Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Enid Blyton - Petualangan Di Puri Rajawali

Enid Blyton - Petualangan Di Puri Rajawali

Ratings: (0)|Views: 119 |Likes:
Published by Mas Basuki Basuki
uPlOaDeD bY [fotoselebriti.net]
uPlOaDeD bY [fotoselebriti.net]

More info:

Published by: Mas Basuki Basuki on Feb 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2011

pdf

text

original

 
edited by
 
 fotoselebriti.net 
 1
Seri Petualangan Enid Blyton
[Petualangan di Puri Rajawali]
Bab 1AWAL LIBURAN
Dua anak perempuan sedang duduk-duduk di ambang jendela ruang belajar di asrama mereka. Anak yang satu berambutmerah berombak-ombak Mukanya penuh dengan bintik-bintik coklat. Sedang anak yang satu lagi berambut coklat, dengan jambul yang kocak di atas kening."Satu hari lagi kita libur," kata Lucy-Ann, anak yang berambut merah. Bola matanya yang hijau menatap Dinah. "Aku sudahkepingin sekali bertemu kembali dengan Jack. Berpisah dari dia selama satu semester, rasanya sangat lama."“Ah- kalau aku, tidak apa-apa jika berpisah dari abangku!" kata Dinah sambil tertawa. "Philip bukan anak yang jahat, tapiaku jengkel padanya karena ia selalu membawa-bawa berbagai macam binatang dan serangga yang menjijikkan.""Untung awal liburan mereka hanya berbeda satu hari saja dari kita," kata Lucy-Ann. "Kita akan tiba lebih dulu di rumah.Jadi sempat melihat-lihat dulu sendiri, lalu keesokan harinya bertemu kembali dengan kedua abang kita. Horee!""Aku ingin tahu kayak apa tempat yang dipilih ibu untuk berlibur kali ini," kata Dinah. "Coba kubaca saja lagi suratnya."Diambilnya surat itu dari kantongnya, lalu dibacanya sepintas lalu."Tidak banyak yang ditulisnya di sini. Ibu hanya mengatakan bahwa rumah kita akan dibersihkan dan dicat kembali. Karenaitu ia menyewa sebuah rumah di bukit selama liburan ini," kata Dinah. "Ini — bacalah sendiri!"Lucy-Ann mengambil surat itu, lalu membacanya dengan penuh minat."Ya — rumah itu namanya Pondok Musim Bunga. Letaknya di lereng Bukit Puri. Di sini dikatakan bahwa tempat itu agakterpencil. Tapi di sana banyak terdapat burung. Jack pasti akan senang sekali.""Aku tidak mengerti, kenapa abangmu itu begitu gemar pada burung," kata Dinah. "Sama saja payahnya, seperti kegemaranPhilip pada serangga dan binatang liar.""Philip sangat pintar bergaul dengan binatang," kata Lucy-Ann, yang sangat mengagumi abang Dinah. "Kau ingat tikus itu,yang dilatihnya mengambil remah—remah makanan yang dijepitnya dengan gigi?""Hii — jangan ingatkan aku pada hal-hal kayak begitu," kata Dinah bergidik Anak itu jijik terhadap binatang. la bahkan sudahtidak tahan, kalau ada labah-labah di dekatnya. Apalagi tikus dan kelelawar! Bisa menjerit-jerit dia kalau didekati binatang-binatang macam itu. Lucy-Ann merasa agak aneh, kenapa Dinah masih selalu takut pada mereka. Padahal kan sudahbertahun-tahun hidup dengan Philip. Sedang Philip suka sekali pada binatang!"Philip suka mengganggumu, ya?" kata Lucy-Ann pada Dinah. la teringat bahwa Philip sering meletakkan ulat di bawahbantal Dinah, atau kumbang hitam dalam sepatunya. Philip kalau sedang iseng, gemar sekali mengganggu orang. Jaditidaklah mengherankan apabila Dinah suka marah—marah padanya!
 
