Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Strategi Dual Pengembangan Kemampuan Industri TIK Nasional

Strategi Dual Pengembangan Kemampuan Industri TIK Nasional

Ratings:

4.78

(9)
|Views: 1,796 |Likes:
Published by Tatang Taufik
Diskusi singkat pemikiran tentang strategi dual untuk pengembangan kemampuan industri TIK Indonesia
Diskusi singkat pemikiran tentang strategi dual untuk pengembangan kemampuan industri TIK Indonesia

More info:

Published by: Tatang Taufik on Aug 19, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2012

pdf

text

original

 
Strategi Dual Pengembangan Kemampuan Industri TIK Nasional
Tatang A. Taufik 
 
Abstrak
Pendekatan sistem inovasi dalam konteks industri/sektor spesifik sering disebut dengan industrial/sectoral innovation system. Pendekatan sistemik atas pembangunan industri juga dewasa ini semakin berkembang dan luas diterapkan dalam kerangka yang dikenal sebagai klaster industri, terutama sejak Michael Porter mengangkatnya di awal tahun 1990an. Walaupun begitu, bagaimana kedua pendekatan ini “digunakan” dalam konteks pragmatis belum demikian luas dibahas, terutama di Indonesia. Teknologi Informasi dan Komunikasi/TIK (Information and Communication Technology/ICT) merupakan salah satu bidang yang dinilai semakin penting di era sekarang, yang juga merupakan salah satu bidang prioritas iptek nasional.Makalah ini mengajukan suatu gagasan strategi dual untuk pengembangan kemampuan industri TIK nasional dalam perspektif sistem inovasi dan klaster industri. Karakteristik potensi dan pasar ekspor dan domestik yang berbeda menjadi pertimbangan sangat penting bahwa strategi pengembangan industri perlu dikembangkan sebagai lintasan ganda yang saling komplementatif.
I. PENDAHULUAN
Teknologi Informasi dan Komunikasi/TIK
(Information and Communication Technology/ICT)
 merupakan salah satu bidang yang dinilai semakin penting di era sekarang, yang juga merupakan salahsatu bidang prioritas iptek nasional. TIK sebagai salah satu kunci bagi pembangunan ekonomi masadepan:
knowledge economy 
dan
knowledge society.
Pesatnya kemajuan TIK, sifat “uniknya” dan perannyasebagai
enabler 
dan sekaligus sektor produktif potensial menjadikan TIK sebagai bidang yang tidakmungkin diabaikan dalam pembangunan. Bagi perkembangan TIK itu sendiri, negara seperti Indonesiayang berpenduduk 220 juta, sangat penting, bukan saja sebagai pasar bagi produk yang semakin saratpengetahuan/teknologi atau inovasi, tetapi juga potensi basis pemajuan TIK selanjutnya.Dalam perjalanan sejarah pembangunan, daya saing dan kohesi sosial semakin luas diyakinisebagai kunci ukuran keberhasilan dan karenanya menjadi upaya yang makin luas ditelaah banyak pihak.Perkembangan ini juga penting bagi penentu kebijakan dalam rangka menghasilkan pengaruh kebijakanyang tepat dan membawa posisi industri dan negara di tengah perkembangan global yang dinamis.Tulisan ini mengajukan dua konsep yang tengah berkembang, yakni klaster industri dan sisteminovasi dalam menyoroti industri TIK. Pendekatan sistem terhadap perkembangan dan kompleksitas dariinovasi dan difusinya, yang semakin disadari tidaklah “linier,” serta proses pembelajaran sosial dandinamika perkembangan pengetahuan (penciptaan, penggunaan, dan distribusinya) mendorongperkembangan paradigma tentang “sistem inovasi.” Pandangan sistem juga berkembang dalam menelaahaktivitas-aktivitas nilai tambah dalam bisnis/ekonomi secara luas. Walaupun berpangkal dari “akar”keilmuan yang agak berbeda, pandangan tentang efisiensi kolektif, lingkungan inovatif,
path dependence,
 dan lainnya mendorong perkembangan pendekatan klaster industri dalam ulasan teoritis/konseptual dankajian-kajian empiris. Ibarat suatu mata uang logam yang bersisi ganda, kedua pendekatan tersebutsebenarnya sama-sama mencermati dari perpsektif kesisteman tentang suatu konteks yang sama darikonsep yang saling melengkapi. Bahkan dalam konteks kasus yang semakin “terlokalisasi” keduanyabahkan seakan “berhimpitan.”Melalui kajian eksploratif mengenai kedua konsep tersebut, penulis memandang bahwa peningkatandaya saing industri TIK nasional perlu dilakukan dengan mendorong kemajuan sistem inovasi yangsemakin adaptabel, dan klaster industri yang berkembang dinamis dan memiliki keunggulan khas
(unique advantage)
. Makalah ini mengajukan suatu gagasan strategi dual untuk pengembangan kemampuanindustri TIK nasional dalam perspektif sistem inovasi dan klaster industri. Karakteristik potensi dan pasarekspor dan domestik yang berbeda menjadi pertimbangan sangat penting bahwa strategi pengembanganindustri perlu dikembangkan sebagai lintasan ganda yang saling komplementatif.
*)
 
