Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
KONSEP SENI SAYYID HUSEIN NASR
Dikutip dari buku
WACANA BARU FILSAFAT ISLAM
Penulis
A Khudori Soleh
Penerbit, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 2004Hal. 316-332Seni Islam, menurut Nasr,
1
setidaknya mengandung tigahal (1) Mencerminkan nilai-nilai religius, sehingga tidak ada yangdisebut seni sekuler. Tidak ada dikotomi religius dan sekulerdalam Islam. Apa yang disebut kekuatan atau unsur sekulerdalam masyarakat Islam selalu memiliki pengertian religiusseperti halnya hukum Ilahi yang secara spesifik memiliki unsur-unsur religius. (2) Menjelaskan kualitas-kualitas spiritual yangbersifat santun akibat pengaruh nilai-nilai sufisme. (3) Adahubungan yang halus dan saling melengkapi antara masjid danistana, dalam hal perlindungan, penggunaan dan fungsi berbagaiseni. Karena itu, seni Islam, bagi Nasr, tidak hanya berkaitandengan bahan-bahan material yang digunakan tetapi juga unsurkesadaran religius kolektif yang menjiwai bahan-bahan materialtersebut.
A. Riwayat Hidup.
Sayyid Husein Nasr lahir di Teheran, Iran, 7 April 1933, darikeluarga terpelajar. Ayahnya, Sayed Waliyullah Nasr adalahdokter dan pendidik pada dinasti Qajar, kemudian diangkatsebagai pejabat setingkat menteri pada masa dinasti Reza Syah.
2 
Pendidikan awalnya dijalani di Teheran ditambah dari orangtuanya yang menanamkan disiplin keagamaan secara ketat,kemudian di Qum dalam bidang al-Qur`an, syair-syair Persiaklasik dan sufisme.
3
Nasr kemudian melanjutkan pendidikan di
MassachusettsInstitute of Technologi
(MIT), AS, dan meraih gelar B.Sc dalambidang fisika dan matematika teoritis, tahun 1954,
4
dan
1 Husein Nasr,
Spiritualitas & Seni Islam
, terj. Setejo, (Bandung, Mizan, 1993), 22-23.2 Jane I. Smith, ‘Seyyed Hossein Nasr’ dalam John L. esposito (ed.),
The Oxfor Encyclopedia of The Modern Islamic World,
(New York: Oxford University Press, 1995) p. 2303 Abd Aziz Dahlan (edit),
Suplemen Ensiklipedia Islam
, II, (Jakarta, Ichtiar Baru VanHaouve, 1996), 80. Meski dipedalaman dan dianggap tradisional, pendidikan di Teheran ini terapmengedepankan intelektualitas. Kajian filsafat tetap berkembang disana dan menjadi kebanggaanintelektualisme Iran. Menurut Nasr, filsafat Islam tetap berkembang di Iran meski dalam duniaIslam telah berakhir pada abad tengah. Setidaknya ada dua kali kebangkitan filsafat di Iran, (1) pada periode Safawi dengan munculnya tokoh seperti Mir Damad dan Mulla Sadra, (2) sepanjangabad ke-19 M yang dipelopori oleh Mulla ‘Ali Nuri dan Haji Mulla Hadi Sabziwari, dan tradisitersebut tetap berlanjut di madrasah-madrasah selama periode Pahlevi. Lihat Hossein Nasr,
 IslamTradisi di Kancah Dunia Modern,
(Bandung, Pustaka, 1994)
 ,
195.4 Smith,
Seyyed Hossein Nasr,
230; lihat juga C.A. Qadir,
 Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
 
seterusnya meraih MSc dalam bidang geologi dan geofisika dariHarvard. Namun, pada jenjang berikutnya, Nasr lebih tertarikpada filsafat, sehingga meraih PhD dari Harvard, tahun 1958,dalam bidang sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat dengandesertasi berjudul
 An Introduction to Islamic CosmologicalDoctrine
dibawah promotor HAR. Gibb.
5
Selama menempuhpendidikan di Amerika, khususnya di Harvard, Nasr banyakmengenal pemikiran tokoh filsafat Timur, seperti Gibb,Massignon, Henry Corbin, Titus Burckhardt dan Schoun.Pemikiran tokoh-tokoh ini diakui banyak memberikan pengaruhpada pandangan Nasr.