edited by
 
 fotoselebriti.net 
 2"Aku ingin tahu, bagaimana keadaan Kiki selama semester yang lalu," kata Dinah.Kiki itu burung piaraan Jack. Seekor burung Kakaktua yang sangat pandai. Kemampuannya menirukan berbagai suara danbunyi, benar-benar menakjubkan. Jack mengajar Kiki mengucapkan berbagai kalimat. Tapi burung itu sendiri juga banyakbelajar sendiri, terutama dari seorang laki-laki tua yang pemarah. Orang itu paman Lucy-Ann dan Jack. Kedua anak itu dulutinggal di tempatnya."Dalam semester ini Kiki tidak diizinkan ikut tinggal di asrama bersama Jack," kata Lucy-Ann."Untung saja ada teman di kota yang mau menampung, sehingga Jack bisa menjenguknya setiap hari. Aku tidak mengerti,kenapa Kiki tidak boleh ikut dengan Jack, tinggal di asrama!""Kalau aku — aku bisa membayangkannya, kalau diingat bahwa Kiki selalu melarang guru kepala menyedot hidung,menyuruh wali kelas Jack membersihkan kaki, dan menjerit kayak peluit kereta api di tengah malam sehingga semuaterbangun karenanya," kata Dinah. “Ah, pokoknya dalam liburan nanti ia bisa berkumpul lagi dengan kita. Aku senang padaKiki. Dia itu tidak kayak burung yang biasa. Aku menganggapnya sebagai satu dari kita."Kiki memang teman bergaul yang menyenangkan. Memang, ia tidak bisa diajak mengobrol. Tapi kalau sedang iseng, ia tidakberhenti-henti mengoceh. Ada-ada saja yang diocehkannya. Anak-anak terpingkal-pingkal dibuatnya, sampai keluar airmata. Kiki sangat sayang pada Jack. Kegemarannya bertengger di bahu anak itu. Bisa berjam-jam ia di situ, kalaudiperbolehkan.Dinah dan Lucy-Ann sudah tidak sabar lagi menunggu datangnya liburan, karena sudah kepingin sekali bisa bersenang-senang kembali dengan kedua abang mereka. Dan dengan Kiki, tentunya! Dan Lucy-Ann, ia sangat ingin bisa berkumpul lagidengan ibu Dinah dan Philip yang cantik dan selalu riang itu.Orang tua Jack dan Lucy-Ann sudah meninggal dunia. Selama bertahun-tahun mereka tinggal bersama paman mereka,seorang tua yang pemarah. Tapi kemudian secara kebetulan mereka bertemu dengan Philip dan Dinah Mannering. Philipdan Dinah tidak berayah lagi. Mereka hidup dengan ibu mereka, yang bekerja keras mencari nafkah untuk mereka bertiga.Bu Mannering begitu sibuk, sehingga tidak sempat mengurus kedua anaknya. Karena itu mereka diasramakan. Pada saat-saat liburan, mereka dititipkan pada paman dan bibi mereka yang tinggal di tepi laut.Tapi keadaan kini sudah berubah. Kini keluarga Mannering memiliki cukup banyak uang. Jadi Bu Mannering tidak perlubekerja terlalu keras lagi. Ia sudah sempat mengurus rumah tangga. Bukan itu saja! Jack dan Lucy-Ann juga diajak tinggalbersama mereka. Jadi kini Dinah dan Lucy-Ann bersekolah bersama-sama dan tinggal satu asrama selama semester sekolahberjalan. Sedang Jack dan Philip juga seasrama di sekolah lain. Di Inggris, banyak juga anak-anak yang tinggal di asrama padawaktu sekolah. Ini sudah merupakan tradisi di sana, setidak-tidaknya untuk golongan tertentu.Tapi setiap tiba saat liburan, keempat anak itu bergabung lagi, tinggal di satu rumah bersama Bu Mannering. Dan dalamliburan kali ini mereka akan tinggal bersama-sama di sebuah rumah tetirah yang disewa Bu Mannering, Dinah sebenarnyaagak kecewa. Ia ingin kembali ke rumah sendiri. Tapi tinggal di rumah tetirah, tentunya cukup menyenangkan.Dibayangkannya nanti berjalan-jalan di bukit, serta piknik di sana!"Kau masih ingat petualangan kita musim panas yang lalu?" katanya pada Lucy-Ann. Lucy-Ann saat itu sedang memandangke luar sambil melamun. la membayangkan betapa senangnya lusa, apabila sudah berkumpul kembali dengan Jack."Ya," katanya menjawab pertanyaan Dinah. Ia mengernyitkan hidungnya yang penuh bintik. "Petualangan itu sangatmenarik — tapi beberapa kali aku takut setengah mati! Pulau Suram — kau masih ingat. Dinah?"
 
