Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Korporatisasi Pendidikan di Indonesia

Korporatisasi Pendidikan di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 183 |Likes:
Published by missjustitia

More info:

Published by: missjustitia on Feb 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2012

pdf

text

original

 
SISTEM SOSIAL INDONESIA“KORPORATISASI PENDIDIKAN DI INDONESIA”DISUSUN OLEHANNISA JUSTITIA(0906612945)FRANSISKUS DELI(0906613304)KHARISMA NATALIA(0906613405)NURUL FATKHIYAH(0906613626)R. R. ADRINA(0906614250)SHEILA KARTIKA P. P(0906613834)YUNIA RISWATI(0906614004)PROGRAM STUDI S1 EKSTENSI KOMUNIKASI MASSAFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA2010
 
PENDAHULUAN
Ada sebuah kutipan
 
dari Francis Bacon,
 Knowledge is power.
yang diartikan“Pengetahuan adalah kekuatan.Sejak lahir manusia membutuhkan pendidikan. Manusia belajar berjalan, berbicara, berkomunikasi, dan berinteraksi karena mereka diajarkan. Darilahir bahkan hingga tua dan tutup usia, manusia tidak pernah berhenti belajar. Selain pembelajaran dari lingkungan, adapula pembelajaran formal dan institusi pendidikan.Pendidikan itulah yang akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.Pendidikan menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dikaitkandengan kesejahteraan hidup. Masalahnya adalah tidak semua orang dapat mengakses pendidikan, penyebaran pendidikan belum merata. Ada sebagian besar masyarakat Indonesiadengan tingkat kesejahteraan yang rendah tidak mampu membayar biaya pendidikan.Di sisi lain, negara menjadi pihak yang bertanggunjawab untuk mensejahterakanwarganya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan bahwa salah satutujuan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Kenyataannya tidaklah seidealyang telah ditetapkan. Jumlah individu yang buta aksara di negara kita masih banyak.Pendidikan formal hingga ke jenjang yang tinggi hanya dapat dijangkau oleh kalangantingkat ekonomi menengah ke atas. Pemerintah menganggarkan APBN untuk pendidikansebesar 20%. Apakah anggaran tersebut sudah sepenuhnya diberikan dan cukup?Kebijakan baru yang ada justru membuat peran andil pemerintah menjadi berkurang.Institusi pendidikan menjadi badan hukum milik negara (BHMN) dan kemudian menjadi badan hukum pendidikan (BHP). Dengan begitu, institusi pendidikan tidak lagi menerimasubsidi dari pemerintah. Institusi pendidikan tidak lagi hanya menjadi unit pelaksana tetapiharus memikirkan bagaimana mendapatkan pemasukan untuk biaya operasional.Lagi-lagi yang terkena imbasnya adalah masyarakat. Biaya pendidikan naik dan semakintak terjangkau. Jika demikian bagaimana kualitas sumber daya manusia dapat meningkat?Pendidikan menjadi sebuah komoditas bisnis yang diperjualbelikan.Dengan desentralisasi, masalah yang ada di daerah menjadi sepenuhnya tanggung jawab pemerintah daerah, termasuk masalah pendidikan. Ditambah dengan era globalisasi dankebijakan ekonomi neoliberal. Investasi dari asing untuk pendidikan dapat masuk langsunghingga ke daerah-daerah.Bagaimanakah kualitas pendidikan di Indonesia? Mampukah pendidikan Indonesiameningkatkan kualitas di tengah kebijakan neoliberal?
 
PEMBAHASANPokok masalah dalam artikel “Mensiasati Ideologi Neoliberal”
Hadirnya neoliberalisasi pendidikan di Indonesia menimbulkan masalah yang harusdihadapi. Pokok-pokok masalah dalam artikel “Mensiasati Ideologi Neoliberaladalah
 pertama,
adanya jalinan kerjasama dengan negara tetangga. Yang akibatnya cenderungmenyebabkan : Ketergantungan, Penetrasi dan akulturasi budaya barat serta budayamancanegara melalui Perguruan Tinggi Asing, dan Sosialisasi agenda neoliberal.
 Kedua,
dukungan kebijakan negara terhadap liberalisme atau neoliberalisme sehingga menyimpangdari konstitusi negara yang berdasarkan ekonomi Pancasila, kesejahteraan rakyat, ekonomisubtitusi dan UUD ’45. Contoh kebijakan yang mendukung neoliberalisme pada sektor  pendidikan adalah BHMN, BHP diselenggarakannya UN pada era desentralisasi.
 Ketiga,
neoliberalisme pendidikan mengakibatkan : Terbentuknya kaum Elitis, makin mahalnya biaya, pendidikan, lower class
 
makin susah masuk ke sektor pendidikan, serta jurang antara
upper 
dan
lower class
makin dalam.
 Keempat,
elit politik yang tidak sensitif terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Ditambah lagi Indonesia menempati peringkat pertama palingkorup di Asia Pasifik menurut survei bisnis yang dirilis Political & Economic Risk Consultancy atau PERC Posisi kedua ditempati Kamboja, kemudian Vietnam, Filipina,Thailand, India, China, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Makao, Jepang, Amerika Serikat,Hongkong, Australia, dan Singapura sebagai negara yang paling bersih.
 Kelima,
aspek negatif industrialisasi pendidikan.
Hubungan korporatisasi / industrialisasi pendidikan desentralisasi pada eraneoliberalisme di Indonesia.
Menurut H.A.R Tilaar, ada tiga hal urgensi pendidikan, yaitu : (a) pembangunanmasyarakat demokrasi; (b) pengembangan
 social capital;
dan (c) peningkatan daya saing bangsa. Mcdonaldisasi pendidikan tinggi akibat dari industrialisasi pendidikan yangmementingkan pemasukan tidak bisa atau belum bisa diantisipasi daerah-daerah. Sepertidalam hal; (1) Sumber Daya Manusia; (2) sarana dan prasarana mereka belum tersedia; (3)anggaran pendapatan asli daerah (PAD) mereka sangat rendah; (4) secara psikologis, mentalmereka terhadap perubahan belum siap, (5) mereka juga gamang atau takut terhadap upaya pembaruan.Hasil dari hubungan korporatisasi / industrialisasi pendidikan dan desentralisasi pada eraneoliberalisme di Indonesia adalah terciptanya sangkar besi pada industrialisasi pendidikantinggi. Industrialisasi pendidikan tinggi yang berpijak pada pola pikir kalkulatif danmengedepankan pada pengejaran ekonomi semata telah terperosok dalam sangkar besikekuasaan pasar. Max Weber mengatakan bahwa industrialisasi yang menerapkan prinsip- prinsip rasionalisasi dan teknologisasi di berbagai bidang telah menghasilkan fenomena
disenchantment of the world 
, yaitu suatu proses memudarnya pesona dunia karena segala halyang ada di bumi ini dapat dikalkulasi secara rasional. Akibat yang ditimbulkan darirasionalisasi adalah terjadinya penurunan kualitas kehidupan manusia atau dehumanisasi,karena segala hal yang sebelumnya bersifat subyektif dapat diubah menjadi obyektif, yangkualitatif menjadi kuantitatif (Nugroho, 2002:10).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->