Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous(Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgariakemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis, Derrida.Dalam “the Laugh of the Medusa” Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist, diamenolak esensialisme yang sedang marak di Amerika pada waktu itu. Julia Kristevamemiliki pengaruh kuat dalam wacana pos-strukturalis yang sangat dipengaruhi olehFoucault dan Derrida.Secara lebih spesifik, banyak feminis-individualis-putih-barat7 , meskipun tidak semua, banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga.Meliputi Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Dalam berbagai penelitian tersebut, telahterjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial,agama, ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan duniaketiga sebagai “objek” per se).
Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yangidentik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme
8. Mohantymembongkar beberapa peniliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek9.Dan bell hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-femaledalam kelahirannya10 .Dalam wacana ini, banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus), menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putihyang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam, yaitu: tidak adanyarepresentasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. Penggambaran pejuangfeminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih.Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai
Subaltern
yang tidak memiliki politik agensiselama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. Selama sebelum PD II, banyak pejuangtanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja.Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis darikalangan pendidikan, politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. Pada era itukelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. Tetapi perempuan duniaketiga masih dalam kelompok yang bisu.Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini, perempuan dunia pertamamelihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga, denganasumsi bahwa semua perempuan adalah sama. Dengan asumsi ini, perempuan duniaketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi, rasisme, seksisme,dan relasi sosial. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik, para feminisini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan.Dalam berbagai diskursus, banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwatinggal di rumah dan tidak bekerja, bagi perempuan kulit hitam, adalah kemewahan.Karena perempuan kulit hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk
Add a Comment