2
tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi Undang-Undang dengan nomor 15 tahun 2003 tentangPemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
2.Maksud dan Tujuana.Maksud
Maksud penulisan makalah ini adalah disamping untuk melaksanakan penugasan pembuatan makalah yang materinya menyangkut masalah terorisme dari Dosen, makalahini pula bertujuan sebagai sarana untuk belajar dalam menuangkan pemikiran sayatentang Mata Kuliah Ilmu Politik yang diterima dengan ditunjang dengan beberapareferensi – referensi yang relevan dengan permasalahan ini.
b.Tujuan
Dengan penulisan makalah ini, kami mengharapkan agar makalah ini dapatdijadikan sebagai referensi dan tambahan wawasan / pengetahuan bagi pembacamengenai hal-hal yang berkenaan upaya meminimalisir aksi terorisme dengan melalui pendekatan hukum dan sosial yang membawa pengaruh terhadap kondisi keamanandalam dan luar negeri.
3.Permasalahan
Telah banyak negara-negara didunia yang mengorbankan Hak Asasi Manusiademi pemberlakuan Undang-Undang Antiterorisme, termasuk hak-hak yang digolongkankedalam
non-derogable rights
, yakni hak-hak yang tidak boleh dikurangi pemenuhannyadalam keadaan apapun. Undang-Undang Antiterorisme kini diberlakukan dibanyak negarauntuk mensahkan kesewenang-wenangan
(arbitrary detention)
pengingkaran terhadap prinsip
free and fair trial
. Laporan terbaru dariAmnesty Internasionalmenyatakan bahwa penggunaan siksaan dalam proses interogasi terhadap orang yang disangka teroris cenderungmeningkat. Hal seperti inilah yang harus dihindari, karena Tindak Pidana Terorisme harusdiberantas karena alasan Hak Asasi Manusia, sehingga pemberantasannya pun harusdilaksanakan dengan mengindahkan Hak Asasi Manusia. Demikian menurutMunir,bahwamemang secara nasional harus ada Undang-Undang yang mengatur soal Terorisme, tapidengan definisi yang jelas, tidak boleh justru melawan Hak Asasi Manusia
1
. MelawanTerorisme harus ditujukan bagi perlindungan Hak Asasi Manusia, bukan sebaliknyamembatasi dan melawan Hak Asasi Manusia. Dan yang penting juga bagaimana ia tidak memberi ruang bagi legitimasi penyalahgunaan kekuasaan.