Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pembaharuan Hukum tentang Alasan Penghapusan Pidana_Normal_bab 1

Pembaharuan Hukum tentang Alasan Penghapusan Pidana_Normal_bab 1

Ratings: (0)|Views: 631 |Likes:
Published by esde1992

More info:

Published by: esde1992 on Feb 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/06/2011

pdf

text

original

 
1
BAB
I
Pendahuluan
A.Pengertian Alasan Penghapus Pidana
alam hukum pidana ada beberapa alasan yang dapat dijadikan dasar  bagi hakim untuk tidak menjatuhkan hukuman/pidana kepada (para) pelaku atau terdakwa yang diajukan ke pengadilan karena telahmelakukan suatu tindak pidana. Alasan-alasan tersebut dinamakan alasan penghapus pidana.
1
Alasan penghapus pidana adalah peraturan yangterutama ditujukan kepada hakim. Peraturan ini menetapkan dalamkeadaan apa seorang pelaku, yang telah memenuhi perumusan delik yangseharusnya dipidana, tidak dipidana. Hakim menempatkan wewenangdari pembuat undang-undang untuk menentukan apakah telah terdapatkeadaan khusus seperti dirumuskan dalam alasan penghapus pidana.
2
Alasan-alasan penghapus pidana ini adalah alasan-alasan yangmemungkinkan orang yang melakukan perbuatan yang sebenarnya telahmemenuhi rumusan delik, tetapi tidak dipidana. Berbeda halnya denganalasan yang dapat menghapuskan penuntutan, alasan penghapus pidanadiputuskan oleh hakim dengan menyatakan bahwa sifat melawan
1
Penyebutan atau penamaan dari isrilah ini tidak seragam. Ada yangmenyebutnya dengan istilah “alasan-alasan yang mengecualikan dijatuhkannyahukuman” misalnya Utrecht.(1960) Hukum Pidana I. Bandung: PenerbitUniversitas. hal 344. Ada yang menyebutnya dengan istilah “dasar peniadaan pidana”, seperti A.Zainal Abidin Farid (1995). Hukum Pidana I. Jakarta: Sinar Grafika. hal. 189. Yang lain menyebutnya dengan istilah “alasan yangmenghapuskan pidana”, seperti Roeslan Saleh (1983). Perbuatan Pidana danPertanggungjawaban Pidana. Jakarta: Aksara Baru. hal.125. Sudarto. (1990)Hukum Pidana I. Semarang: Yayasan Sudarto. Hal. 138. Dalam buku iniselanjutnya penulis menggunakan istilah alasan penghapus pidana.
2
E.Ph.R.Sutorius, Arnhem. (1988). ”Alasan-alasan Penghapus KesalahanKhusus” Penerjemah Wonosutanto. Bahan Penataran Hukum Pidana Angkatan IIKerjasama Hukum Indonesia-Belanda. Bandar Lampung: FH Unila. hal.1.
D
 
