Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
peran nazir masjid dalam kebangkitan ekonomi islam - agustianto

peran nazir masjid dalam kebangkitan ekonomi islam - agustianto

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 3,426|Likes:
Published by Edy Ramdan
Artikel Ekonomi Islam atau Syari'ah, karya : Agustianto.
Riba Bank Ekonomi Syariah Islam Indonesia Bunga uang perbankan nasional quran fikih sdm manajemen bisnis finansial perusahaan miskin kaya fiqih muamalah marketing
Artikel Ekonomi Islam atau Syari'ah, karya : Agustianto.
Riba Bank Ekonomi Syariah Islam Indonesia Bunga uang perbankan nasional quran fikih sdm manajemen bisnis finansial perusahaan miskin kaya fiqih muamalah marketing

More info:

Published by: Edy Ramdan on Aug 11, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/01/2013

pdf

text

original

Peran Nazir Masjid dalam Kebangkitan Ekonomi Islam
Drs. Agustianto, MA
Muballigh, Sekjen IAEI dan Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana UI

Mesjid adalah tempat ibadah kaum muslimin yang memiliki peran strategis untuk
kemajuan peradaban ummat Islam. Sejarah telah membuktikan multi fungsi peranan
mesjid tersebut. Mesjid bukan saja tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat pendidikan,
pengajian keagamaan, pendidikan, militer dan fungsi-fungsi sosial-ekonomi lainnya.
Rasulullah Muhammad SAW pun telah mencontohkan multifungsi mesjid pada
manajemen mesjid Nabawi dalam membina dan mengurusi seluruh kepentingan umat,
baik di bidang ekonomi, politik, sosial , pendidikan, militer, dan lain sebagainya..
Dari fakta sejarah tesrsebut dapat disimpulkan bahwa masjid di masa awal Islam telah
difungsikan sebagai (1) pusat ibadah, (2) pusat pendidikan dan pengajaran, (3) pusat
penyelesaian problematika umat dalam aspek hukum (peradilan) (4). pusat pemberdayaan
ekonomi umat melalui Baitul Mal (ZISWAF). (5) pusat informasi Islam, (6) Bahkan
pernah sebagai pusat pelatihan militer dan urusan-urusan pemerintahan Rasulullah. Masih
banyak fungsi masjid yang lain. Singkatnya, pada zaman Rasulullah, masjid dijadikan
sebagai pusat peradaban Islam.

Ekonomi Pilar Peradaban

Salah satu pilar kemajuan peradaban Islam adalah amwal (wealth) atau ekonomi. Dalam
hal ini, Ibnu Khaldun mengatakan \u201cEkonomi adalah tiang dan pilar paling penting untuk
membangun peradaban Islam (Imarah). Tanpa kemapanan ekonomi, kejayaan Islam sulit
dicapai bahkan tak mungkin diwujudkan. Ekonomi penting untuk membangun negara
dan menciptakan kesejahteraan umat. (Ringkasan dari Muqaddimah Ibnu Khaldun, Bab
3,4 dan 5)

Al-Ghazali, Asy-Syatibi dan seluruh ulama ushul fiqh yang membahas maqashid
syari\u2019ah, pasti memasukkan amwal sebagai pilar maqashid. Shah Waliullah Ad-Dahlawy,
ulama terkemuka dari India, (1703-1762).berkata, \u201cKesejahteraan ekonomi merupakan
prasyarat untuk suatu kehidupan yang baik. Tingkat kesejahteraan ekonomi sangat
menentukan tingkat kehidupan. Seseorang semakin tinggi tingkat kesejahteraan
ekonominya, akan semakin mudah untuk mencapai kehidupan yang lebih baik (hayatan
thayyibah)

Para ulama Islam sepanjang sejarah, khususnya sampai abad 10 Hijriyah senantiasa
melakukan kajian ekonomi Islam. Karena itu kitab-kitab Islam tentang muamalah
(ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah. Para ulama tidak pernah mengabaikan
kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-
pengajian) keislaman mereka. Tetapi kini terjadi keanehan yang luar biasa, kajian-kajian
ekonomi Islam jarang sekali di mesjid-mesjid.

Tradisi keimuwan ekonomi yang eksis di masa silam, harus dihidupkan kembali di
mesjid-mesjid, agar fungsi mesjid sebagaimana zaman Rasulullah dapat diwujudkan
kembali.

Masalah Nazir Mesjid

Banyak problem mismanajemen dalam memakmurkan mesjid yang terjadi saat ini. Salah
satu penyebab terjadinya mismanajemen tersebut adalah pengurus mesjid (nazir mesjid)
yag tidak memiliki kapabilitas dan berwawasan sempit dalam beragama.
Padahal nazir mesjid, khususnya yang membidangi dakwah, sangat menentukan untuk
kebangkitan kembali peradaban Islam seperti masa lampau. Nazir mesjid sangat
menentukan maju-mundurnya umat Islam. Nazir mesjid yang berwawasan sempit yang
memandang agama Islam sebatas ibadah dan aqidah hanya tertarik dengan kajian
spiritual belaka, sehingga mereka mengundang para ustaz yang ahli fiqih ibadah dan ahli
teologi/sufistik saja. Nazir mesjid sangat jarang (kalau tak ingin mengatakan tak pernah
sama sekali) memilih materi ekonomi Islam yang ruang lingkupnya sangat luas. Padahal
menurut kesepakatan semua ulama mengkaji ekonomi syariah hukumnya wajib \u2019ain.
Menurut Husein Shahhatah, dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim
berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari\u2019ah
Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada
sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari. (Buku Al-Iltizam bith-Thawabith
asy-Syar\u2019iyah fil Muamalat al-Maliyah,Mesir, 2002)I

Selama ini materi ceramah dalam pengajian rutin berkisar di seputar tauhid, tasawuf,
fiqh, keluarga sakinah, akhlak dan adapula yang secara khusus mengkaji tafsir atau
hadits. Namun sangat jarang membahas kajian muamalah (ekonomi Islam). Padahal
ekonomi Islam adalah bagian penting dari ajaran Islam. Masalah ekonomi adalah masalah
paling urgen (dharury). Para ulama masa lampau tak pernah mengabaikan kajian
muamalah (ekonomi Islam). Hal itu bisa dibuktikan dalam kitab-kitab hasil karya
mereka. Ekonomi Islam bukan saja menjadi pilar dan rukun kemajuan Islam, tetapi juga
merupakan fardhu \u2019ain untuk diketahui setiap muslim.(Husein Sahhatah)

Nazir mesjid yang cerdas dan ingin akan kebangkitan Islam, akan menjadikan materi
ekonomi Islam sebagai salah satu materi kajian dalam pengajian agama di mesjid, baik
dalam pengajian rutin atau tabligh keagamaan maupun dalam khutbah jum\u2019at.

Dampak mengabaikan kajian muamalah
Akibat nazir mesjid tidak mengundang penceramah yang ahli ekonomi Islam, maka
tingkat pengetahuan umat Islam tentang muamalah maliyah sangat rendah. Hal ini sangat
berbahaya bagi umat Islam dan kemajuan peradaban Islam. Pertama, aktivitas
perekonomian yang mereka jalankan dalam berbisnis, mencari rezeki, dan berinvestasi,
banyak yang bertentangan dengan syariah Allah, seperti riba, maysir, gharar dan bathil,
sebagaimana yang terjadi secara meluas saat ini Kedua, umat Islam tetap terpuruk dalam
kemiskinan dan keterbelakangan. Demikian pernah dikemuka kan kata K.H.Ali Yafie.
Ketiga, krisis ekonomi negara tetap lambat untuk pulih, karena umat Islam masih sangat
banyak yang mempraktekkan bunga yang merusak ekonomi negara. Keempat, Kemajuan
peradaban Islam dan kebangkitan umat sulit terwujud, karena ekonomi sebagai pilar
kebangunan umat tidak difahami dan dikuasai umat Islam.

