Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Quo Vadis

Quo Vadis

Ratings:

4.5

(6)
|Views: 863 |Likes:
Published by bambang wibiono

More info:

Published by: bambang wibiono on Nov 12, 2007
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2012

pdf

text

original

 
"Quo Vadis" Hubungan RI-SingapuraOleh : Mutammimul ‘Ula SHInteraksi Sejarah Indonesia-SingapuraPada abad ke -14 M sejarah Singapura bermula dan dikenal dengan nama Temasek. Ketika itu pemerintahan ini bernaung di bawah pemerintahan Sriwijaya hingga kekuasaan Sriiwjaya berakhir, Temasek berubah menjadi Singha pura, atau kota Singa dalam Bahasa Sansekerta. Sir Thomas Stamford Raffles menetapkannya sebagai pusat perdagangan pada tahun 1819 ketika Inggris berkuasa. Singapura menjadi negara jajahan Inggris dari abad 19 hingga 20.Hingga akhirnya Singapura beralih tangan di bawah penjajahan Jepang pada tahun 1942 sampai dengan tahun 1945yaitu ketika Inggris bertekuk lutut pada Perang Dunia II. Singapura dikembalikan kepada Inggris akhir PD II dan tahun1959 diberi hak oleh Inggris untuk memerintah sendiri. Malaysia merupakan negara yang mengakui kemerdekaanSingapura selepas Singapura dikeluarkan dari Persekutuan Malaysia pada tahun 1965.Menjelmalah Singapura menjadinegara yang berkembang pesat.Bila menilik dari sekelumit sejarah mengenai Singapura, keterhubungan Indonesia sangat erat. Tak hanya kedekatansecara fisik geografis akan tetapi kesejarahan yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Interaksi sejarah yang masihterkenang di benak kita ketika peristiwa Ganyang Malaysia tahun 1963. Singapura dan Brunei bergabung denganMalaysia memerangi Indonesia. Akan tetapi ketika terjadi kerusuhan antara Cina dan ras Melayu maka TengkuAbdurrahman melepaskan Singapura supaya Melayu menjadi mayoritas di Malaysia. Bahkan diwartakan kerusuhanrasial yang terjadi di negeri Singa itu didalangi tak lain adalah Jakarta.Di era Soekarno, konfrontasi ini bermula. Atasnama menentang Neokolonialisme, Soekarno berteriak.Fase histories selanjutnya dijalani oleh negara yang serumpun ini dengan berbagai jalinan hubungan kerjasama. Sama-sama perintis terbentuknya ASEAN, Singapura dan Indonesia memadu kasih dengan keserasian. Pada era Soehartonyaris tak ada konflik. Bahkan bertahun-tahun dibawah kepemimpinan Soeharto Singapura bebas melakukan latihanmiliter bersama. Konon, Susilo Bambang Yudhoyono sendiri pun mempunyai hubungan personal yang baik dengan PMPerdana Menteri (PM) Lee Hsien Loong ketika SBY menerima