Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
hijrah dan kebangkitan ekonomi islam - agustianto

hijrah dan kebangkitan ekonomi islam - agustianto

Ratings:

4.67

(3)
|Views: 532|Likes:
Published by Edy Ramdan
Artikel Ekonomi Islam atau Syari'ah, karya : Agustianto.
Riba Bank Ekonomi Syariah Islam Indonesia Bunga uang perbankan nasional quran fikih sdm manajemen bisnis finansial perusahaan miskin kaya fiqih muamalah marketing
Artikel Ekonomi Islam atau Syari'ah, karya : Agustianto.
Riba Bank Ekonomi Syariah Islam Indonesia Bunga uang perbankan nasional quran fikih sdm manajemen bisnis finansial perusahaan miskin kaya fiqih muamalah marketing

More info:

Published by: Edy Ramdan on Aug 11, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

Hijrah dan Kebangkitan Ekonomi Islam
Majalah Noor, Maret 2008
Oleh: Agustianto

Pintu gerbang tahun baru hijriyah 1429, sebentar lagi kita masuki. Setiap memasuki tahun
baru hijriyah, kita diingatkan kepada peristiwa paling bersejarah, yakni hijrahnya Nabi
Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah yang terjadi 1429 tahun yang lalu.

Dalam konteks historis Islam, peristiwa hijrah merupakan momentum paling penting dan
monumental. Hijrah telah membawa perubahan dan pembaharuan besar dalam
pengembangan Islam dan masyarakatnya kepada sebuah peradaban yang maju dan
berwawasan keadilan, persaudaraan, persamaan, penghargaan HAM, demokratis,
inklusif, kejujuran, menjunjung supremasi hukum, yang kesemuanya dilandasi dan
dibingkai dalam koridor nilai-nilai syari\u2019ah.
Hijrah juga telah mengantarkan terwujudnya negara madani yang sangat modern, bahkan
dalam konteks masyarakat pada waktu itu, terlalu modern. Demikian pendapat oleh
Robert N Bellah seorang ahli sosiologi agama terkemuka dalam bukunya Beyond Bilief
(1976 h 150).

Ismail al Faruqi menyebut hijrah sebagai langkah awal dan paling menentukan untuk
menata masyarakat muslim yang berperadaban. Jadi, hijrah bukanlah pelarian untuk
mencari suaka politik atau aksi peretasan keperihatinan karena kegagalan
mengembangkan Islam di Mekkah, melainkan sebuah praktis reformasi yang penuh
strategi dan taktik jitu yang terencana dan sitematis. Tegasnya, substansi hijrah
merupakan strategi besar (grand strategy) dalam membangun peradaban Islam. oleh
karena itu tepatlah apa yang dikatakan Hunston Smith dalam bukunya the Religion Man,
bahwa peristiwa hijrah merupakan titik balik dari sejarah dunia.
Berdasarkan kenyataan itulah Sayyidina Umar bin Khattab menetapkannya sebagai awal
tahun hijriyah. Dalam konteks ini ia menuturkan : \u201cal hijrah farragat bainal haq wall
bathil\u201d (hijrah telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil). J.H. Kramers dalam
Shorter Encycolopeadia of Islam menobatkannya sebagai pembangunan imperium Arab
yang paling handal dan cerdas. Maka sangat relevan ungkapan Prof Dr Fazlur Rahman
yang menyebut hijrah sebagai Marks of the founding of islamic community.

Apabila kita cermati makna filosofis hijrah secara mendalam, hijrah sesungguhnya
mengandung makna reformasi yang yang luar biasa. Semangat reformasi tersebut terlihat
dari langkah-langkah strategis yang dilakukan Nabi Muhammad Saw ketika beliau
menetap di Madinah, baik dalam bidang sosial keagamaan, politik, hukum maupun
ekonomi.

