Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Etika Profesi - pendidikan nasional

Etika Profesi - pendidikan nasional

Ratings: (0)|Views: 45 |Likes:
Published by Iqbal Radhibillah

More info:

Published by: Iqbal Radhibillah on Jan 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/22/2011

pdf

text

original

 
Problematika Pendidikan Nasional
Diakui atau tidak, krisis multidimensional yang melanda negeri ini membuka matakita terhadap mutu pendidikan manusia Indonesia. Pun dengan sumber daya manusia hasil pendidikan yang ada di negeri ini. Memang, penyebab krisis itu sendiri begitu kompleks. Namun tak dipungkiri bahwa penyebab utamanya adalah sumber daya manusia itu sendiriyang kurang bermutu. Jangan harap bicara soal profesionalisme, terkadang sikap manusiaIndonesia yang paling merisaukan adalah seringnya bertindak tanpa moralitas.Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Brunei danapalagi dengan Singapura kita jauh tertinggal. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya dayasaing SDM Indonesia untuk memperoleh posisi kerja yang baik di tengah-tengah persainganglobal yang kompetitif.
Sekurang-kurangnya ada sembilan point kekeliruan pendidikan nasional kita selamaini, meliputi:
1.
Pengelolaan pendidikan di masa lampau terlalu berlebihan penekanannya pada aspek kognitif, mengabaikan dimensi-dimensi lainnya sehingga buahnya melahirkangenerasi yang mengidap split personality, kepribadian yang pecah.
2.
Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan generasi yang hanya bisamemandang Jakarta (ibu Kota) sebagai satu-satunya tumpuan harapan tanpa mampumelihat peluang dan potensi besar yang tersedia di daerah masing-masing.3.Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan masyarakat yang berdisiplin.4.Gagal melahirkan lulusan (SDM) yang siap berkompetisi di dunia global
5.
Pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan hak-hak azasimanusia. Sebagai contoh, pada masa orde Baru, Guru negeri di sekolah lingkunganDikbud mencapai 1 guru untuk 14 siswa, tetapi di madrasah (Depag) hanya 1 gurunegeri untuk 2000 siswa. Anggaran pendidikan dari Pemerintah misalnya di SMU
Nama: Muhamad IqbalRadhibillahNIM: 0906869Kelas: BMata Kuliah: Etika Profesi PLS Tugas: 5 (Kode Etik Pend. Nonformal)
 
negeri mencapai Rp.400.000,-/siswa/tahun, sementara untuk Madrasah Aliah hanyaRp.4.000,-/anak/tahun.6.Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan SDM dikalahkanoleh uniformitas yang sangat sentralistik. Kreatifitas masyarakat dalam pengembangan pendidikan menjadi tidak tumbuh.7.Sentralisasi pendidikan nasional mengakibatkan tumpulnya gagasan-gagasan otonomidaerah.8.Pendidikan nasional kurang menghargai kemajemukan budaya, bertentangan dengansemangat bhinneka Tunggal Ika.9.Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme yang dipaksakan –yakni melalui P4dan PMP, terlalu kering sehingga kontraproduktif.
Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional ini sekarangtelah melahirkan buahnya yang pahit, yakni:
 
Generasi muda yang langitnya rendah, tidak memiliki kemampuan imajinasiidealistik.
Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global.
Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif.
Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain fair 
Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis
Sumberdaya alam (terutama hutan) yang rusak parah
Cendekiawan yang hipokrit,
Hutang Luar Negeri yang tak tertanggungkan
Merajalelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya.
Pemimpin-pemimpin daerah yang kebingungan. Bupati daerah minus tetapmengharap kucuran dari pusat, bupati daerah plus menghambur-hamburkan uanguntuk hal-hal yang tidak strategis.
Pendidikan pada Era reformasi
Era reformasi melahirkan keterkejutan budaya, bagaikan orang yang terkurung dalam penjara selama puluhan tahun kemudian melihat tembok penjara runtuh. Merekasemua keluar mendapati pemandangan yang sangat berbeda, kebebasan danketerbukaan yang nyaris tak terbatas. Suasana psikologis eforia itu membuat
 
masyarakat tidak bisa berfikir jernih, menuntut hak tapi lupa kewajiban, mengkritik tetapi tidak mampu menawarkan solusi.
Masyarakat pendidikan tersadar bahwa SDM produk dari sistem pendidikan nasionalkita tidak bisa bersaing dalam persaingan global sehingga kita hanya mampumengekspor tenaga kerja PRT, sebaliknya tenaga skill pun di dalam negeri harus bersaing dengan tenaga skill dari luar. Problemnya, output pendidikan yang bermutuitu baru dapat dinikmati 20-25 tahun kemudian. SDM kita yang tidak kompetitif hariini adalah juga produk dari sistem pendidikan sejak 20-30 tahun yang lalu. Untuk mengubah sistem pendidikan secara radikal juga punya problem, yaitu tenaga guruyang kita miliki adalah produk dari sistem pendidikan yang tidak tepat. Dalam konsepIKIP guru adalah instrument pendidikan, bukan tokoh yang bisa mentransfer kebudayaan kepada anak didiknya. Lingkaran setan inilah yang sulit diputus.
Dibutuhkan keputusan politik dan kemauan politik yang sungguh-sungguh untumengubah sistem pendidikan di Indonesia menjadi pembangun budaya bangsa.Sayang ahli-ahli pendidikan kita lebih berorientasi kepada textbook dibandingmelakukan ujicoba sistem di lapangan. Guru-guru SD tetap saja hanya tenaga pengajar, bukan guru yang digugu dan ditiru seperti dalam filsafat pendidikannasional kita sejak dulu. Mestinya Doktor dan Profesor bidang pendidikan tetapmengajar di SD-SLP sehingga mampu melahirkan sistem pendidikan berbasis budaya,menemukan realita-realita yang bisa dikembangkan menjadi teori, bukan kemudian berkumpul di birokrasi untuk kemudian mengatur pendidikan dari balik meja berpedoman kepada teori-teori Barat. Selagi pendidikan di SD dilaksanakan olehtukang pengajar, maka sulit mengembangkan mereka pada jenjang pendidikan berikutnya.
Pendidikan bermutu memang mahal, tetapi kenaikan anggaran pendidikan di APBNmenjadi 20 % pun tidak banyak membantu jika kreatifitas Depdiknas, hanya pada proyek-proyek pendidikan bukan pada pengembangan pendidikan.
Swasta mempunyai peluang untuk melakukan inovasi pendidikan tanpa terikat aturan birokrasi yang jelimet, tetapi menjadi sangat menyedihkan ketika dijumpai banyak lembaga pendidikan swasta yang orientasinya pada bisnis pendidikan.
Sekolah international diperlukan sebagai respond terhadap globalisasi, tetapi pembukaan sekolah international oleh asing sangat riskan dari segi budaya bangsakarena filsafat pendidikannya berbeda.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->