tampuk pimpinan, Lee adalah pemimpin dunia pertamayang secara special mengucapkan selamat kepada SBY. Bahkan penobatan SBY di hadirinya pula. Sebaliknya SBYmemuji Lee sebagai pemimpin yang "cerdik dan berwawasan luas dengan sentuhan populer".Antara Langkawi dan Tampak SiringSimbiosis mutualisme mulai diretas oleh Indonesia dengan negeri Singa ini. Berbagai ranah kerjasama dibangun atasnama kepentingan negara. Dalam situs resminya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura memuat berbagaihubungan bilateral kedua negara. Di bidang ekonomi, kepemilikan tingkat komplemantaritas ekonomi yang tinggi antaraRI dan Singapura, membuat keduanya mempunyai keunggulan dan kekurangan masing-masing. Sebagai negara yangmungil secara wilayah, pasar domestic yang terbatas serta sumber daya yang langka, otomatis ketergantungan perekonomian Singapura pada perdagangan luar negri. Salah satunya Penandatanganan Perjanjian (Framework Agreement) untuk merundingkan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam, Bintan, dan Karimun dan beberapa legal framework lainnya.Dalam bidang politik, paralelisasi antara tiga perundingan perjanjian yakni perjanjian pertahanan, perjanjian ekstradisi,dan counter terrorism mengindikasikan hubungan yang baik dan sekaligus mengundang pro dan kontra dari berbagaielemen. Serta hubungan bilateral lainnya yang bisa kita akses di website KBRI tersebut (www.kbrisingapura.com).Mari sekarang kita fokus pada perjanjian di bidang politik dan perjanjian di bidang Pertahanan. Langkah simbolis dalamPertemuan Langkawi 14-15 mei 2007 banyak mengejutkan berbagai pihak, dua minggu sebelum KTT ini orangdikagetkan akan lompatan hubungan Indonesia dan Singapura, yaitu dengan diselesaikannya Perjanjian Ekstradisi danPerjanjian Kerjasama Pertahanan (DCA). Tampak Siring menjadi saksi sejarah berikutnya setelah Langkawi. TampaSiring mengakhiri penantian itu. 30 tahun berlalu sudah, di tutup dengan akad di tanggal 27 april 2007. Hingga banyak  pihak yang bertanya-tanya ada apa dibalik penandatanganan perjanjian ini.Berbagai isu mengiringi perjalanan perjanjian ini, dari masalah isu nasionalisme sampai masalah kedaulatan.Dalam preposisi yang dikemukakan Menhan bahwa DCA ( Defense Cooperation Agreement) akan mampu menjadi alat yangefektif guna menekan Singapura agar melaksanakan poin-pon ekstradisi. Walau di sisi lain, keuntungan lebih berpihak  pada Singapura dibanding Indonesia. Kenyataannya pula, perjanjian ini terbentur pada Implementation Arrangement.
 
