Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
perempuan

perempuan

Ratings:

4.83

(6)
|Views: 784 |Likes:
Published by bambang wibiono

More info:

Published by: bambang wibiono on Nov 12, 2007
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

 
Kamis, 26 Januari 2006Perempuan Indonesia ‘bukan’ Perempuan JawaOleh: Dewi Cadraningrum Soekirno1"Tulisan ini membongkar gerakan feminisme gelombang pertama pada era penjajahanEropa dan gelombang feminisme kedua pada era setelah bangsa-bangsa terjajahmemperjuangkan kemerdekaannya. Kelahiran post-strukturalisme dan postmodernisme,ditandai dengan kelahiran gerakan poskolonialisme yang melahirkan feminismegelombang ketiga. Gelombang ini menentang universalisme perempuan. Pada lingkar terkini ini perempuan dunia ketiga menyuarakan suara mereka yang telah dijadikansebagai obyek oleh feminis-individualis-Barat. Gerakan ini dipelopori oleh feminis poskolonial. Dengan kerangka feminisme dunia ketiga, tulisan ini lebih lanjut,membongkar identifikasi perempuan Indonesia sebagai perempuan Jawa. Mengeksplorasikehadiran perempuan Indonesia sebagai Obyek (baca: Perempuan selain Jawa) bagi perempuan Jawa. sebagai konklusi adalah proses rekonstruksi"Feminismus: Kelahiran ‘Universalisme Perempuan’ yang TimpangFeminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengankelahiran era Pencerahan di Eropa2 yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagudan Marquis de Condorcet3 . Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertamakali didirikan di Middelburg4 , sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785.Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatiandari para perempuan-putih di Eropa. Simone de Beauvoir dalam Le Deuxieme Sexe(1949) memunculkan eksistensi perempuan sebagai kelas kedua. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa (baca: perempuan kulit putih) memperjuangkan apa yang merekasebut sebagai universal sisterhood. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivissosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837 (baca: lebih awal tahun 1808).Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasiJohn Stuart Mill, the Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka menandaikelahiran feminisme Gelombang Pertama.Setelah berakhirnya perang dunia kedua, ditandai dengan lahirnya negara-negara baruyang terbebas dari penjajah Eropa, lahirlah Feminisme Gelombang Kedua pada tahun1960. Dengan puncak diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. Padatahun ini merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnyamembongkar glass-ceiling5 logophalos dengan ikut mendiami ranah politik kenegaraan.Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadimomentum perjuangannya: gender inequality, hak-hak perempuan, hak reproduksi, hak  berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualitas. Gerakan feminisme adalahgerakan pembebasan perempuan dari: rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan perempuan, dan phalogosentrisme 6 .
 
Dalam gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous(Yahudi kelahiran Algeria kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (Bulgariakemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis, Derrida.Dalam “the Laugh of the Medusa” Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Sebagai bukan white-Anglo-American-Feminist, diamenolak esensialisme yang sedang marak di Amerika pada waktu itu. Julia Kristevamemiliki pengaruh kuat dalam wacana pos-strukturalis yang sangat dipengaruhi olehFoucault dan Derrida.Secara lebih spesifik, banyak feminis-individualis-putih-barat7 , meskipun tidak semua, banyak mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga.Meliputi Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Dalam berbagai penelitian tersebut, telahterjadi pretensi universalisme perempuan sebelum memasuki konteks relasi sosial,agama, ras dan budaya (baca: tidak semua feminis Barat menjadikan perempuan duniaketiga sebagai “objek” per se).
Spivak membongkar tiga teks karya sastra Barat yangidentik dengan tidak adanya kesadaran sejarah kolonialisme
8. Mohantymembongkar beberapa peniliti feminis barat yang menjebak perempuan sebagai obyek9.Dan bell hooks mengkritik teori feminisme Amerika sebagai sekedar kebangkitan anglo-white-american-feminism karena tidak mampu mengakomodir kehadiran black-femaledalam kelahirannya10 .Dalam wacana ini, banyak kasus (baca: meskipun tidak semua kasus), menempatkan perempuan dunia ketiga dalam konteks “all women”. Dengan apropiasi bahwa semua perempuan adalah sama. Dalam beberapa karya sastra novelis perempuan kulit putihyang ikut dalam perjuangan feminisme masih terdapat lubang hitam, yaitu: tidak adanyarepresentasi perempuan budak dari tanah jajahan sebagai Subyek. Penggambaran pejuangfeminisme adalah yang masih mempertahankan posisi budak sebagai yang mengasuh bayi dan budak pembantu di rumah-rumah kulit putih.Perempuan dunia ketiga tenggelam sebagai
Subaltern
yang tidak memiliki politik agensiselama sebelum dan sesudah perang dunia kedua. Selama sebelum PD II, banyak pejuangtanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdekaan bagi laki-laki nya saja.Terbukti kebangkitan semua Negara-negara terjajah dipimpin oleh elit nasionalis darikalangan pendidikan, politik dan militer yang kesemuanya adalah laki-laki. Pada era itukelahiran feminisme gelombang kedua mengalami puncaknya. Tetapi perempuan duniaketiga masih dalam kelompok yang bisu.Senyampang dengan keberhasilan gelombang kedua ini, perempuan dunia pertamamelihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuan-perempuan dunia ketiga, denganasumsi bahwa semua perempuan adalah sama. Dengan asumsi ini, perempuan duniaketiga menjadi obyek analisis yang dipisah dari sejarah kolonialisasi, rasisme, seksisme,dan relasi sosial. Dalam melihat peran perempuan dalam urusan domestik, para feminisini gagal melihat bahwa domestikasi perempuan kadangkala bukan bentuk penindasan.Dalam berbagai diskursus, banyak perempuan kulit hitam mengajukan protes bahwatinggal di rumah dan tidak bekerja, bagi perempuan kulit hitam, adalah kemewahan.Karena perempuan kulit hitam dari lapis kelas bawah harus bekerja di luar rumah untuk 
 
