dan pelanggaran senjata api.
[47]
Amnesty Internationalmengatakan bahwa "serangkaian klausa dalamUndang-Undang Penyalahgunaan Obat-Obatan Terlarang dan Undang-Undang Pelanggaran Senjata Apiberisi dugaan bersalah yang bertentangan dengan hak dianggap tidak bersalah hingga terbukti bersalahdan mengikis hak pengadilan yang adil", dan memperkirakan bahwa Singapura memiliki "kemungkinantingkat eksekusi tertinggi di dunia bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya".
[48]
Pemerintahmenyatakan bahwa Singapura memilikihak berdaulatuntuk menentukansistem yudisialnyadan
memaksakan sesuatu yang dianggap sebagai hukuman yang pantas.
[49]
Pemerintah memiliki sengketadalam beberapa poin laporan Amnesty. Mereka berkata bahwa dalam lima tahun sampai 2004, 101warga Singapura dan 37 warga asing telah dieksekusi, semuanya kecuali 28 orang disebabkan olehpelanggaran obat-obatan terlarang.
[49]
Amnesty menyebutkan 408 eksekusi antara 1991 dan 2003 daripemerintah dan sumber lain dari jumlah penduduk sebanyak empat juta jiwa.
[48]
Sebuah survei oleh Political and Economic Risk Consultancy (PERC) mengenai eksekutif bisnisekspatriat bulan September 2008 menemukan bahwa orang-orang yang disurvei menganggap HongKong dan Singapura memiliki sistem yudisial terbaik di Asia, denganIndonesiadanVietnamyang
terburuk: sistem yudisial Hong Kong diberi skor 1.45 dalam skala (0 untuk terbaik dan 10 untuk terburuk);Singapura dengan skor 1.92, diikuti Jepang (3.50), Korea Selatan(4.62),Taiwan(4.93),Filipina(6.10),Malaysia(6.47), India (6.50),Thailand(7.00), China (7.25), Vietnam
(8.10) dan Indonesia (8.26).
[50][51]
PERC memberi komentar bahwa karena survei ini melibatkan eksekutif bisnis ekspatriat daripada aktivispolitik, kriteria seperti kontrak dan perlindungan IPR lebih ditekankan: "persepsi umum ekspatriat adalahbahwa politik setempat tidak memenuhi cara hukum perdagagangan dan kriminal dilaksanakan". PERCmencatat bahwa nilai teratas Singapura dalam survei tersebut tidak termasuk aktivis politik yangmengkritik Partai Aksi Rakyat (PAP) karena menggunakan pengadilan untuk membungkam kritikus.Pada November 2010, sebuah pengadilan Singapura memberi hukuman penjara enam minggu kepadapenulis Britania, Alan Sheldrake atas penghinaan terhadap pengadilan dalam bukunya, "
O
nce A Jolly Hangman: Singapore Justice In The Dock
", berdasarkan wawancara dengan bekas eksekutor pengadilandan kritik terhadap hukuman mati di negara ini
[52]
.[sunting