Hijrah dan Spirit Reformasi Ekonomi
Banyak upaya yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dalam melakukan reformasi
ekonomi, baik di bidang moneter, fiskal, mekanisme pasar (harga), peranan negara dalam
menciptakan pasar yang adil (hisbah), membangun etos entrepreneurship, penegakan
etika bisnis, pemberantasan kemiskinan, pencatatan transaksi (akuntansi), pendirian
Baitul Mal, dan sebagainya. Beliau juga banyak mereformasi akad-akad bisnis dan

berbagai praktek bisnis yang fasid (rusak), seperti gharar, ihtikar, talaqqi rukban, ba\u2019i
najasy, ba\u2019i al-\u2018inah, bai\u2019 munabazah, mulamasah dan berbagai bentuk bisnis maysir atau
spekulasi lainnya. dsb. Dari berbagai reformasi yang dilakukan Nabi Muhammad Saw,
praktek riba mendapat sorotan dan tekanan cukup tajam. Banyak ayat dan hadits yang
mengecam riba dan menyebutnya sebagai perbuatan terkutuk dan dosa besar yang
membuat pelakunya kekal di dalam neraka.

Paradigma pemikiran masyarakat yang telah terbiasa dengan system riba (bunga)
digesernya menjadi paradigma syariah secara bertahap. Menurut para ahli tafsir, proses
perubahan tersebut memakan waktu 22 tahunan. Pada awalnya hampir semua orang
beranggapan bahwa system riba (bunga) akan menumbuhkan perekonomian, tetapi justru
menurut Islam, riba malah merusak perekonomian. (lihat surah 39 : 39-41).
Selanjutnya Nabi Muhammad juga mengajarkan konsep transaksi valas (sharf) yang
sesuai syariah, pertukaran secara forward atau tidak spot (kontan) dilarang, karena sangat
rawan kepada praktik riba fadhl.
Kemudian, untuk melahirkan kekuatan ekonomi umat di Madinah, Nabi melakukan
sinergi dan integrasi potensi ummat Islam. Beliau integrasikan suku Aus dan Khazraj
serta Muhajirin dan Anshar dalam bingkai ukhuwah yang kokoh untuk membangun
kekuatan ekonomi umat. Muhajirin yang jatuh \u201cmiskin\u201d karena hijrah dari Mekkah,
mendapat bantuan yang signifikan dari kaum Anshar. Kaum Muhajirin yang piawai
dalam perdagangan bersatu (bersinergi) dengan kaum Anshar yang memiliki modal dan
produktif dalam pertanian. Kaum Anshar yang sebelumnya merupakan produsen yang
lemah menghadapi konglomerat Yahudi, kini mendapatkan hak yang wajar dan
kehidupan yang lebih baik. Kerjasama ekonomi tersebut membuahkan hasil gemilang
dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi ummat. Akhirnya banyak kaum muslimin
yang membayar zakat, berwaqaf dan berinfaq untuk kemajuan Islam.

Kebijakan ekonomi Nabi Muhammad Saw di Madinah juga terlihat dari upaya Nabi Saw

membangun pasar yang dikuasai ummat Islam. (Sebelumnya pasar-psar dominan
dikuasai kaum Yahudi), sehingga konsumen Muslim dapat berbelanja kepada pedagang
muslim. Dampaknya, semakin tumbuhlah perekonomian kaum muslimin mengimbangi
dominasi pedagang Yahudi.
Spirit reformasi yang dipraktekkan Nabi Muhammad Saw bersama para sahabatnya
dalam berhijrah, harus kita tangkap dan aktualisasikan dalam konteks kekinian, suatu
konteks zaman yang penuh ketidakadilan ekonomi, rawan krisis moneter, kemiskinan dan
pengangguran yang masih menggurita di bawah sistem dan dominasi ekonomi
kapitalisme.
Ruang lingkup Ekonomi Syariah
Ekonomi syari\u2019ah memiliki cakupan dan ruang lingkup yang sangat luas. Semua ajaran
ekonomi Islam tersebut seharusnya dapat kita aktualisasikan dan terapkan dalam
kehidupan, baik dalam bidang ekonomi mikro maupun ekonomi makro, seperti dalam
produksi, distribusi, konsumsi, kebijakan moneter, fiskal, manajemen, maupun akuntansi.
Konsep ekonomi Islam itu kini telah terefleksi dalam lembaga-lembaga keuangan
syari\u2019ah, seperti perbankan syari\u2019ah, asuransi syari\u2019ah, leasing syariah, pasar modal
syari\u2019ah, pegadaian syari\u2019ah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT). koperasi syariah, Multi
Level Marketing (MLM) Syariah, dan tentunya termasuk lembaga lembaga zakat maupun
waqaf.