6
Setelah itu, tahun 1958, Nasr pulang ke Iran. Disini ia lebihmendalami filsafat Timur dan filsafat tradisional dengan banyakdiskusi bersama para tokoh terkemuka agama Iran, seperti Thabathabai, Abu Hasan al-Qazwini, dan Kazin Asar.
7
Dalamkegiatan akademik, Nasr mengajar di Universitas Teheran,menjadi dekan fakultas sastra pada lembaga yang sama tahun1968-1972, dan tahun 1975-1979 menjadi direktur
ImperialIranian Academy of Philosophy 
, sebuah lembaga yang didirikandinasti Syah Reza Pahlevi, untuk memajukan pendidikan dankajian filsafat.
8
Nasr berhasil dalam tugas ini sehingga diberigelar kebangsawanan oleh Syah.Kredibilitas Nasr sebagai intelektual dan akademisi tidakhanya dikenal di negeranya sendiri tetapi juga diakui di negeri
 Dalam Islam,
terj. Mulyadi Kartanegara, (Jakarta: Pustaka Jaya, t.t), 154. Menurut Georgio deSantilana, pemilihan bidang matematika dan fisika oleh Nasr ini, kemungkinan, dipengaruhi olehkecenderungan dunia keilmuan di Amerika saat itu yang lebih memperhatikan soal-soal ilmukealaman. Lihat, Nasr,
Sain dan Peradaban Dalam Islam
, p. v5 Smith,
Seyyed Hossein Nasr 
, 230; lihat juga Nasr,
Sain dan Peradaban Dalam Islam,
terj. J. Mahyudin (Bandung: Pustaka, 1986), v. Kegandrungan Nasr pada filsafat Timur inisebenarnya telah ada sejak kuliah di MIT. Saat itu, Nasr telah mempelajari ilmu-ilmu tradisionalTimur, seperti Hindhu, Budha dan khususnya Islam. Juga berkenalan dengan tulisan tokoh-tokohfilsafat Timur, seperti Rene Gueneoun, Schoun, Buckhadt dan lainnya. Dahlan,
Suplemen Ensiklipedia Islam
, xiv.6 Nasr,
 Islam Tradisi di Kancah Dunia Modern,
259. Tentang bagaimana filsafat masuk ke dunia Amerika setelah adanya gerakan
 Renaissance
yang kemudian ditindaklanjuti dengan
 Aufklarung 
di Eropa, lihat Bernard Delfgaauw,
Sejarah Ringkas Filsafat Barat,
terj. SoejonoSoemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992), 103 & 119.7 Dahlan,
Suplemen Ensiklipedia Islam
, II, 80; Dalam diskusi-diskusi ini Nasr sangatmengagumi Thabathabi yang dianggapnya sebagai orang yang ahli filsafat Timur dan filsafattradisional. Tentang ini, lihat pengakuan Nasr, ‘Pengantar’ dalam Thabathabi,
 Islam Syiah Asal Usul dan Perkembangannya
, tej. Johan Effendi, (Jakarta, Pustaka Grafiti, 1993), 24.8 Smith,
Seyyed Hossein Nasr 
, 231. Lembaga ini merupakan kelanjutan dari InstitutFranco-Iranien yang didirikan pada tahun 1946 di Teheran. Lembaga itu merupakan departemen pengkajian tentang keiranan yang didirikan oleh departemen perhubungan dan kebudayaanPerancis dengan tujuan awalnya untuk memulai serangkaian peblikasi teks yang bertitel
 Bibliotheque iranienne
(sejumlah besar teks penting mengenai filsafat Islam dan Sufisme) kepadadunia Islam kontemporer dan Barat Direktur pertamanya adalah Henry Corbin yang bertemu Nasr  pada saat ia baru kembali dari Amerika ke Teheran pada tahun 1958. Keduanya kemudian menjalinkerjasama yang akrab selama duapuluh tahun. Lihat Nasr,
 Islam Tradisi
, 259 dan 285
 
 Estetika/ Pemikiran Seni Nasr 
lain, sehingga sering diundang seminar atau memberi kuliahdiluar negeri. Antara lain, memberi kuliah tamu di Harvard,Amerika, tahun 1962-1965; di Universitas Amerika di Beirut(
 American University of Beirut)
tahun 1964-1965, menjadidirektur lembaga Aga Khan untuk kajian ke-Islaman (
 Aga KhanChair of Islamic Studies)
pada Universitas yang sama.