Dr. Tatang A. Taufik, bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Saat ini menjabat sebagai Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi – BPPT.
 1
 
II. PENDEKATAN
Dalam upaya yang tengah dilakukan oleh BPPT berkaitan dengan upaya peningkatan kemampuanindustri TIK nasional, dua “konsep” yang tengah berkembang dikaji sebagai alat pendekatan dalam kajian,yaitu “klaster industri” dan “sistem inovasi.” Pemetaan
(mapping)
tentang TIK nasional dilakukanberdasarkan kompendium beragam kajian terdahulu dan upaya serupa yang relevan. Tinjauan kebijakan(direncanakan) dilakukan terutama dalam kerangka penguatan sistem inovasi dan/atau peningkatan dayasaing klaster industri TIK. Beberapa hasil indikatif dirangkum sebagai bahan tinjauan strategis danpemetarencanaan kolaboratif
(collaborative roadmapping)
.Dalam kaitan tersebut, makalah ini merupakan kertas kerja yang secara ringkas menyampaikanhasil sementara kajian eksploratif yang tengah dilaksanakan berkaitan dengan peningkatan kemampuanindustri TIK nasional.
III. KLASTER INDUSTRI DAN SISTEM INOVASI: KONVERGENSI KONSEP
Klaster industri pada dasarnya merupakan:
1
  jaringan dari sehimpunan industri yang saling terkait (industri inti/
core industries 
– yang menjadi “fokusperhatian,” industri pendukungnya/
supporting industries 
, dan industri terkait/
related industries)
,pihak/lembaga yang menghasilkan pengetahuan/teknologi (termasuk perguruan tinggi dan lembagapenelitian, pengembangan dan rekayasa/ litbangyasa), institusi yang berperanmenjembatani
 /bridging institutions 
(misalnya
broker 
dan konsultan), serta pembeli, yangdihubungkan satu dengan lainnya dalam rantai proses peningkatan nilai
(value adding production chain).
 Atau secara singkat:klaster industri sebenarnya merupakan kelompok industri spesifik yang dihubungkan oleh jaringan matarantai proses penciptaan/peningkatan nilai tambah, baik melalui hubungan bisnis maupun nonbisnis.Dalam hal ini aktor beserta peran masing-masing, proses nilai tambah, dinamika keterkaitan untuksetiap tematik dan konteks tertentu akan mencirikan apa yang dimaksud dengan klaster industri tertentu.Skema dalam Lampiran menunjukkan beberapa teori/konsep yang relevan dengan perkembanganpendekatan klaster industri.Sementara itu, sistem inovasi secara umum memiliki pengertian sebagai suatu kesatuan darisehimpunan aktor, kelembagaan, hubungan interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arahperkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktek baik/terbaik) sertaproses pembelajaran.
2
Dalam konteks bidang/sektor tertentu, beberapa menyebutnya sebagai “sisteminovasi sektoral.” Malerba (2002b) misalnya mendefinisikan apa yang disebutnya
sectoral system of innovation and production 
sebagai berikut:
. . . a sectoral system of innovation and production 
 
is a set of new and established products for specific uses and the set of agents carrying out market and non-market interactions for the creation, production and sale of those products. Sectoral systems have a knowledge base,technologies, inputs and demand. . . .
1
Lihat beberapa versi pengertian dan bahasan tentang klaster industri antara lain dalam Bergmandan Feser (1999); Munnich Jr., et al. (1999); Porter (1990); UK DTI (1998b , 2001).
2
Lihat beberapa versi pengertian dan bahasan tentang sistem inovasi antara lain dalam Edquist(2001, 1999); Freeman (1995); Lundvall (beberapa terbitan); Nelson (1993). Lihat skematiksederhana tentang sistem inovasi dalam bagian lampiran. Daftar literatur tentang sistem inovasiselanjutnya dapat dilihat antara lain dalam Taufik (2005).2
 