Singapura menganggap bahwa perjanjian ini sudah selesai, Indonesia sebaliknya. Jika memang perjanjian ini akandiratifikasi maka Singapura harus mau membicarakan implementation arrangement yang disusun Indonesia, sehinggasimbiosis mutualisme akhirnya yang ada.Prospek Hubungan RI-SingapuraHubungan mesra selama 20 tahun antara RI-Singapura akankah ternodai dengan adanya friksi karena kedua perjanjianini?. Apakah ini menjadi fase buruk dari hubungan Indonesia dan Singapura?. Indikasi memburuknya hubungan inimemang nyata terlihat baik dari kubu Indonesia maupun dari pihak Singapura. Kekhawatiran yang ditampakkan olehkalangan Parlemen bukan tanpa alasan. Banyak pihak yang menengarai bahwa perjanjian ini (baca: DCA) akanmempengaruhi kedaulatan bangsa. Prosedural awal yang tidak melibatkan partisipasi publik dalam penyusunan perjanjian ini menyebabkan tidak lahirnya kepemilikan sehingga wajar ketika di launching ke publik, menuai berbagairespon.Hubungan mesra selama 20 tahun antara RI-Singapura akankah ternodai dengan adanya friksi karena kedua perjanjianini?. Apakah ini menjadi fase buruk dari hubungan Indonesia dan Singapura?. Indikasi memburuknya hubungan inimemang nyata terlihat baik dari kubu Indonesia maupun dari pihak Singapura. Kekhawatiran yang ditampakkan olehkalangan Parlemen bukan tanpa alasan. Banyak pihak yang menengarai bahwa perjanjian ini (baca: DCA) akanmempengaruhi kedaulatan bangsa. Prosedural awal yang tidak melibatkan partisipasi publik dalam penyusunan perjanjian ini menyebabkan tidak lahirnya kepemilikan sehingga wajar ketika di launching ke publik, menuai berbagairespon.Lontaran-lontaran dari parlemen (DPR) baik ketika pertemuan 7 (tujuh)jam antara DPR dengan Menhan JuwonoSudarsono maupun selepas itu, mengerucut pada satu kata"penolakan"terhadap isi perjanjian Defence CooperationAgreement. DPR bahkan tidak keberatan jika DCA ini dibatalkan. Apalagi, perkembangan yang ada menunjukkan bahwa Impelementation Arrangement yang dikehendaki oleh Indonesia tidak ditanggapi positif oleh Singapura, karenamereka menganggap bahwa perjanjian ini sudah final. Dalam pernyataan terakhirnya Singapura berpegang bahwa tidak ada lagi pembahasan peraturan implementasi.Beberapa waktu yang lalu seperti yang diungkapkan Lee Kuan Yew kepada The Sunday Times bahwa hubunganSingapura dengan negara muslim tetangganya seperti Indonesia dan Malaysia tak pernah mulus. Menurutnya, adasekelompok orang di Malaysia dan Indonesia yang berharap Singapura dan pemerintahnya bersikap luwes. Kelompok ini menurut Lee, Cuma menginginkan keuntungan untuk negerinya (Koran Tempo, 5 juli 2007).Apakah tuduhan Lee ini benar? Jangan-jangan tuduhan ini ditujukan kepada negaranya sendiri, mengingat sepak terjangnya selama ini denganIndonesia.Seharusnya pertalian selama kurun waktu 20 tahun mengajarkan banyak hal kepada kita tentang perilaku Singapura.Pada perjanjian pertahanan yang lalu (perjanjian MTA-Millitary Training Area) Singapura melanggar perjanjian tersebutdengan cara melibatkan negara ketiga dalam latihan. Pada kasus reklamasi pasir, wilayah Singapura bertambahmencapai 117,5 km persegi dari kurun waktu 1966-2005. Data statistik Singapura 2006, pada 1966 total luas daratannegara tetangga tersebut 581,5 km2 kemudian pada 1995 telah meluas menjadi 647,5 km2 dan pada 2005 bertambahmenjadi 699 km2 atau selama 40 tahun meningkat seluas 117,5 km2. Sementara itu jumlah pasir yang digunakan untuk reklamasi wilayah Singapura pada 1970 baru 78,40 juta m3, namun tahun 1995 meningkat menjadi 1,05 miliar m3 dantahun 2005 naik menjadi 1,88 miliar m2 (Riau Pos, 14/3).Masih menurut Riau Pos (14/3) Berdasar data Kementerian Kelautan, akibat impor pasir laut, terjadi penambahanwilayah Singapura sekitar 20 persen pada 2001. Luas daratan negara berpenduduk 4 juta jiwa itu bertambah dari 633menjadi 760 kilometer persegi. Bahkan tujuh pulau kecil di Singapura yang dulu terpisah sudah tersambung menjadisatu daratan.Belum lagi, di sektor perbankan dan telekomunikasi Indonesia yang nyaris dalam penguasaan Sing Tel dan STT sertaTemasek. Notabene, ketiga perusahaan ini adalah perusahaan Singapura. Bayangkan, jika perbankan dan telekomunikasikita dibawah pengendalian orang luar. Walaupun, perusahaan tersebut tidak merepresentasikan atas nama negara, akantetapi keterlibatan individual tak bisa dinegasikan.Mampukah Indonesia berdiri sejajar dengan Singapura? Walaupun negara kecil, Singapura cukup memberi pengaruh besar pada perekonomian Indonesia. Secara politis dukungan negara persemakmuran juga cukup menyulitkan posisikita. Apakah hubungan RI-Singapura akan menjadi hubungan yang memanas dalam sejarah? Hanya waktu yang akanmembuktikan itu semua.
 