9
Nasr jugamemberikan makalah pada
Pakistan Philosophical Congress,
diPakistan
,
tahun 1964;
memberikan kuliah di UniversitasChicago, tahun 1966, atas sponsor
Rockefeller Foundation
,
dantahun 1981 memberi kuliah di
Giffort Lectures
, lembaga yangdidirikan oleh Universitas Edinburg (
Edinburg University 
) tahun1889.
Selain itu, tahun 1967, Nasr bersama Muthahhari jugabergabung dengan
Husainiyah Irsyad
, sebuah organisasi atasprakarsa Ali Syariati (1933-1977 M) yang bertujuan untukmemberikan panduan intelektual pada masyarakat, berdasarkanpemikiran, pandangan, dan kebijaksanaan Imam Husayn sertaberlandaskan ajaran Islam, kondisi masyarakat dan ajaran Syiahpada masa kini.
. Akan tetapi, karena ada perbedaan prinsipdengan Ali Syariati, Nasr dan Muthahhari akhirnyamengundurkan diri dari organisasi tersebut. Masalahnya,menurut Nasr, Ali Syari’ati telah membawa faham
liberationtheologi
dari Marxisme dan Barat kedalam Islam, berupayamenyajikan Islam sebagai kekuatan revolusioner dengan
9 Nasr,
 Ideals and Realities of Islam,
(London, George Allend & Unwin Ltd, 1986), 7.Menurut Nasr, posisi Aga Khan di Beirut menjadikannya sebagai lembaga yang strategis, karenaBeirut merupakan titik temu antara Timur dan Barat, Islam dan Barat, dan tempat dimana berbagaimazhab Islam terwakili. Lembaga ini mengembangkan filsafat Anglo-Saxon, mengadakan dialogantar agama serta kajian-kajian tentang madzhab-madzhab dalan Islam.10 Qadir,
 Filsafat dan Ilmu
Pengetahuan, 155-15611 Dalam kuliah yang bertujuan untuk meneliti soal perdamaian dan kehidupan manusiaini, Nasr menguraikan akar-akar intelektual dan metafisis terjadinya krisis lingkungan, lalu iamenyerukan agar prinsip-prinsip kearifan tradisional ditumbuhkan kembali dalam segala aspek kehidupan modern, terutama sains. Lihat Nasr,
The Encounter of Man and Nature,
(London:George Allend & Unwin Ltd, 1968), 13. Buku ini merupakan kumpulan dari materi-materi kuliah Nasr di Universiatas Chicago tersebut.12 Nasr,
 Knowledge and Sacred,
(Edinburg: Edinburg University Press, 1981), vii.
Giffort Lectures
adalah asosiasi yang prestisius bagi teolog, filosof, maupun scientis Eropa danAmerika, yang telah menghasilkan buku-buku berpengaruh di dunia. Nasr adalah sarjana muslim bahkan sarjana Timur pertama yang mendapat penghargaan untuk tampil dalam forum tersebut,sejak ia didirikan seabad yang lalu.13 Ali Syari’ati,
Membangun Masa Depan Islam,
terj. Rahmani Astuti, (Bandung:Mizan, 1994), 133-134. Lembaga Husainiyah Irsyad ini menawarkan banyak program yang bisadibagi dalam tiga kategori, (1) bidang riset meliputi enam kajian; Islamologi, filsafat sejarah dansejarah Islam, kebudayaan dan ilmu-ilmu Islam, negara-negara Islam, serta seni dan sastra. (2)Bidang Pendidikan, meliputi lima kelompok, Islamologi, Qur’anologi, Pelatihan dakwah, Sastradan seni, Bahasa dan sastra Arab-Inggris. (3) Bidang propaganda, mencakup retorika, pidatokeagamaan, konferensi ilmiah, kongres, seminar, dan wawancara ilmiah. Tiga program tersebutdidukung satu unit logistik berupa Pusat buku, dokumen dan statistik, perpustakaan keliling, percetakan, publikasi, terjemahan, dan penyelenggaran ibadah haji. Lihat,
 Ibid,
134-1353
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more