Ragam bahasan dalam literatur tentang klaster industri dan sistem inovasi menunjukkan adanya“himpitan” dalam cara pandang kedua konsep ini, setidaknya dalam beberapa hal berikut (lihat ringkasanskematik dalam lampiran):1. Pendekatan sistem yang menggunakan telaahan secara holistik tentang konteks telaahantertentu;2. Peran aktor (dan kelembagaan) dalam proses penciptaan nilai;3. Dinamika interaksi antaraktor (termasuk kompetisi dan kooperasi);4. Pentingnya pengetahuan dan pembelajaran (inovasi dan difusi) dalam menentukankemajuan/keberhasilan individu dan sistem;5. Implikasi pergeseran peran dan kebutuhan reformasi kebijakan.Menurut hemat penulis, dalam konteks tematik (sektor/industri) dan lokasi (geografis) yang semakinfokus, maka cara pandang klaster industri dan sistem inovasi pada esensinya adalah sama(menunjukkan“konvergensi” dalam konsep/perspektif, terutama dalam konteks peningkatan daya saing).
3
Hal ini sangatpenting terutama dari perspektif kebijakan publik.
Kebijakan pemerintah yang baik membutuhkan kerangka
(policy framework)
yang sesuai danmenjadi “acuan” bagi keterpaduan keseluruhan instrumennya secara konsisten;
Kebijakan pemerintah perlu sesuai dengan “status perkembangan” sistem sehingga dapatmenjadi sistem yang lebih adaptif dengan perkembangan ke depan;
Instrumen kebijakan perlu semakin memenuhi kaidah kebijakan yang baik dalam mengatasiisu/persoalan kebijakan yang sesuai dengan tantangan dinamika pasar (mengatasi kegagalanpasar/
market failures 
tertentu),
government failures 
, dan kegagalan sistemik;
Pembelajaran kebijakan menjadi faktor yang semakin penting bagi keberhasilan kebijakandari waktu ke waktu dalam menumbuhkembangkan sistem.
IV. PERKEMBANGAN INDUSTRI TIK
Teknologi Informasi dan Komunikasi
4
memiliki karakteristik “unik” dalam perekonomian (daya saing)dan pembangunan pada umumnya. Selain sebagai suatu “sektor produktif,” bidang TIK merupakan bidangyang dinilai sangat penting (termasuk dalam penguatan klaster industri atau sistem inovasi sektoral itusendiri) karena karakteristik berikut:
TIK bersifat
pervasive 
dan
cross-cutting 
 
TIK merupakan
enabler 
yang penting dalam penciptaan jaringan
TIK mendorong diseminasi informasi dan pengetahuan
 
Zero or declining marginal costs 
untuk produk-produk digital
Peningkatan efisiensi dalam produksi, distribusi dan pasar
Penting bagi model bisnis inovatif dan keseluruhan industri baru
TIK dapat memfasilitasi
disintermediation 
 
TIK memiliki cakupan global.Sifat TIK dan beberapa kemajuan di bidang TIK mempengaruhi bisnis di bidang TIK itu sendiri(ilustrasi Gambar 1). Selain itu, pesatnya kemajuan di bidang TIK (teknologi maupun industrinya sertadampaknya dalam berbagai aspek kehidupan manusia) dan konvergensi dalam TIK turut mempengaruhi
3
Ini terutama dari perspektif kebijakan. Prakarsa-prakarsa di berbagai negara maju (terutamaberkaitan dengan konteks sektor dan lokasi-geografis tertentu) sangat mendukung hal ini.
4
Cakupan istilah TIK
(Information and Communication Technology/ICT)
antara lain dapat dilihatdalam dokumen
WPIIS in 1998; OECD, ISIC Rev.3 
;
World Bank; Gibbs dan Tanner (1997).
 3

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ade Kristiana liked this
Arief Setyanto liked this
Gie Man liked this
Nurman55 liked this
imengotscribs liked this
budisupriantoro liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->