Gagasan Ibn Khaldun tentang Ilmu Sosial-Budaya (ilm al-umran)
3
mengalami "konflik batin", atau pikirannya telah terperangkap ke dalam nilai-nilaimasyarakatnya.
4
Menurut Wafi (1985:90), sebelum Ibn Khaldun, para peneliti mengadakan studinyaterhadap gejala-gejala sosial melalui berbagai metode yang berbeda, namun metodemereka lebih didasarkan pada metode yang ditempuh pada penelitian ilmu alam, sepertidipraktekkan ahli-ahli fisika dan matematika. Di dalamnya mereka mengikuti aspek-aspekyang tidak didasari paradigma atau asumsi yang menggariskan bahwa gejala-gejala sosialtunduk pada hukumnya sendiri, yang cukup berbeda dengan hukum-hukum yang terjadipada alam. Di sinilah letak salah satu kebaruan paradigma Ibn Khaldun, yaitumengukuhkan adanya hukum tersendiri yang mengatur dan mengikat gejala-gejala sosial-kemasyarakatan.Menurut Wafi (1985:90-91), para sarjana Muslim dan Muslim sebelum Ibn Khaldunmenggunakan, setidaknya, tiga metode dalam mempelajari gejala-gejala sosial:
Pertama,
metode historis obyektif. Metode ini bertujuan untuk menerangkan gejala-gejala sosialsecara apa adanya, baik “apa yang ada padanya” maupun “apa yang terjadi padanya”.Menurut Issawi, metode Ibn Khaldun ini mendahului apa yang dirintis oleh Spinoza. Dalamkoridor obyektif ini, usaha Ibn Khaldun ini tidak ditujukan untuk memuji, mencelam ataumenilai pada berbagai fenomena sosial, tetapi dimaksudkan untuk mengetahui danmemahami hukum-hukum kemanusiaan.
5
Ketika para sejarawan membahas sejarah umum, umumnya mereka melangkah darisatu tahun ke tahun yang lain (kronologi; diakronik), menurut kesesuaian atas tanananpolitik, agama, hukum, pendidikan, ekonomi, keluarga, atau gejala sosial lainnya. Merekamendeskripsikan begitu saja perihal bangsa-bangsa yang mereka kaji sejarahnya. Upayamereka terbatas pada upaya melukiskan peristiwa tersebut apa adanya, tanpa mengaitkanantara satu gejala sosial dengan gejala sosial lainnya. Misalnya, Ibn Hazm dalam
Millahwa Nihlah
hanya mendeksripsikan fenomena keagaamaan secara kronologis denganpendekatan sejarah, tanpa menjelaskan kaitannya dengan faktor-faktor lain, sepertigeografis, ekonomi, sosial politik, atau pendidikan.
Kedua
, Metode dakwah. Metode ini lebih banyak mendeskripsikan “apa yangseharusnya” (cita-cita ideal) dari gejala sosial, tanpa disertai kajian “apa yang terjadi apa
4
Fuad Baali dan Ali Wardi,
Ibn Khaldun dan Pola Pikir Islam,
halaman 22-23.
5
Charles Issawi,
Filsafat Islam tentang Sejarah,
halaman 17.