2dimana
pred(i)
melambangkan himpunan predesesordari unit
i
,
w
ij
melambangkan bobot koneksi dariunit
j
ke unit
i
, dan
θ
i
adalah nilai bias dari unit
i
.Untuk membuat representasi menjadi lebih mudah,seringkali bias digantikan dengan suatu bobot yangterhubung dengan unit bernilai 1. Dengan demikianbias dapat diperlakukan secara sama dengan bobotkoneksi.
2.2. Supervised Learning
Tujuan pada pembelajaran
supervised learning
adalah untuk menentukan nilai bobot-bobot koneksidi dalam jaringan sehingga jaringan dapatmelakukan pemetaan (
mapping
) dari input ke outputsesuai dengan yang diinginkan. Pemetaan iniditentukan melalui satu set pola contoh atau datapelatihan (
training data set
).Setiap pasangan pola
p
terdiri dari vektor input
x
p
dan vektor target
t
p
. Setelah selesai pelatihan, jikadiberikan masukan
x
p
seharusnya jaringanmenghasilkan nilai output
t
p
. Besarnya perbedaanantara nilai vektor target dengan output aktualdiukur dengan nilai error yang disebut juga dengan
cost function
:
∑∑
∈
−=
P pn pn pn
st E
2
)(21
(2)di mana
n
adalah banyaknya unit pada
output layer
.Tujuan dari training ini pada dasarnya sama denganmencari suatu nilai minimum global dari
E
.
2.3. Algoritma Backpropagation
Salah satu algoritma pelatihan jaringan syaraf tiruanyang banyak dimanfaatkan dalam bidang pengenalanpola adalah backpropagation. Algoritma iniumumnya digunakan pada jaringan syaraf tiruanyang berjenis multi-layer feed-forward, yangtersusun dari beberapa lapisan dan sinyal dialirkansecara searah dari input menuju output.Algoritma pelatihan backpropagation pada dasarnyaterdiri dari tiga tahapan [Fausett, 1994], yaitu:1. Input nilai data pelatihan sehingga diperolehnilai output2. Propagasi balik dari nilai error yangdiperoleh3. Penyesuaian bobot koneksi untuk meminimalkan nilai errorKetiga tahapan tersebut diulangi terus-menerussampai mendapatkan nilai error yang diinginkan.Setelah training selesai dilakukan, hanya tahappertama yang diperlukan untuk memanfaatkan jaringan syaraf tiruan tersebut.Secara matematis [Rumelhart, 1986], ide dasar darialgoritma backpropagation ini sesungguhnya adalahpenerapan dari aturan rantai (
chain rule
) untuk menghitung pengaruh masing-masing bobotterhadap fungsi error:
ijiiij
wss E w E
∂∂∂∂=∂∂
(3)dan
jiijiiiiji
snet f wnet net sws
)(
log
′=∂∂∂∂=∂∂
(4)dimana
ij
w
adalah bobot penghubung dari neuron
j
ke neuron
i
,
i
s
adalah output, dan
i
net
adalah jumlah hasilkali pada input dari neuron
i
.
2.4. Algoritma Quickprop
Pada algoritma Quickprop dilakukan pendekatandengan asumsi bahwa kurva fungsi error terhadapmasing-masing bobot penghubung berbentuk parabola yang terbuka ke atas, dan gradien darikurva error untuk suatu bobot tidak terpengaruh olehbobot-bobot yang lain [Fahlman, 1988]. Dengandemikian perhitungan perubahan bobot hanyamenggunakan informasi lokal pada masing-masingbobot. Perubahan bobot pada algoritma Quickpropdirumuskan sebagai berikut:
)1(*
)()1(
)()()(
−∆∂∂−−∂∂∂∂+∂∂−=∆
t wt w E t w E t w E t w E t w
ε
(5)di mana:
)(
t w
∆
: perubahan bobot
)1(
−∆
t w
: perubahan bobot pada epochsebelumnya
ε
: adalah learning rate
)(
t w E
∂∂
: derivatif error
)1(
−∂∂
t w E
: derivatif error pada epoch sebelumnyaPada eksperimen dengan masalah XOR danencoder/decoder [Fahlman, 1988], terbukti bahwaalgoritma Quickprop dapat meningkatkan kecepatantraining. Eksperimen dari [Schiffmann, 1993] jugamenunjukkan peningkatan kecepatan training danunjuk kerja yang signifikan.
3. CARA PENELITIAN
Dalam penelitian ini kami menggunakan data yangterdiri dari satu set citra untuk pelatihan (
trainingdata set
) dan satu set citra untuk pengujian (
testingdata set
). Untuk data pelatihan digunakan citrawajah berukuran 20x20 pixel sebanyak 3000 buah.Sedangkan untuk citra non-wajah diperoleh dari file-file citra yang tidak terdapat wajah manusia didalamnya.
Add a Comment
snpages.infoleft a comment
snpages.infoleft a comment
snpages.info replied:
Nunung Az Zahra replied: