Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
60Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perjalanan Filsafat dalam Pemikiran Islam

Perjalanan Filsafat dalam Pemikiran Islam

Ratings:

4.81

(21)
|Views: 32,533|Likes:
Published by A Khudori Soleh
Perjalanan pemikiran filsafat Islam ternyata mengalami pasang surut; pertama-tama disambut dengan baik karena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan menghadapi pemikiran-pemikiran ‘aneh’, tapi kemudian dicurigai karena ternyata tidak jarang justru digunakan untuk menyerang ajaran agama yang dianggap baku, khususnya pada masa Ibn Hanbal. Setelah itu, filsafat dibela kembali oleh al-Farabi dan mencapai puncak pada masa Ibn Sina, tapi kemudian jatuh lagi oleh serangan al-Ghazali, bangkit lagi pada masa Ibn Rusyd tapi akhirnya tidak terdengar suaranya, sampai sekarang, kecuali dalam mazhab Syi`ah.
Perjalanan pemikiran filsafat Islam ternyata mengalami pasang surut; pertama-tama disambut dengan baik karena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan menghadapi pemikiran-pemikiran ‘aneh’, tapi kemudian dicurigai karena ternyata tidak jarang justru digunakan untuk menyerang ajaran agama yang dianggap baku, khususnya pada masa Ibn Hanbal. Setelah itu, filsafat dibela kembali oleh al-Farabi dan mencapai puncak pada masa Ibn Sina, tapi kemudian jatuh lagi oleh serangan al-Ghazali, bangkit lagi pada masa Ibn Rusyd tapi akhirnya tidak terdengar suaranya, sampai sekarang, kecuali dalam mazhab Syi`ah.

More info:

Published by: A Khudori Soleh on Aug 16, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

02/23/2014

 
PERJALAN FILSAFAT DALAM PEMIKIRAN ISLAM
Oleh: A. Khudori Soleh
**
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang masuk dalampemikiran Islam, diakui banyak kalangan telah mendorongperkembangan filsafat Islam menjadi makin pesat. Namundemikian, seperti dikatakan Oliver Leaman,
1
adalah suatukesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermuladari penerjemahan teks-teks Yunani tersebut atau hanya nukilandari filsafat Aristoteles (384-322 SM) seperti dituduhkan Renan,atau dari Neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem.
2
 
Pertama
,bahwa belajar atau berguru tidak berarti meniru atau membebeksemata. Mesti difahami bahwa kebudayaan Islam menembusberbagai macam gelombang dimana ia bergumul danberinteraksi. Pergumulan dan intereksi ini melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Jika kebudayaan Islam tersebut terpengaruh olehkebudayaan Yunani, mengapa tidak terpengaruh oleh peradabanIndia dan Persia, misalnya? Artinya, transformasi danpeminjaman beberapa pemikiran tidak harusmengkonsekuensikan perbudakan dan penjiplakan.
3
Kedua
, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pemikiranrasional telah dahulu mapan dalam masyarakat muslim sebelumkedatangan filsafat Yunani. Meski karya-karya Yunani mulaiditerjemahkan pada masa kekuasaan Bani Umaiyah, tetapi buku-buku filsafatnya yang kemudian melahirkan filosof pertamamuslim, yakni al-Kindi (801-873 M), baru mulai digarap padamasa dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa al-Makmun (811-833 M), oleh orang-orang seperti Yahya al-Balmaki (w. 857 M), Yuhana ibn Musyawaih dan Hunain ibn Ishaq.
4
Pada masa-masa
**
Makalah ini disampaikan dalam acara Stadium General (SG) oleh Majalah PesantrenTILAWAH, PP. Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta, 09 Februari 2002.
1
Oliver Leaman,
 Pengantar Filsafat Islam
, terj. Amin Abdullah, (Jakarta, Rajawali,1988), 8.
2
Renan,
 Averroes et l’Averroeisme
, (Paris, 1887), 88; Duhem,
 Le systeme du monde
,(Paris, 1917), 321, sebagaimana dikutip Ibrahim Madkur,
 Filsafat Islam
, terj. Yudian Wahyudi,(Jakarta, Rajawali Press, 1996), 11.
3
Ibrahim Madkur, Ibid, 12.
4
Philip K. Hitti,
 History of The Arabs,
(New York, Martin Press, 1986), 363. Wattmencatat bahwa sebelum Hunain ibn Ishaq, penterjemahan karya-karya Yunani ini umumnyadilakukan dari edisi bahasa Syiria kedalam bahasa Arab, sementara Hunain ibn Ishaq langsungmenterjemahkan dari bahasa Yunani kedalam bahasa Arab sekaligus mengkajinya secara filosofis.Lihat, MM. Watt,
 Islamic Philosophy and Theology
, (Edinburg, Edinburg University Press, 1992),38. Ini pula yang menjadi catatan al-Ghurabi tentang banyaknya karya filsafat Yunani yangditerjemahkan kedalam bahasa Arab bercampur dengan pandangan Neo-Platonis Kristen Syiria.Lihat Ali Musthafa al-Ghurabi,
Târikh al-Firâq al-Islami
, (Kairo, Maktabah wa Mathba`ah, tt),128-9.
 
