memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa iamemang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat,mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera videodan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara,seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihatlazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun padakesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukancerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya,yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya,mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisamengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranyadan buanglah lumpurnya.Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkankesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.Tiga puluh tahun yang lalu... Saya adalah seorang pemuda, hidup di