Akibat nihilnya kajian ekonomi Islam di mesjid-mesjid, maka umat Islam banyak yang
tidak mengetahui konsep-konsep ekonomi Islam. Misalnya, mekanisme mudharabah dan
keunggulannya, sehingga memandangnya sama saja dengan bunga bank. Umat Islam
juga tidak bisa membedakan antara bunga dan margin murabahah. Umat Islam tidak

mengetahui bahwa seluruh ulama ekonomi dunia Islam telah ijma\u2019; tentang keharaman
bunga bank. Umat Islam banyak yang tidak mengetahui 25 perbedaan fundamental bank
syariah dan bank konvensional, tidak mengetahui 10 prinsip dasar ekonomi Islam yang
wajib diketahui setiap muslim. Umat Islam banyak yang tidak tahu dampak bunga
terhadap inflasi, investasi, produksi, pengangguran dan kemiskinan. Umat Islam banyak
yang tidak tahu secara ilmiah dan rasional mengapa bunga dalam Islam dipandang
sebagai dosa terbesar setelah syirik, durhaka pada orang tua dan pelaku bunga kekal
dalam neraka (QS.2:275).

Umat Islam banyak yang tidak tahu jika bunga telah membawa penderitaan massal yang
menyakitkan bagi kemanusiaan, karena bunga telah menjatuhkan banyak negara ke
lembah jeratan hutang yang parah. Karena menerapkan bunga, maka APBN Indonesia
dikuras secara hebat untuk menyumbang lembaga bank (berbasis bunga) lewat obligasi
BLBI mencapai Rp 700 triliun. Bunga secara signifikan telah menaikkan harga BBM,
listrik, telephon. Kenaikan harga-harga barang strategis tersebut dimaksudkan untuk
menambah income negara bagi biaya APBN. Padahal hampir sepertiga anggaran negara
Indonesia untuk mensubsidi/membayar bunga kepada bank-bank konvensional tersebut
dan bunga hutang luar negeri.

Umat Islam juga banyak yang belum mengerti hukum syariah tentang akad-akad dalam
transaksi muamalah maliyah. Padahal semuanya harus dikaji, agar umat Islam tak
terjebak kepada perilaku yang batil dalam mencari nafkah. Lebih dari 42 bab bentuk-
bentuk akad muamalah yang harus diketahui umat Islam, antara lain, syirkah, ijarah,
wadiah, rahn, salam, istisna, kafalah, hawalah, dan sebagainya. Lain lagi akad-akad yang
dilarang dalam Islam, seperti gharar, najasy, talaqqi rukban, ihtikar, maysir, ba\u2019i al-\u2019inah,
ba\u2019i kali bikali (dain bid dain), dan banyak lagi. Materi ini secara mendasar harus
difahami umat Islam. Kalau tidak, mereka akan mudah terperosok kepada perilaku
ekonomi yang batil. Kini umat Islam, termasuk para ustaz yang tak faham ilmu ekonomi
muamalah, seperti ilmu moneter terjerumus kepada aktivitas ekonomi ribawi. Karena
kedangkalan ilmunya tentang muamalah, banyak yang mempraktekkan riba dalam
perbankan, asuransi, pasar modal, reksadana, pegadaian, koperasi, hutang-piutang dan
hampir seluruh transaksi keuangan modern. Anehnya, tanpa merasa berdosa mereka
menganggap biasa-biasa saja menabung atau mendepositola uang di bank konvensional.
Padahal bunga bank merupakan dosa terbesar dari dosa manapun, selain syirik dan
durhaka kpd ibu baba.

Ulama Abdul Sattar, mengatakan, mengetahui hukum ekonomi Islam adalah dharuriyah
(kemestian primer/utama) yang tak bisa ditawar. Jika umat Islam tidak mengetahui
hukum muamalah maliyah, maka dikhawatirkan sekali umat Islam akan terperosok
kepada praktek kebatilan dan keharaman. Apa yang dicemaskannya itu kini telah terjadi,
dimana banyak umat Islam yang telah terperosok ke dalam praktek ribawi. Anehnya
mereka tak menyadari bahwa praktek itu paling terkutuk (Banyak hadits Nabi Saw
menjelaskan ini) . Bahkan dengan tanpa dasar ilmu ushul fiqh mereka mengatakan bahwa
masalah bunga masih khilafiyah. Masya Allah ! Perkara yang telah menjadi ijma\u2019
dikatakan khilafiyah .Ini karena mereka tidak belajar sejarah ekonomi Islam
kontemporer, bagaimana semua ahli ekonomi Islam di dunia yang jumlahnya ratusan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->