2hukumnya perbuatan hapus atau kesalahan pembuat hapus, karena adanyaketentuan undang-undang dan hukum yang membenarkan perbuatan atauyang memaafkan pembuat. Jadi dalam hal ini hak melakukan penuntutandari Jaksa tetap ada, tidak hilang, namun terdakwanya yang tidak dijatuhi pidana oleh hakim. Dengan kata lain undang-undang tidak melarangJaksa Penuntut Umum untuk mengajukan tersangka pelaku tindak pidanake sidang pengadilan dalam hal adanya alasan penghapus pidana. Olehkarena Hakimlah yang menentukan apakah alasan penghapus pidana itudapat diterapkan kepada tersangka pelaku tindak pidana melaluivonisnya. Sedangkan dalam alasan penghapus penuntutan, undang-undang melarang sejak awal Jaksa Penuntut Umum untuk mengajukan/menuntut tersangka pelaku tindak pidana ke sidang pengadilan. Dalam hal ini tidak diperlukan adanya pembuktian tentangkesalahan pelaku atau tentang terjadinya perbuatan pidana tersebut(Hakim tidak perlu memeriksa tentang pokok perkaranya). Oleh karenadalam putusan bebas atau putusan lepas, pokok perkaranya sudahdiperiksa oleh hakim, maka putusan itu tunduk pada ketentuan Pasal 76KUHPidana (ne bis in idem).Pasal 76 KUHPidana berbunyi:“(1) Kecuali dalam hal keputusan hakim masih boleh diubah lagi,maka orang tidak boleh dituntut sekali lagi lantaran perbuatanyang baginya telah diputuskan oleh hakim Negara Indonesia,dengan keputusan yang tidak boleh diubah lagi. Yangdimaksudkan disini dengan hakim Negara Indonesia ialah jugahakim dalam negeri yang rajanya atau penduduk Indonesianya berhak memerintah sendiri; demikian juga di negeri yang penduduk Indonesianya, dibiarkan memakai ketentuan pidanasendiri.(1)Jika putusan itu berasal dari hakim lain, maka penuntutan tidak  boleh dijalankan terhadap orang itu oleh sebab perbuatan itu juga dalam hal:1.Pembebasan atau pelepasan dari penuntutan hukuman.2.Putusan hukuman dan hukumannya itu habisdijalankannya, atau mendapat ampun atau hukuman itugugur (tidak dapat dijalankan lagi karena lewatwaktunya)”.Dengan adanya Pasal 76 KUHPidana ini, maka setelah putusan itumempunyai kekuatan hukum tetap, terhadap perbuatan itu tidak dapat
 
3lagi diajukan penuntutan untuk kedua kalinya. Berbeda halnya pada penetapan hakim yang berisikan “penuntut umum tidak berwenangmelakukan penuntutan”, yang berarti bukan mengenai hal tindak pidanayang didakwakan, maka penetapan pengadilan ini tidak tunduk padaketentuan Pasal 76 KUHPidana. Dengan kata lain masih dapat diajukanlagi tuntutan untuk kedua kalinya dalam perkara tersebut.
3
Di samping perbedaan yang disebutkan di atas, juga terdapat perbedaandalam hal melakukan perlawanan terhadap kedua putusan itu. Dalam halJaksa Penuntut Umum tidak menerima putusan bebas atau putusan lepas,maka dapat diajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung.Sedangkan apabila Jaksa Penuntut Umum tidak menerima penetapan pengadilan tentang Jaksa tidak berwenang melakukan penuntutan, makadapat diajukan perlawanan (verzet) ke Pengadilan Tinggi, tanpamempermasalahkan tentang pokok perkaranya.Meskipun KUHPidana yang sekarang ini ada mengatur tentang alasan penghapus pidana, akan tetapi KUHPidana sendiri tidak memberikan pengertian yang jelas tentang alasan penghapus pidana tersebut.Pengertiannya hanya dapat ditelusuri melalui sejarah pembentukanKUHPidana (WvS Belanda). Menurut sejarahnya yaitu melalui M.v.T.(Memori van Toelichting) dalam penjelasannya mengenai alasan penghapus pidana ini, mengemukakan apa yang disebut “alasan-alasantidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atau alasan-alasantidak dapat dipidananya seseorang”. Hal ini berdasarkan pada dua alasan,yaitu:1.alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yangterletak pada diri orang tersebut, dan2.alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yangterletak di luar dari diri orang tersebut.Dari kedua alasan yang ada dalam MvT tersebut, menimbulkan kesan bahwa pembuat undang-undang dengan tegas merujuk pada tidak dapatdipidananya pelaku/pembuat, dan bukan tidak dapat dipidananyatindakan/perbuatan. Hal ini dipertegas lagi dalam Pasal 58 KUHPidana.Pasal 58 KUHPidana berbunyi:
3
Lihat Sudarto. Op.cit hal. 138. Farid. Op.cit.hal. 189. Adami Chazawi(2002). Pelajaran Hukum Pidana Bagian 2. Jakarta: Rajawali Press. hal 16.

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->