 Khudori/Perjalan Filsafat 
ini, sistem berfikir rasional telah berkembang pesat dalammasyarakat intelektual Arab-Islam, yakni dalam
fiqh
(yurisprudensi) dan
kalâm
(teologi). Dalam teologi, doktrinMuktazilah yang rasional, yang dibangun Wasil ibn Ata’ (699-748M) telah mendominasi pemikiran masyarakat, bahkan menjadidoktrin resmi negara dan berkembang dalam berbagai cabang,dengan tokohnya masing-masing, seperti Amr ibn Ubaid (w. 760M), Jahiz Amr ibn Bahr (w. 808 M), Abu Hudzail ibn al-Allaf (752-849 M), Ibrahim ibn Sayyar an-Nadzam (801-835 M), Mu`ammaribn Abbad (w. 835 M) dan Bisyr ibn al-Mu`tamir (w. 840 M).
5 
Begitu pula dalam bidang fiqh. Penggunaan nalar rasional dalampenggalian hukum (
istinbâth
) dengan istilah-istilah seperti
istihsân
,
istishlâh
,
qiyâs
dan lainnya telah lazim digunakan. Tokoh-tokoh mazhab fiqh yang menelorkan metode
istinbâth
dengan menggunakan rasio seperti itu, seperti Abu Hanifah (699-767 M), Malik (716-796 M), Syafi’i (767-820 M) dan Ibn Hanbal(780-855 M), hidup sebelum kedatangan filsafat Yunani.Semua itu menunjukkan bahwa sebelum dikenal adanyalogika dan filsafat Yunani, telah ada model pemikiran filosofisyang berjalan baik dalam masyarakat Islam, yakni dalam soal-soal teologis dan kajian hukum. Bahkan, pemikiran rasional dariteologi dan hukum inilah yang telah berjasa menyiapkanlandasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan filsafat Yunani dalam Islam.
6
A. Sumber Pemikiran Rasional Islam.
 Jika demikian, dari mana pemikiran rasional filosofis Islamitu sendiri berawal? Sebagaimana dinyatakan para peneliti yangkritis, muslim maupun non-muslim,
7
pemikian rasional-filosofisIslam lahir bukan dari fihak luar melainkan dari kitab suci merekasendiri, dari al-Qur`an, khususnya dalam kaitannya denganupaya-upaya untuk mensesuaikan antara ajaran teks denganrealitas kehidupan sehari-hari. Pada awal perkembangan Islam,ketika Rasul saw masih hidup, semua persoalan bisa diselesaikandengan cara ditanyakan langsung kepada beliau, atau diatasilewat jalan kesepakatakan diantara para cerdik. Akan tetapi, halitu tidak bisa lagi dilakukan setelah Rasul wafat dan persoalan-persoalan semakin banyak dan rumit seiring dengan
5
Louis Gardet & Anawati,
 Falsafah al-Fikr al-Dîni
, II, terj. Subhi Saleh dan Farid Jabr,(Beirut, Dar al-Ulum, 1978), 76; Ahmad Hanafi,
Teologi Islam
, (Jakarta, Bulan Bintang, 1974),53-56; Watt,
 Pemikiran Teologi & Filsafat Islam
, (Jakarta, P3M, 1979), 73-86.
6
Oliver Leaman,
 Pengantar Filsafat Islam
, 9; Muhsin Mahdi, “Al-Farabi dan FondasiFilsafat Islam”, dalam Jurnal
al-Hikmah
, (edisi 4, Februari 1992), 56.
7
Lihat antara lain, Oliver Leaman,
 Pengantar Filsafat Islam
, 8; Louis Gardet danAnawati,
 Falsafat al-Fikr al-Dini,
77; CA. Qadir,
 Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam
,(Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1991), 30; al-Jabiri,
Takwîn al-Aql al-Arabi
, (Markaz al-Tsaqafial-Arabi, 1991), 572
 
