outputs yang mempengaruhi kehidupan mereka seperti tunjangan sosial dan hukum. Namunmereka tidak berorientasi terhadap partisipasi dalam struktur input.Tipe ini memliki frekuensi yang tinggi terhadap sistem politiknya, yang perhatian danfrekuensi orientasi terhadap aspek masukan (input) dan partisipasinya dalam aspek keluaransangat rendah.Hal ini berarti bahwa masyarkat dengan tipe budaya subjek menyadari telah adanyaotoritas pemerintah.Orientasi pemerintah yang nyata terlihat dari kebanggaan ungkapan saling , baik mendukung atau permusuhan terhadap sistem. Namun demikian, posisinya sebagai subjek (kaula) mereka pandang sebagai posisi pasif. Diyakini bahwa posisinya tidak akan menentukanapa-apa terhadap perubahan politik. Mereka beranggapan bahwa dirinya adalah subjek yangtidak berdaya untuk mempengaruhi ataupun mengubah sistem. Dengan demikian scara umummereka menerima segala keputusan yang diambil dari segala kebijaksanaan pejabat bersifatmutlak, tidak dapat diubah-ubah. Dikoreksi, apalagi ditentang. Bagi mereka yang prinsip adalahmematuhi perintahnya, menerima, loyal, dan setia terhadap anjuran, perintah, sertakebijaksanaan pimpinannya.c. Budaya politik partisipan (participant political culture)Adalah masyarakat yang terdiri dari individu-individuyang berorientasi terhadap struktur inputs dan prosesdan terlibat didalamnya atau melihat dirinya sebagai potensial terlibat, mengartikulasikan tuntutan danmembuat keputusan. Pada budaya poltik ini ditandaidengan kesadaran politik yang tinggi.Budaya partisipan adalah budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik. Masyarakat dengan budaya politik partisipasi, memiliki orientasi yang secara eksplisitditujukan kepada sistem secara keseluruhan, bahkan terhadap struktur, proses politik danadministratif. Tegasnya terhadap input maupun output dari sistem politik itu. Dalam budaya politik itu seseorang atau orang lain dianggap sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik,masyarakat juga merealisasi dan mempergunakan hak-hak politiknya. Dengan demikian,