Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
15Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
case rhinitis alergi

case rhinitis alergi

Ratings: (0)|Views: 456 |Likes:
Published by Handre Putra

More info:

Published by: Handre Putra on Feb 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2013

pdf

text

original

 
RINITIS ALERGIDefinisi
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama sertadilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergenspesifik tersebut (Von Pirquet, 1986).Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001,rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gataldan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.
 
Epidemiologi
Meskipun insiden rinitis alergika yang tepat tidak diketahui, tampaknyamenyerang sekitar 10 persen dari populasi umum (Norman, 1985).
 
Klasifikasi
 
Menurut klasifikasi WHO Initiative ARIA tahun 2001, berdasarkan sifat berlangsungnya rinitis alergi dibagi menjadi :1.
 
Intermiten (kadang-kadang) : bila gejala kurang dari 4 hari/minggu ataukurang dari 4 minggu.2.
 
Persisten (menetap) : bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4minggu.Berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi :1.
 
Ringan : bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.2.
 
Sedang-berat : bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.
Etiologi dan Patogenesis
Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yangsecara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelasmemiliki peran penting. Pada 20 ± 30 % semua populasi dan pada 10 ± 15 % anak semuanya atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %. Peran lingkungan dalam dalam rinitis alergi yaitu alergen,yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar dan merangsang respon imun yang secaragenetik telah memiliki kecenderungan alergi.
 
Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama udara pernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari, dan lain-lain.Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahapsensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/ reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2fase yaitu reaksi alergi fase cepat yang berlangsung sejak kontak dengan alergensampai 1 jam setelahnya dan reaksi alergi fase lambat yang berlangsung 2-4 jamdengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali oleh adanya prosessensitisasi terhadap alergen sebelumnya. Melalui inhalasi, partikel alergen akantertumpuk di mukosa hidung yang kemudian berdifusi pada jaringan hidung. Hal inimenyebabkan sel Antigen Presenting Cell (APC) akan menangkap alergen yangmenempel tersebut. Kemudian antigen tersebut akan bergabung dengan HLA kelas IImembentuk suatu kompleks molekul MHC (Major Histocompability Complex) kelas II.Kompleks molekul ini akan dipresentasikan terhadap sel T helper (Th 0). Th 0 ini akandiaktifkan oleh sitokin yang dilepaskan oleh APC menjadi Th1 dan Th2. Th2 akanmenghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL4, IL5, IL9, IL10, IL13 dan lainnya.IL4 dan IL13 dapat diikat reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel Bmenjadi aktif dan memproduksi IgE. IgE yang bersirkulasi dalam darah ini akan terikatdengan sel mast dan basofil yang mana kedua sel ini merupakan sel mediator. AdanyaIgE yang terikat ini menyebabkan teraktifasinya kedua sel tersebut.Reaksi cepat terjadi dalam beberapa menit, dapat berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya. Mediator yang berperan pada fase ini yaituhistamin, tiptase dan mediator lain seperti leukotrien, prostaglandin (PGD2) dan bradikinin. Mediator-mediator tersebut menyebabkan keluarnya plasma dari pembuluhdarah dan dilatasi dari anastomosis arteriovenula hidung yang menyebabkan terjadinyaedema, berkumpulnya darah pada kavernosus sinusoid dengan gejala klinis berupahidung tersumbat dan oklusi dari saluran hidung. Rangsangan terhadap kelenjar mukosa dan sel goblet menyebabkan hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkatsehingga terjadi rinore. Rangsangan pada ujung saraf sensoris (vidianus) menyebabkanrasa gatal pada hidung dan bersin-bersin.Reaksi alergi fase lambat terjadi setelah 2 ± 6 jam setelah fase cepat. Reaksi inidisebabkan oleh mediator yang dihasilkan oleh fase cepat beraksi terhadap sel endotel
 
 postkapiler yang akan menghasilkan suatu Vascular Cell Adhesion Mollecule (VCAM)dimana molekul ini menyebabkan sel leukosit seperti eosinofil menempel pada selendotel. Faktor kemotaktik seperti IL5 menyebabkan infiltrasi sel-sel eosinofil, selmast, limfosit, basofil, neutrofil dan makrofag ke dalam mukosa hidung. Sel-sel inikemudian menjadi teraktivasi dan menghasilkan mediator lain seperti EosinophilicCationic Protein (ECP), Eosinophilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein(MBP) dan Eosinophilic Peroxidase (EPO) yang menyebabkan gejala hiperreaktivitasdan hiperresponsif hidung. Gejala klinis yang ditimbulkan pada fase ini lebihdidominasi oleh sumbatan hidung.
Gambaran klinis
Manifestasi utama adalah rinorea, gatal hidung, bersin-bersin dan sumbatanhidung. Pembagian rinitis alergika sebelum ini menggunakan kriteria waktu pajananmenjadi rinitis musiman (
 seasonal allergic rhinitis
), sepanjang tahun
(perenial allergicrhinitis
), dan akibat kerja (
occupational allergic rhinitis
). Gejala rinitis sangatmempengaruhi kualitas hidup penderita. Tanda-tanda fisik yang sering ditemui jugameliputi perkembangan wajah yang abnormal, maloklusi gigi,
allergic gape
(mulutselalu terbuka agar bisa bernafas),
allergic shiners
(kulit berwarna kehitaman dibawahkelopak mata bawah), lipatan tranversal pada hidung (
transverse nasal crease
), edemakonjungtiva, mata gatal dan kemerahan. Pemeriksaan rongga hidung dengan spekulumsering didapatkan sekret hidung jernih, membrane mukosa edema, basah dan kebiru- biruan (
boggy and bluish
).Pada anak kualitas hidup yang dipengaruhi antara lain kesulitan belajar danmasalah sekolah, kesulitan integrasi dengan teman sebaya,
 
kecemasan, dan disfungsikeluarga. Kualitas hidup ini akan diperburuk dengan adanya ko-morbiditas. Pengobatanrinitis juga mempengaruhi kualitas hidup baik positif maupun negatif. Sedatif antihistamin memperburuk kualitas hidup, sedangkan non sedatif antihistamin berpengaruh positif terhadap kualitas hidup. Pembagian lain yang lebih banyak diterima adalah dengan menggunakan parameter gejala dan kualitas hidup, menjadiintermiten ringan-sedang-berat, dan persisten ringan-sedang-berat.

Activity (15)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
rayendrareno liked this
RaRa PRawita liked this
RaRa PRawita liked this
RaRa PRawita liked this
Trio Wicaksono liked this
Della Devega liked this
ADrian ARief liked this
phydt liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->