Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
100_artikel Jurnalistik Online Di Indonesia

100_artikel Jurnalistik Online Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 818|Likes:
Published by gamaliah

More info:

Published by: gamaliah on Feb 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/25/2013

pdf

text

original

 
KERANGKA MEDIA DALAM PRAKTEK JURNALISTIK ONLINE(Analisis Framing Empat Portal Berita Online di Indoneisa)
Mahfud Anshori
1
 
Abstract :
Journalism has own problems; the decline of revenue from circulations and advertisement, lacking of reading-less audience and authority. Most media institution seeks to find a new strategy to keep their news business,including convergence their products, institutions, and use the communication technology for serving theiraudience. Unfortunately, convergence in news online is not enough to solve these problems. Media routines,multimedia skill and other technical barriers in news productions are more problematic rather than to bring upthe news on the net.This research focuses on the media frames that influenced on online news, or in other word, how news onlineconstructed and influenced by culture of production from old media itself. Four media online were analyzed byTeun Van Dijk’s framing model and confronted by contextualized journalism as primary elements of online journalism.
Key Word:
Framing,
Contextualized Journalism, Online Journalism, News
 
1
alamat email : mahfudanshori@gmail..com
 
1.
 
Latar Bekang Masalah
Memasuki abad 21, terdapat empat tantanganbagi industri berita, yakni masalah finasial,kredibilitas lembaga, kualitas produk jurnalistik serta perkembangan media baru (new media). ToddGiltin menyatakan saat ini jurnalisme menghadapiserangkaian krisis atau lebih tepatnya
crieses
yangberarti kendala kecil (
a little difficult 
), berupapenurunan jumlah sirkulasi, kemerosotanpendapatan iklan, budaya dan kebiasaan membacayang meluntur serta krisis otoritas (Giltin, 2009).Tahun 2001 dianggap sebagai titik balik perkembangan industri berita, ketika banyak lembaga pers gulung tikar karena tidak mampu lagiberoperasi.
The New York Times---
koran harianberbasis di New York 
---
di bulan September 2001
 
