.Pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang agama dan kecerdasan spiritual dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence ± The Ultimate Intelligence" akan dianalisi dengan
 
menggunakan pola pikir teologis-tasawuf yang dibuat oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya "Islamic Spirituality Foundations" dan telah diterjemahkan oleh Rahmani Astutikedalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Mizan Bandung Tahun 2002. Selain itu,kajianini juga didasarkan pula kepada pola pikir teologis John Renard dalam bukunya "Sevendoorsto Islam: spirituality and the religious life of Muslims" diterbitkan oleh University of California Press dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anamdengan judul "Dimens-dimensi Islam" terbitan Jakarta: Inisiasi Press Tahun 2004.Antara IQ, EQ dan SQDi awal abad ke-20, IQ menjadi isu besar. Kecerdasan intelektual atau rasional merupakankecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Para psikolog pendukung konsep itu menyusun berbagai tes untuk mengukurnya, dan tes-tes inimenjadi alat memilah manusia ke dalam berbagai tingkatan kecerdasan, yang kemudianlebihdikenal dengan istilah IQ (Intelligence Quotient) yang dianggap mampu menunjukkankemampuan mereka. Bahkan menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang, semakintinggi pula kecerdasannya. Melalui tes IQ (intelligence quotient), tingkat kecerdasan intelektualseseorang dapat dibandingkan dengan orang lain. Kecerdasan inteligensi dapat diperolehmelalui pembagian usia mental (mental age) dengan usia kronologis (cronological age) laludiperkalikan dengan angka 100.Studi tentang IQ ini yang pertama kali dipelopori oleh Sir Francis Galton pengarangHeredityGenius (1869) dan kemudian disempurnakan oleh Alfred Binet dan Simon, pada umumnyamengukur kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan praktis, daya ingat (memory),daya nalar (reasoning), perbendaharaan kata dan pemecahan masalah (vocabulary and problem sol¬ving). IQ telah menjadi mitos sebagai satu-satunya alat ukur atau parameter kecerdasan manusia, sampai akhirnya Daniel Goleman mempopulerkan apa yang disebutdengan EQ (Emotional Intelligence) pada tahun 1995 dengan menunjukkan bukti empirisdari penelitiannya bahwa orang-orang yang IQ tinggi tidak menjamin untuk sukses. Sebaliknya,orang yang memiliki EQ, banyak yang menempati posisi kunci di dunia eksekutif. EQmemberi rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan dankegembiraan secara tepat.Penelitian para psikolog semakin berkembang sehingga ditemukan jenis "Q" ketiga, yaitukecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Kecerdasan ketiga ini dipopulerkan oleh DanahZohar dan Ian Marshall dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence ± The UltimateIntelligence". Pasangan psikolog ini mendefinisikan SQ sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya,kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermaknadibandingkan dengan yang lain. Bahkan mereka menegaskan bahwa SQ sebagaikecerdasantertinggi manusia sekaligus sebagai landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secaraefektif.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->