Urgensi Memahami Ekonomi Islam
Jika umat Islam memahami konsep ekonomni Islam dan siap mengamalkannya, maka
kebangkitan ekonomi Islam dan peradaban ummat akan terwujud. Cuman persoalannya,
masih terlalu banyak ummat Islam yang belum memahami ekonomi Islam. Mininya
pengetahuan ummat akan ekonomi Islam disebabkan karena nihilnya kajian-kajian
ekonomi Islam oleh para ulama di tengah masyarakat. Selama berbada-abad materi
dakwah melulu ibadah dan aspek-aspek social Islam yang non ekonomi, sementara aspek
mumalah (dalam aspek ekonomi keuangan) diabaikan sama sekali. Akibatnya umat Islam
buta tentang ajaran agamanya sendiri yang pada gilirannya merasa asing dengan ajaran
agamanya sendiri, apalagi telah terbiasa dan mendarah daging dengan ekonomi
konvensional yang telah merasuk sejak zaman penjajahan.
Karena kondisi itu, tidak mengherankan jika masih banyak ummat Islam mengagap
ekonomi Islam dan ekonomi konvensioal sama saja, bank syariah dan bank konvensional
sama saja, margin jual beli dan bunga sama saja. Perbedaan ekonomi syariah dan
ekonomi konvensional hanya label, hakikatnya sama saja. Pokoknya keduanya tidak ada
bedanya.
Pernyataan-pernyataan tersebut adalah anggapan orang yang dangkal ilmunya tentang
ekonomi syariah, sekalipun mereka professor di bidang ekonomi konvensional atau
professor agama Islam (misalnya guru besar pemikiran Islam, filsafat Islam, atau
komunikasi dakwah), tetapi mereka belum memahami (mendalami) konsep ekonomi
Islam.
Al-quran sudah mengingatkan, orang-orang yang belum memahami syariah pasti akan
menolak syariah (lihat al-jatsiyah ayat 18). Sebaliknya, orang-orang yang telah
memahami syariah (dan menggunakan akal sehatnya/rasionya dalam kebenaran), pasti
menerima syariah. Fakta sudah membuktikan, semua ahli ekonomi Islam dunia yang
terdiri dari para doctor, professor dan juga master/magister menerima dan memahami
keunggulkan ekonomi syariah, bahkan mereka menjadi pendekar-pendekar ekonomi
syariah itu sendiri. Karena itu tidak ada seorangpun pakar ekonomi Islam yang
membolehkan bunga dalam perekonomian.
Demikian pula yang terjadi di Indonesia, para dosen atau praktisi yang telah belajar
ekonomi Islam secara mendalam di program pascasarjana, pasti melihat perbedaan besar
antara ekonomi Islam dan konvensional. Mereka melihat kerusakan sisstem ekonomi
ribawi dan keunggulan system ekonomi Islam.
Penutup
Momentum tahun baru Hijrah 1429 H ini, diharapkan memberi spirit bagi umat Islam
untuk hijrah ke syariah Allah swt yang pada gilirannya akan mendukung kebangkitan
ekonomi umat.
Semangat dan spirit hijrah harus kita implementasikan secara riil dalam kehidupan kita
dewasa ini. Kita harus segera hijrah dan berubah. \u201dSesunggunya Allah tidak akan
merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang melakukan perubahan akan
nasibnya\u201d. (Ar-Ra\u2019d : 110.
Ibnu Khaldun mengatakan bahwa kemajuan ekonomi merupakan pilar kemajuan
tamaddun (peradaban) Islam. Jika ekonomi lemah (pangsa pasarnya hanya 1,8 %),
kebangkitan umat sulit terwujud. Dengan demikian, dapat disimpulkan mereka yang
menghambat dan tidak mundukung gerakan ekonomi Islam, dan masih berkutat dalam
sistem ekonomi ribawi, berarti mereka penghambat kebangkitan Islam. Na\u2019uzubillah.

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Aisyah Al-Madain liked this
Aceng Purkon liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->