Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sang Penjemput

Sang Penjemput

Ratings: (0)|Views: 5 |Likes:

More info:

Published by: Andrea Febrian Marcel on Jan 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2011

pdf

text

original

 
Sang Penjemput
Taken From : The Spirit WhispererBy: Ed Candra CanicTrue Story.Pada suatu petang di sebuah vila di kawasan Puncak, Jawa Barat, saya duduk di sebuah kursi kayupanjang yang ternaungi dari tetesan hujan oelh rambatan tebal pohon bugenvil, berwarna perpaduanhasil okulasi antara putih kekuningan dan merah muda gelap."Selamat sire!" sapa pemilik rumah, seorang lelaki yang sudah berusia lanjut dan sudah sangat sayakenal, tetapi lama lama tidak bersua, "rupanya kamu, Ed!" lanjutnya."Sudah sangat lama sekali," kata saya sambil bangkit beridiri lalu berjalan menyambut dan memelukorang tua ini.pertemuan kami dulu terjadi di Tanjung Pinang, pulau Bintan, Riau. kami sering makan malam danmengobrol di Akau restoran, sebenernya restoran ini lebih mirip pusat penjualan manakan malam harikanrena pada siang hari beralih fungsi menjadi terminal kendaraan. Suatu ketika, kami mengobrolpanjang lebar sampai akhirnya, entah bagaimana proses panjang lebar sampai akhirnya, entahbagaimana proses tercetusnya, ia berbicara tentang mitos Sang Penjemput. kami sempat berkelakar bilasaatnya nanti salah satu dari kami, walaupun penekanannya pada yang lebih lanjut usia, sudahmenjelang ajaldan bertemu dengan Sang Penjemput, maka harus mengajak yang lain untuk ikutmenyaksikan fenomena ini. sebuah fenomena yang terlalu berharga untuk disimpan sebagai rahasiapribadi dan dibawa pergi.sebagian pemukiman penduduk tradisional yang ada di kota ini menjorok jauh ke laut. rumah-rumahdihubungkan oleh jembatan berupa papan kayu. sebagian besar penghuninya sudah terbiasa tidurdalam buaian debur ombak di bawah rumah. kami juga sering memancing di atas jembatan penhubungini sambil menikmati pemandangan ke arah pulau penyengat yang terkenal dengan masjid indahnya. Diberbagai sudut masih sering terdengar lagu "Barcelona"-nya Fariz RM dengan eksotisme musik Spanyolyang banyak disukai."Ed, kamu dapat menebak kira-kira mengapa saya undag kmu ke sini?" tanyanya."tebakan saya bisa banyak. biar tidak kemana-mana, mendingan saya melihat perkembangan saja, barukemudian menjawab.""Kita memiliki cukup waktu mengobrol lagi, kan, kali ini?" tanyanya lagi.
 
