Aku masih terdiam. Tidak bisa menjawab apa-apa."Lex, aku ngerti. Gak pantes bicara hal begini pada dirimu. Tapi gw jujur Lex, gw horni."Aku masih terdiam membisa seribu bahasa."Lex, kamu gak pernah tahu kan apa yang aku alami? Aku ini udah lama hidup tanpa suamiku. Aku sudahlama cerai dengan suamiku... ahh... sudahlah. Selamat malam dan kamu bobo aja. Sory ya udah ganggukamu."Belum sempat aku jawab, ponsel sudah dimatikan.Besok paginya, aku masih terngiang-ngiang akan ucapan Tante Selvi. Aku mencoba sms dia dan memintamaaf karena tak tahu harus berkata apa-apa. Rupanya dia cukup mengerti dan membalas bahwa yang sudah berlalu udah berlalu. Cuma keingingan malam saja.Tak terasa, sejak chatting dan sms dengan tante Selvi sudah sebulan lewat. Hubungan kami rasanyasemakin akrab. Kadang tanpa aku minta, dia malah sering mengisikan aku pulsa XL. Dulu diamenggunakan Mentari, sejak aku katakan XL jauh lebih hemat kalo sms, dia pun ganti XL.Suatu hari tanpa aku duga, tante Selvi datang ke Jakarta dan meminta untuk menemuiku. Pertama-tama aku pikir dia bercanda tetapi katanya benar. Aku masih tidak percaya, dan setelah dia meyakinkan aku bahwadia benar ada di Jakarta, aku jadi kaget.Dia bilang ingin menemuiku di Mal Ciputra. Karena dia tahu aku tinggalnya di daerah Tomang. Akhirnyasaya pikir toh apa salahnya ketemuan bukan?Tahukah kalian apa yang terjadi?Ternyata tante Selvi penampilannya jauh lebih muda dari usianya. Bagiku perfect sekali. Bahkan gadis usia20an banyak yang jauh dari dirinya. Tante Selvi benar-benar cantik dan bodynya seksi. Meski payudaranyasudah mulai turun tetapi karena terawat maka terlihat seksi sekali. Mungkin karena dia memang darikeluarga mampu juga. Rutin fitnes. Putih mulus dengan rambut highlight yang indah. Baru kali ini akumelihat ada wanita secantik dia.Dari wajahnya yang ramah dan senyumnya yang manis, serta dari obrolan ringan dengan dirinya, dapatkutebak, dirinya merasa sangat kesepian. Punya banyak teman tetapi ada jiwanya yang kosong perlu diisiseseorang dan itu tentunya seorang lelaki.Saat itu kami ngobrol di Starbuck. Setelah dia bercerita panjang lebar, barulah kusadari dia bercerai dengansuaminya karena suaminya selingkuh bahkan dengan wanita yang katanya jauh lebih jelek dari dirinya.Karena tak tahan diperlakukan begitu dan mulai suaminya sering ringan tangan, akhirnya mereka bercerai.Mereka masing-masing mengambil satu anak dari dua anak buah perkawinan mereka."Lex, kamu orangnya ramah ya. Udah punya cewek blum?""Blum nih, ga ada yang mau," jawabku bercanda. Padahal kalo soal mencari pasangan, sebenarnya bagikuamatlah mudah. Karena penampilanku yang cukup menarik."Mau tante kenalin?""Wah boleh juga tuh.""Tapi gimana ya? Tante punya banyak teman yang anak gadisnya cantik-cantik. Tapi nantilah..""Lex, kita makan yuk," tiba-tiba jemari tante Selvi menyentuhku. "Tante laper nih.""Boleh..."Akhirnya kami berdua berjalan mencari restoran. Tapi entah di sengaja atau tidak, kayaknya dia sengajasetelah aku renungkan kemudian, kami pun makan di resto Hotel Ciputra. Bukan di restoran di mal.Di sana terlihat kami makin akrab. Tapi jujur tidak ada terbersit sedikitpun aneh-aneh atau rancangan jahatapalagi pikiran sex pada tante Selvi. Aku masih anggap sebagai teman bahkan calon klien tempat aku bekerja. Mungkin karena melihat aku yang begitu polos, santun dan rapi, dirinya makin penasaran.