Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
16Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Lembaga Pemasyarakatan Dalam Proses Resosialisasi Dan Reintegrasi

Lembaga Pemasyarakatan Dalam Proses Resosialisasi Dan Reintegrasi

Ratings: (0)|Views: 1,634 |Likes:
Published by maryo

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: maryo on Jan 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/10/2013

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah
Usaha pembaharuan hukum pidana sampai saat ini terus dilakukan, dengansatu tujuan utama yakni menciptakan suatu kodifikasi hukum pidana nasional untuk menggantikan kodifikasi hukum pidana yang merupakan warisan kolonial yakniwetboek van strafrecht voor nederlands indie 1915 yang merupakan turunan dariwetboek van strafrecht negeri belanda tahun 1886.Pembaharuan hukum pidana tersebut mau tidak mau akan mencakup persoalan-persoalan utama yang berkaitan dengan tiga permasalahan pokok di dalamhukum pidana yakni tentang perbuatan yang yang dilarang, orang yang melakukan perbuatan yang dilarang dan pidana. dalam hal yang terakhir ini, yakni masalah pidana, terdapat suatu masalah yang dewasa ini secara universal terus dicarikan pemecahannya. masalah tersebut adalah ketidakpuasan masyarakat terhadap pidana perampasan kemerdekaan, yang dalam pelbagai penelitian terbukti sangat merugikan baik terhadap individu yang dikenai pidana, maupun terhadap masyarakat di pelbagai Negara, termasuk Indonesia, terus diusahakan untuk mencari alternatif-alternatif dari pidana perampasan kemerdekaan, antara lain berupa peningkatan pemidanaan yang bersifat non-institusional dalam bentuk pidana bersyarat (voorwaardelijkeveroordeling), dan pidana harta (vermogenstraf) misalnya denda.
 
Pembaharuan hukum pidana yang menyangkut salah satu masalah utama didalam hukum pidana berupa lembaga pidana ini, tidak akan terlepas dari pengaruh perkembangan teori-teori tentang tujuan pemidanaan beserta aliran-aliran di dalamhukum pidana yang mendasari perkembangan teori-teori tersebut. disampingkecenderungan ini, harus pula diusahakan adanya pemikiran tentang kerangka teoritentang tujuan pemidanaan yang benar-benar seusai dengan filsafat kehidupan bangsaIndonesia yang bersendikan pancasila dan undang-undang dasar 1945, yakni yangmendasarkan diri atas keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara kehidupansocial dan individual.Perumusan teori tentang tujuan pemidanaan tersebut sangat bermanfaat untuk menguji sampai berapa jauh suatu lembaga pidana mempunyai daya guna, yangdalam hal ini ditentukan oleh kemampuan lembaga pidana tersebut untuk memenuhi pelbagai tujuan pemidanaan yang bersumber pada baik perkembangan teori-teoriyang bersifat universal, maupun sistem nilai yang berlaku di dalam masyarakatIndonesia sendiri.
1
 Mardjono mengemukakan bahwa sistem peradilan pidana (criminal justicesystem) adalah sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalahkejahatan. menanggulangi diartikan sebagai mengendalikan kejahatan agar beradadalam batas-batas toleransi masyarakat.
1
Prof. Muladi, lembaga pidana bersyarat, 1-6
 
S
elanjutnya dikemukakan bahwa tujuan sistem peradilan pidana dapatdirumuskan :a.
 
mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan b.
 
menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehinggamasyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah telahdipidanac.
 
mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatantidak mengulangi lagi kejahatannya.
2
 Pidana penjara merupakan salah satu jenis sanksi pidana yang paling seringdigunakan sebagai sarana untuk menanggulangi masalah kejahatan. penggunaan pidana penjara sebagai sarana untuk menghukum para pelaku tindak pidana barudimulai pada akhir abad ke-18 yang bersumber pada faham individualisme dangerakan perikemanusiaan, maka pidana penjara ini semakin memegang peranan penting dan menggeser kedudukan pidana mati dan pidana badan yang kejam (Barda Nawawi Arief, 1996 : 42). sebagai catatan, dari seluruh ketentuan KUHP memuat perumusan delik kejahatan, yaitu sejumlah 587, pidana penjara tercantum di dalam575 perumusan delik, baik dirumuskan secara tunggal maupun secara alternatif dengan jenis-jenis pidana lain (Barda Nawawi Arief : 69,70). ketentuan tersebutmasih ditambah lagi/belum termasuk dengan perumusan sanksi pidana penjara di luar yang diatur dalam undang-undang di luar KUHP.
2
Romli Atmasasmita, sistem peradilan pidana kontemporer, hlm.3

Activity (16)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Marcella Nirmala liked this
Tatang Mulyadi liked this
nuviana liked this
nuviana liked this
Arie Erie liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->