ِ َ ئِا َ ْ ِ خ ْ ُ ْ ِ َ ِ سْأَُا َ مْأَن ّ ه ِ سِ ؤُ ُى َ عَ، تٌ َ ي ِ مُ ْ ببه ُ َ مٌَاببجَ ِ َ، اببه َ َ َِد ْ بب ِ ََ َ، َ بب ّ َ ْ ن َ ببْ ر َ ََ،( َابب ّ اببه َ َِ وُ ر ِ ببض ْ َ، ر ِ ببَ َ ْ ِاببَذْ َ َطٌاي َ ببسْأَ (لح ن دحأ
Diberitakan kepada kami Aswad ibn Amir, diberitakan kepadakami Syarik, dari Suhail ibn Abi Sholih dari ayahnya, Abi Hurairahberkata: Rasulullah SAW. bersabda: (‘Ada dua kelompok penghunineraka yang belum pernah aku lihat: (1) sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi; dengan cambuk itu merekamemukuli orang, dan (2) kaum perempuan yang berpakaian (seperti)telanjang, berjalan lenggak lenggok, menggoda/memikat, kepalamereka bersanggul besar dibalut laksana punuk unta; mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan dapat mencium harumnya, padahal keharuman surga dapat tercium dari jarak sekian’.” (HR. Imam Ahmad).
Dari hadis diatas menjelaskan tentang efek dan larangan berpakaianketat. Faedah Islam menentukan hukum itu berdampak untuk kehidupan.Begitu juga dalam hal berpakaian, pakaian ketat banyak memberikan efek negatif terhadap kehidupan. Akan tetapi, di lain sisi wanita juga mempunyaikecenderungan instingtif untuk menunjukkan lekuk tubuh, gemulai tubuh dan bangga akan kecantikannya, dan itu katanya adalah wajar dan kebutuhan psikologisnya. Tapi apakah kecenderungan itu baik untuk kehidupan spiritualmaupun biologisnya. Padahal Islam telah menyerukan agar kita mewujudkankeseimbangan antara kebutuhan biologis dan spiritual dalam kehidupan,dengan cara menghindari keberlebihan dalam pemenuhan salah satu darikeduanya dengan mengabaikan yang lainnya. Islam tidak pernah menyerukepada manusia kepada konsep kerahiban yang mengekang kebutuhan biologis, akan tetapi Islam menyeru manusia untuk memenuhi kebutuhansesuai kadar dan porsinya.
Berpakaian ketat merupakan kebutuhan biologis perempuan yang berlebihan, karena pada hakekatnya wanita itu memiliki dayatarik yang lebih. Apalagi dengan berpakaian ketat maka banyak kemudharatan
1
Ahmad bin Hanbal Abu Abdullah as-Syabanii, kitab
Musnad Imam Ahmad binHanbal,
Juz 6 (Lebanon : Alimul al-Kutb, 1998), 356
2
Mufsir bin Said Az Zahrani,
konseling terapi
, (Jakarta: Gema Insani, 2005).408.
3