 "Kali ini, waktu saya berlebih. bapak tidak perlu to the point." saya mencoba lebih mencairkan suasana,"O ya, bagaimana kabar Erin dan Dan?"Istri dari lelaki ini sudah meninggal beberapa tahun lalu. Erin dan Dan adalah anak-anaknya."Erin sudah pindah mengikuti suaminya ke San Fransisco, lalu Dan sekarang bekerja di Belanda, ia jugasudah berkeluarga serta memiliki dua putra. kebetulan adik saya sekeluarga masih tinggal di Belanda, jadi pada masa awal di sana, Dan tidak kesepian." Ia lalu menambahkan, "dalam hidup, kita melihatmasa lalu, segala yang tidak akan terulang, terkadang merindukan masakan ikan pindang istri saya.Menikmati masa sekarangdan mencoba menerima masa yang akan datang rasanya masa muda barukemarin. baru kemarin juga, saya menikah dan melewati masa-masa indah, beberapa jam yang lalu Erindan Dan berlarian di rumah. bahkan beberapa menit yang lalu, kita untuk pertama kalinya bretemu, ya!O ya, Dan dan Erin akan pulang beberapa hari kedepan."Saya harus mengakui bahwa sering kali waktu terasa begitu cepat berlalu; bulan berganti bulan, tahunberganti tahun. Rasanya semua seperti baru terjadi kemari. kadang-kadang kita begitu ingin mengulangbarbagai kenangan indah, tetapi masa lalu tetaplah sudah berlalu."Apa akhir-akhir ini ada yang menagganjal di hat?" saya mencoba menggali informasi."Kamu tahu, Ed! Manusia tidak akan pernah puas, tetapi kita harus belajar untuk merasa cukup.Memiliki hidup pun suatu saat aada cukupnya. saya dudah merasa cukup untuk segala sesuatu yangdinamakan hidup." Ia melanjutkan, "Kamu ingat apa yang dulu pernah kita bicarakan sewaktu di Bintan?Menagnai Sang Penjemput?""Ingat, sangat ingat," jawab saya, " memangnya cerita Sang Penjemput mau dijadikan berseri?""Kali ini saya mau memberimu testimoni," ucapnya sambil memebri saya sebotol minuman bervitaminC.Melihat minuman bercita rasa limau ini, saya teringat Amelia Vega, Miss Universe yang hampir setiaphari belakangan ini mucnul di TV sebagai bintang iklannya."Keliahatannya begitu serius. saya sekarang siap menjadi rekan Sharing."Dalam seminggu ini, saya beberapa kali kedatangan sorang tamu. Ia bisa berada di mana saja danbukanlah manusia, setelah saya tanyakan maksud kedatangannya, ia menjawab bahwa tuagsnya adalahmenjemput saya. Ia juga menjelaskan bahwa saya sudah dtunggu oleh jiwa dari orang-orang tercintayang telah meninggal. Sang Penjemput ini akan meunggu sampai saya siap. Kami bersepkata untukmemberi semacam toleransi waktu pada saya sampai empat hari, dan hari keempat jatuh pada hari ini.Saya beraharap kamu mau menyaksikan peristiwa ini dan menjadi pengantar saya. Satu lagi, sebelum
 
kedua anak saya tiba, tolong lakukan apa saja yang dirasa perlu untuk membereskan hal-hal yang terkaitdengan saya besok. Deal?""Deal!""Kamu sekarang mulai merasakn adanya sesuatu yang tidak biasa?" Kali ini, ia bertanya sambiltersenyum."Memang ada semacam rasa seakan-akan membuat diri melayang. Tetapi masalahnya, saya tidak bisamemastikan apakah rasa ini timbul akibat dari rasa saya terbawa oleh perasaan Bapak, atau memangada sesuatu yang lain.""Saya juga tidak dapat membantu untuk memastikan. Terlepas dari itu, sekarang tamu kita sudahdatang, ia sedang berdiri lurus dihadapan saya."saya langsung menoleh ke arah yang dimaksud, tetapi kali ini saya benar-benar tidak dapat melihatadanya "sesuatu" yang tidak biasa. Tanda-tanda kehadirannya pun bagi saya hanya dapat dirasa dengansangat terbatas. Saking terbatasnya sampai-sampai saya tidak bisa memastikan bahwa tanda-tanda itubenar-benar merupakan suatu pertanda atau boleh jadi hanya komplikasi antara perasaan dan imajinasisaya."Biasanya saya jadi medium, tetapi kali ini bial tidak berkeberatan, Bapaklah yang menjadi perantarasaya. Bagaimana?""Tidak masalah.""Apa memang benar ada kapal seperti dalam mitos?""itu hanyalah pengandaian.""Apakah kita layak mencemaskan hal-hal yang ada di alam sana?""Sang Pencipta itu maha pengasih!""Apakah seseorang dapat meminta agar cara meninggalnya tidak menyakitkan?""Berdoalah. walau dengan keyakinan sebesar biji, pasti didengar!""JIwa seseorang yang sudah meninggal nantinya akan bersatu kembali dengan sanak keluarganya?""Pasti!"

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->