edited by
 
 fotoselebriti.net 
 3"Ya, tentu saja! Dan itu — liang tegak lurus yang mengarah ke perut bumi, di mana kita kemudian tersesat! Wah, bukanmain petualangan kita waktu itu!" kata Dinah. "Aku mau saja mengalami yang kayak begitu lagi!""Kau ini aneh!" kata Lucy-Ann. "Melihat labah-labah saja sudah gemetar ketakutan, tapi kelihatannya senang sekalimengalami petualangan seram. Kalau aku, mengingatnya kembali saja sudah menyebabkan seluruh badanku merindingkarena takut!""Kurasa kita takkan mengalami kejadian seperti itu lagi," kata Dinah agak menyesal. "Kurasa pengalaman begitu cumaterjadi sekali saja seumur hidup! Jack dan Philip kalau datang nanti, pasti ingin terus-terusan mengobrol mengenainya.Kau ingat Natal yang lalu, bagaimana sulitnya kita menyuruh mereka berhenti?”"Aduh, aku kepingin sekarang ini sudah liburan," kata Lucy-Ann dengan gelisah. Ia pergi dari ambang jendela. "Aneh, hari—hari terakhir sebelum libur, rasanya selalu lama sekali!"Tapi akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Keesokan harinya kedua anak perempuan ini berangkat naik keretaapi bersama kawan-kawan mereka. Keadaan dalam kereta sangat ramai, penuh dengan suara tertawa dan mengobrol.Kedua anak itu berdebar-debar. Liburan sudah tiba!Mereka harus berganti kereta dua kali. Tapi soal begitu merupakan urusan remeh bagi Dinah. Lucy-Ann selalu malu-malukalau harus berurusan dengan orang-orang yang tak dikenal. Tapi Dinah yang sudah berumur dua belas tahun, sudah bisabertindak tegas. Umur Lucy-Ann hanya berbeda setahun dari Dinah. Tapi dilihat dari tingkah laku keduanya, seakan—akanmereka berbeda umur dua atau tiga tahun!Akhirnya kereta api berhenti di stasiun tempat mereka akan berlibur. Kedua anak itu meloncat keluar. Dinah memanggil-manggil satu-satunya tukang angkat barang yang ada di situ. Orang itu bergegas menurunkan koper-koper mereka darigerbong barang."Itu ibu!" seru Dinah dengan gembira. Ia lari menyongsong seorang wanita yang cantik. Dinah tidak begitu suka memelukdan mencium. Soal begitu, serahkan saja pada Lucy-Ann! Dinah menyambut ibunya dengan ciuman sekilas. Tapi Lucy-Annmerangkul wanita itu, sambil mengusap—usapkan rambutnya yang merah dengan penuh kebahagiaan ke dagu BuMannering."Senang- sekali rasanya berjumpa kembali dengan Anda!" kata Lucy-Ann. Entah untuk keberapa kalinya ia berpikir, betapabahagianya Dinah, karena masih beribu. Tidak anak rasanya hidup yatim-piatu, tanpa orang tua yang menulis surat keasrama, dan menyambut di rumah pada waktu-waktu libur. Tapi Bu Mannering baik hati. Lucy-Ann merasa bahwa wanitaitu menyayanginya.“Aku membawa mobil,” kata Bu Mannering."Yuk, kita ke luar saja. Barang-barang kalian nanti akan dibawakan orang tadi ke mobil."Mereka bertiga keluar dari stasiun. Stasiun itu kecil, karena itu juga persinggahan yang tidak ramai. Di luar stasiun nampak jalan desa, dipagari semak berbunga indah. Langit biru, sedang cuaca nyaman dan cerah. Lucy-Ann sangat berbahagia.Saat itu hari pertama liburan dan ia sudah berkumpul lagi dengan ibu Dinah yang cantik. Sedang besok, Philip dan Jackdatang.Mereka masuk ke mobil Bu Mannering yang kecil. Barang-barang sudah dimasukkan ke tempat bagasi. Bu Mannering dudukdi belakang setir mobilnya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->