memenuhi kebutuhan ekonomi. Di sini terlihat bahwa posisi ekonomi yang tidak paralelmembuat universalisme penjajahan domestik menjadi tidak bisa diaplikasikan begitu sajatanpa menimbang aspek-aspek lain. Di sini ada ambivalensi persoalan yang bertolak  belakang antara masalah perempuan kulit putih kelas menengah dan perempuan kulithitam. Dalam persoalan pertama, domestikasi dianggap sebagai bentuk opresi.Perempuan dilarang bekerja di luar rumah, dan lain-lain yang non-domestik. Sedanguntuk persoalan kulit hitam, mereka kebanyakan harus berada di luar rumah, bekerjakeras, dan melingkupi pekerjaan kasar dan tidak terdidik. Domestikasi bagi perempuankulit hitam adalah kemewahan yang kadang tidak terbeli. Ada paradoks dalam istilahdomestikasi sebagai alat propaganda.Disputasi konsep yang diajukan dalam gelombang kedua ini terutama dalam aktulisasiuniversal sisterhood dalam objektifikasi. Dalam banyak kasus perempuan dunia ketigadianggap sebagai yang terbelakang dan perlu mendapatkan pendidikan a la Barat tanpaada prekonsepsi bahwa di dunia ketiga, para perempua, juga memiliki pujangga-pujanggayang mengajarkan bagaimana bisa beradab. Misi peradaban berubah menjadi misidevelopmentalis, dimana perempuan dunia ketiga menjadi obyek pemuasaan nafsu “ingintahu” a la ilmu ilmiah Barat. Dalam ranah antropologi, banyak studi di arahkan padadunia ketiga yang Obyek. Di sini ada pengaruh kuat untuk memenuhi tuntutan ilmutentang yang lain. “Yang lain” sebagai yang berbeda dengan pusat adalah sumber  penelitian yang digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu. Lagi-lagi, di sini, perempuan dunia ketiga mengalami objektifikasi ganda dalam relasi ekonomi-sosial yangtidak simetris. Penelitian-penelitian ini lebih jauh diaplikasikan oleh para elit-nasionalis(baca: pemerintahan developmentalis dunia ketiga) dalam kebijakan-kebijakanmenangani perempuan. Walhasil perempuan melengkapi peran-nya sebagai sekelompok kelas marjinal yang menjadi obyek pelaksanaan kebijakan tanpa adanya proses prekonsepsi tentang Subyek. Dalam banyak kasus, perempuan dunia ketiga mengalamiefek dramatis dari penyebaran alat kontrasepsi. Perempuan dunia ketiga, sekali lagi,diam, bisu, dan menerima begitu saja. Ini adalah proses konsepsi objektifikasi yangmembiarkan mereka sebagai manusia yang tidak perlu diberi ruang untuk berbicara.Dalma konsep objektifikasi ini, perempuan diletakkan dalam sebuah ruang tanpa nama.Dan mereka adalah padang tempat benih disemaikan. Mereka mengambil bentuk rahimyang siap menampung orok. Di sini kuasa perempuan dimutilasi sedemikian rupa hanyadalam tataran obyek. Pengetahuan obyek ini berangkat dari konsepsi bahwa mereka tidak  berpendidikan dan tidak beradab, maka perlu diberi pendidikan dan diperadabkan dengankontrasepsi dan lain-lain. Hampir seluruh kasus penelitian reproduksi, usaha semuadiupayakan untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek, yang rela tidak rela harusmenjalani peran kontrasepsi. Dalam penelitian psikologi, seorang feminis Gilian dalam penelitian menentang riset Kohlberg sebelumnya yang menganggap bahwa anak  perempuan hanya mencapai nilai rendah dibanding anak laki-laki dalam perkembanganmoral. Menurutnya hasil itu bias karena kebanyakan partisipannya adalah anak laki-laki.Dan hasil penilaian sangat dipengaruhi oleh nilai maskulin. Lebih jauh dia mengkritik  persoalan etika hukum dan mengusulkan etika perhatian11 .Feminismus: Menuju Kesadaran Subyek 

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Aditya Rachman liked this
Sakti Awan liked this
fkchiel liked this
fkchiel liked this
soedjai liked this
Syams Noer liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->