 Khudori/Perjalan Filsafat 
perkembangan Islam yang demikian cepat. Jalan satu-satunyaadalah kembali kepada ajaran teks suci, al-Qur`an, lewatberbagai pemahaman. Dalam hal ini, ada beberapa model kajianresmi yang nyatanya mempunyai relevansi filosofis. Antara lain,(1) penggunaan
takwîl
. Makna takwil diperlukan untukmengungkap atau menjelaskan masalah-masalah yang sedangdibahas. Meski model ini diawasi secara ketat dan terbatas, tapipelaksanaannya jelas membutuhkan pemikiran dan perenunganmendalam, karena ia berusaha ‘keluar’ dari makna lahiriyah(
 zhahir 
) teks. (2) Pembedaan antara istilah-istilah ataupengertian yang mengandung lebih dari satu makna (
musytarak 
)dengan istilah-istilah yang hanya mengandung satu arti. Disini justru lebih mendekati model pemecahan filosofis dibandingyang pertama. (3) Penggunaan
qiyâs
(analogi) atas persoalan-persoalan yang tidak ada penyelesaiannya secara langsungdalam teks.
8
Misalnya, apakah larangan menimbun emas danperak (QS. Al-Taubah, 34) itu hanya berlaku pada emas dan perakatau juga meliputi batu permata dan batu berharga? Apakah kata‘mukmin’ dan ‘muslim’ dalam al-Qur`an juga mencakup wanitadan budak?Bersamaan dengan itu, dalam teologi, masyarakat Islam juga dituntut untuk menyelaraskan pandangan-pandangan yangtampaknya kontradiktif dan rumit, untuk selanjutnyamensistematisasikannya dalam suatu gagasan metafisika yangutuh. Misalnya, bagaimana menyelaraskan antara sifatkemahakuasaan dan kemahabaikan Tuhan dalam kaitannyadengan maha tahu-Nya atas segala tindak manusia untuk taatatau kufur untuk kemudian dibalas sesuai perbuatannya.Bagaimana menafsirkan secara tepat bahasa antropomorfis(menyerupai sifat-sifat manusia) al-Qur`an, padahal ditegaskanpula bahwa Tuhan tidak sama dengan manusia, tidak bertangan,tidak berkaki dan seterusnya.
9
Semua itu menggiring paraintelektual muslim periode awal, khususnya para teolog untukberfikir rasional dan filosofis, dan kenyatannya metode-metodepemecahan yang diberikan atas masalah teologis tidak berbedadengan model filsafat Yunani. Perbedaan diantara keduanya,
8
Oliver Leaman,
 Pengantar Filsafat Islam
, 9. Lihat pula, Noel J. Coulson,
 Hukum Islamdalam Perspektif Sejarah
, (Jakarta, P3M, 1987), 4-8.
9
Selain berdasarkan renungan atas teks-teks suci, menurut Gardet, persoalan teologis ini juga didorong oleh adanya polemik antara Kriten dan Yahudi di Syiria saat itu. Masalah yangdibahas , antara lain, adalah soal kebebasan dan keterpaksaan manusia (taqdir) dan soal al-Qur`ansebagai firman yang tidak ciptakan. Kaum muslimin ikut terlibat dalam kajian rumit ini dan berusaha membela dan mempertahankan doktrinya dari serangan luar, sehingga pembahasankalâm (teologi Islam) bersifat apologis. Sampai perkembangannya yang cukup jauh, sifat apologistersebut ternyata belum juga hilang. Lihat Machasin,
 Kelahiran dan Pertumbuhan Ilmu Teologi
,makalah pengantar pada mata kuliah studi ilmu teologi, pada semester I program pascasarjana (S-2), IAIN Yogya, 1997, tidak diterbitkan.3

Activity (60)

You've already reviewed this. Edit your review.
masturahmokhtar liked this
Freeangga Bewee liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Nala Jiwa liked this
kobah1805 liked this
fahru8 liked this
FI NA liked this
Azis Syahban liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->