terpaksa mengurangi sekitar 8-9 persen dari 14.000awak media karena krisis iklan dan sirkulasi. Padatahun yang sama,
 Miami Herald 
mengumumkantelah PHK sekitar 20 persen karyawan, sementara
USA Today
membuat kebijakan baru berupapensiun dini (Castell, 2003, hal. 3).Laksana rumah kartu yang tumbang, koran-koran dan terbitan-terbitan legendaris yang lainturut berguguran.
Far Eastern Economic Review
,majalah mingguan ekonomi terkemuka di AsiaTenggara yang berkedudukan di Hong Kong danterbit sejak tahun 1958, di tahun 2004 terpaksatutup setelah enam tahun mengalami defisitkeuangan berat. Sementara di bulan Februari 2009,koran tertua di negara bagian Colorado AmerikaSerikat,
The Rocky Mountain News,
resmimenyatakan tutup setelah terbit mulai tahun 1859.
Christian Science Monitor,
sebuah terbitan yangmenjadi pemenang tujuh Pulitzer dan berusia dari100 tahun, terpaksa harus mengubah format cetak menjadi
online
di bulan Maret 2009 (Romli H.M,2009).Sementara Indonesia, hasil survei dari KantorMenteri Negara Komunikasi dan Informasi tahun2003 menunjukan jumlah penerbitan pers sekitar450 perusahaan, dengan total tiras sekitar tujuh jutaeksemplar. Tiras tersebut terbagi menjadi tirasuntuk surat kabar 4,3 juta eksemplar, majalah 1,4 juta, dan tabloid 1,1 juta (Leksono, 2005).Meskipun mengalami pertumbuhan karena faktorsosial politik tahun 1998, namun dari sirkulasi tidak terdapat perkembangan signifikan antara tahun1998 sampai dengan 2004, yakni berkisar tujuh jutaeksemplar. Dengan kata lain walaupun jumlahpenerbitan bertambah tetapi jumlah oplah tidak meningkat.Ancaman kedua industri berita adalahkredibilitas lembaga yang menurun. Pekerja mediamengabaikan isu kredibilitas dan terperosok pada
sensasionalime
, mengejar rating dan peringkatuntuk menarik pengiklan tanpa memperdulikankualitas isi media dan
audiens
 /khalayak. Alih-alihmenangkap isu yang berhubungan langsung dengankeseharian dari pembaca atau
audiens,
editor atauproduser berita mempunyai kecenderunganmengejar
 prestise
di mata rekan sekerjanya (
 peer group
) seperti tampil menjadi
host 
, mempunyaikolom khusus berkala di luar kolom editorial.Kencenderungan untuk meliput dengan gayatabloid
(broadbloid)
dengan memilih selebritis,artis, bintang olahraga dan hiburan juga dikritik sebagai salah satu penyebab penurunan kredibilitaslembaga berita (Anshori, 2006). Gaya
broadbloid 
 pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Pulitzeruntuk koran New York Times yang di Amerikadikateogorikan sebagai “koran kuning”.. Asumsipeliputan gaya broadbloid ini berpijak padanominalisme, bahwa koran harus mampu meraihaudiens sebanyak-banyaknya, membuat liputanyang semenarik mungkin dan memperolehpendapatan iklan sebesar-besarnya. “
 Bigger is Better
” adalah kata kunci pemikiran gaya
broadbloid.
 Seiring kredibilitas yang melemah, lembagaberita juga mengalami kemerosotan kualitas beritaatau produk jurnalistik. Reporter atau wartawansaat ini bekerja berdasarkan prinsip
 pack hunt,
 dimana berita disajikan dengan cara secepatmungkin dengan kemasan berita “seadanya”.Mencari berita merupakan rutinitas, sekedarmenemukan fakta, merangkai fakta pendukung,mengutip sumber berita untuk memperkuat ceritadan menyusun elemen-elemen berita ke dalamsebuah liputan, tanpa peduli “kedalaman” cerita,tanpa pertimbangan apakah berita akan menarik,berharga atau justru membosankan.
 Investigativereporting
menjadi kosakata asing bagi kalanganpekerja media sendiri.
 Headline
atau berita utama sekedar bersumberdari
 press release
, konferensi pers, pernyataan jurubicara atau pendapat pakar atau ahli. Fakta beritadan pernyataan sumber tidak dielaborasi gunamendapatkan gambaran yang lebih utuh dan hidupuntuk disajikan.Dua kondisi tersebut (
broadbloidisme
dan
pack hunt journalism)
oleh Walter Pincus (2009, hal. 2)disebut dengan fenomana “narsisme koran”meskipun tidak melulu terjadi di media cetak.Tantangan keempat adalah perkembanganmedia baru (
new media
). Meski masih menjadiperdebatan diantara pakar media yangmempertanyakan apakah media baru merupakanancaman atau justru menjadi daya dukung mediamassa konvensial, namun jika ditilik dari perilakukonsumen, telah terjadi pergeseran penggunaanmedia informasi dari media massa konvensional ke
 
model media baru seperti internet, telepongenggam,
i-pod 
, radio satelit, tv satelit.Keresahan ini juga menjadi salah satu alasanpenyelengaraan Simposium Wartawan Asia yangberlangsung di Tokyo, tanggal 18 Maret 2009dengan tajuk 
"Development of Fundamental Valuesand Journalism: Past, Present and Future, Achievements and Prospects of the Media"
(Ratna,2009)
.
Salah satu kesimpulan dari simposiumtersebut adalah
 