Pengirim: Khairunnisa Update: 18/07/2007 Oleh: Navishttp://fpks-dpr.or.id/new/main.php?op=isi&id=3360 “membangun politik luar negeri yang bebas dan mandiri(tanggapan atas kunjungan LN Presiden Gus Dur”Oleh: Ibrahim Isa:Lika-liku Hubungan Indonesia-Tiongkok Pada penghujung kunjungan Presiden Gus Dur ke Republik Rakyat Tiongkok (4.12.99) telah dikeluarkan KomunikeBersama RI-RRT. Dengan kunjungan Presiden Gus Dur ke RRT dan dicapainya kata sepakat seperti tercermin di dalamKomunike Bersama itu, dimulailah suatu periode yang samasekali baru dan penuh saling pengertian serta bersahabatantara kedua negeri.Kunjungan Gus Dur ini telah memakukan berakhirnya suatu periode gelap dalam hubungan antara kedua negeri, yang berlangsung selama periode era Orba dibawah mantan presiden Ssuharto. Jendral Suharto memikul tanggung jawabyang paling besar atas memburuknya hubungan Indonesia-Tiongkok sejak akhir 1965. Sejak saat itulah hubungan bersahabat antara kedua negeri yang dengan sungguh-sungguh dan susah payah dibina oleh mantan presiden Sukarno,mulai dirusak dan dibekukan oleh Jendral Suharto dan kekuatan politik dan militer yang mendukungnya.Tiongkok yang ketika itu baru saja mulai dengan Revolusi Kebudayaan, dibidang diplomasi menempuh politik yang Kiriradikal. Politik Tiongkok yang demikian itu memberikan peluang yang lebih besar bagi kekuatan Kanan yang dipeloporioleh Jendral Suharto untuk memperburuk hubungan Indonesia-Tiongkok sampai ke titik beku. Namun, perlu ditandaskan bahwa adalah fihak Angkatan Darat RI dengan dukungan kaum demonstran dan perusuh yangdigerakkan oleh tentara, yang dengan sengaja memprovokasi fihak Tiongkok. Mereka mengadakan demonstrasi anti-Tionghoa dan anti-Tiongkok serta terhadap kedutaan Tiongkok serta melakukan penyerbuan dan merusak gedungkedutaan. Sementara personil kedutaan Tiongkok di Jakarta luka-luka dan ada yang tewas. Difihak Golongan tentarayang dikepalai oleh jendral Suharto dengan dukungan politisi-politisi tertentu yang anti-Tiongkok dan kaumdemonstran, menuduh Tiongkok mendukung G30S, serta mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Padahal,hubungan kerjasama Indonesia-Tiongkok, khususnya hubungan kerjasama militer Tiongkok dan ABRI ketika periode pemerintah Presiden Sukarno, adalah atas inisiatif fihak Indonesia sendiri, yang saat itu memerlukan bantuan perlengkapan dan persenjataan dari Tiongkok. Atas dasar semangat saling-bantu Tiongkok memberikan bantuan militer kepada Indonesia yang saat itu sedang mengalami isolasi dan subversi dari fihak luar, khususnya Inggris dan AmerikaSerikat. Bantuan Tiongkok itu diberikan tanpa mancampuri urusan dalam negeri Indonesia.Jendral Suharto kemudian melancarkan kampanye anti-etnis -Tionghoa dan anti-Tiongkok yang paling besar skalanyadalam sejarah hubungan luar negeri Indonesia. Jendral Suharto juga telah menggusur ribuan etnis Tionghoa di Indonesiayang turun-temurun hidup secara damai dengan bangsa Indonesia. Mereka diusir dari tempat kediamannya sehingga tak ada jalan lain kecuali kembali ke Tiongkok. Dengan demikian dimulailah suatu periode yang amat buruk dan memilukandalam hubungan Indonesia - Tiongkok. Politik anti-Tiongkok jendral Suharto tsb adalah sejalan dengan politik ‘ChinaContaiment’ dari Amerika Serikat dalam rangka perang dinginnya melawan blok Sovyet. Begitulah duduk perkaranya, jika sedikit menoleh ke masa pemerintahan Orde Baru.Setelah beliau dilantik menjadi Presiden RI, Gus Dur mengambil inisiatif secara resmi mengadakan kunjungankenegaraannya yang pertama, ke Republik Rakyat Tiongkok. Ini adalah suatu isyarat simpatik yang menunjukkan hasrat persahabatan yang tulus.Sekaligus mencerminkan sikap tradisionil rakyat kita yang dari abad ke abad bersikap terbukaterhadap dunia luar dan selalu mengulurkan tangan pesahabatannya dengan bangsa manapun di dunia ini, termasuk  bangsa Tionghoa.Komunike Bersama menandaskan bahwa hubungan kedua negeri akan terus dikembangkan dengan stabil dandikonsolidasdi serta berjangka panjang, atas dasar hidup bertetangga baik, saling percaya dan kerjsama yangmenyeluruh.Semuanya ini atas dasar hubungan persahabatan tradisionil yang sudah ada atas dasar Lima Prinsip Koeksistensi Damaidan Dasasila Konferensi Bandung. Juga ditandaskan bahwa kedua negara mempunyai pandangan yang sama bahwa ada

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Gunawan Saputra liked this
Zakariya Ahmad liked this
Nafi' Fia liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->