meski taraf ancaman di masing-masing negara di kawasan Asia berbeda-beda,namun perkembangan dunia digital lambat laun juga akan berdampak pada industri media massakonvensional.Salah satu skenario yang digunakan industrimedia massa adalah melakukan konvergensi media,yakni menambah atau bahkan mengubah terbitancetak menjadi terbitan online. Konvergensi awal-mulanya merujuk pada pengertian teknis, yaknisuatu suatu proses perubahan digital dari berbagaimacam isi media, sehingga isi media tersebut dapatkirim melalui berbagai jenis medium.Isu konvergensi merupakan isu lama dikalangan profesional dan akademisi, namunkembali menjadi bahan pembicaraan terutamasetelah berbagai media cetak mengalami krisisfinasial. Seperti yang diungkapkan oleh CraigJohnston dalam artikel web bertajuk
TV  Newsroom Shares Web Site Workload”
yangdikutip oleh Dailey (2003, hal. 2):The definition of convergence isevolving within a media landscapewhere competing newspapers andtelevision stations form alliances tomeet a variety of technological,editorial, regulatory, and market-based opportunities and challenges.The partnerships, some of whichhave existed for several years, werecreated as digital technology allowed journalists to produce news acrossseveral multimedia platforms atincreasing speed. The relationshipsbecame more attractive as decliningor flat circulation numbers forcednewspapers to look for new ways tomarket their product to the youngeraudiences, television newssometimes attracts, and budget cutsat many television stations requirednews directors to push staff productivity to the limits.Pernyataan Craig Johnston tersebut secara jelasmenyiratkan bahwa isu konvergensi, terutama didunia persuratkabaran dan penyiaran kembalimenjadi relevan setelah krisis keuangan terjadikarena masalah sirkulasi dan perubahan psikografiaudience/khalayak. Meninjau kembali hubungan-hubungan konvergen dari sisi teknologi, editorialdan kebijakan terkait media adalah upayamendefinisikan kembali eksistensi persuratkabarandi masyarakat, agar berita di koran atau televisikembali dilihat, termasuk salah satunya denganmemanfaatkan teknologi digital.Namun apakah persoalan kovergensi mampumenyelesaikan krisis? Peter Dahlgreen (1996, hal.59-72) cenderung skeptis menanggapi upayatersebut. Ia mencatat beberapa faktor kelemahan-kelemahan dalam media cetak, penyiaran dantermasuk media online dalam persoalan jurnalistik yakni :1.
 
Jurnalisme kehilangan perhatian danminat dari audiens di era komunikasiyang kacau (
crowded communication
).2.
 
Perbedaan antara jurnalisme danhiburan semakin kabur.3.
 
Sekat-sekat identitas sebagai seorang jurnalis profesional menjadi rancu,karena jurnalis banyak mengembantugas-tugas baru yang banyak berhubungan dengan dunia marketing.4.
 
Preferensi diri dunia media semakinsolid dan terpisah dari kehidupansehari-hari. Media massa tercerabutdari akarnya sendiri, realitas empirisdari kehidupan manusia.Menggagap konvergensi teknologi sebagai“juru selamat” media massa atau lazim disebut“utopia jurnalistik” (
 journalism utopias
) samahalnya memecahkan cermin karena buruk rupa.Solusi permasalahan bukan terletak padakonvergensi teknologi, melainkan pada diri danorganisasi media sendiri, termasuk keniscayaanperubahan perilaku dari awak media sendiri.Utopia jurnalistik juga dikritik sebagaikegagalan kolektif antara peneliti akademisi,praktisi media dan pengelola media karena buktiempiris tentang peran teknologi informasi dalamperubahan sulit dibuktikan. Seperti yangdiungkapkan oleh Dante Chinni :
Technology anlone won’t save the news media. Newsorganizations have topstrengthen the basics of sound  journalism—with solid reporting, engaging writing,and tough, thorough editing. But they might need to find new Web-based revenuemodels to meke those things possible.Devoting thenecessary resources to bolster the journalism is not easy. It will require a change in themindset of some newsorganizations where the focus

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->