Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Reformasi Birokrasi dalam Pelayanan Publik

Reformasi Birokrasi dalam Pelayanan Publik

Ratings: (0)|Views: 114 |Likes:
Published by Aji Kusuma

More info:

Published by: Aji Kusuma on Feb 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2011

pdf

text

original

 
Reformasi Birokrasi dalam Pelayanan Publik ( Liputan KHN Desember 2004,Nurul D Irawati )
Salah satu fungsi utama dalam penyelenggaraan pemerintahan yang menjadi kewajibanaparatur pemerintah adalah penyelenggaraan pelayanan publik. Di dalam hukumadministrasi negara Indonesia, berdasarkan pengertian umum yang dimuat di dalamLampiran 3 Keputusan Menpan No. 63/Kep/M.PAN/7/2003, paragraf I, butir C, istilah³pelayanan publik´ diartikan sebagai: ³segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan olehinstansi pemerintah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan orang, masyarakat, instansi pemerintah dan badan hukum maupun sebagai pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.´Peraturan perundangan Indonesia telah memberikan landasan formal penyelenggaraan pelayanan publik yang didasarkan pada Asas-asas Umum Pemerintahan Yang Baik. Pasal3 Undang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dariKorupsi, Kolusi dan Nepotisme (selanjutnya UU KKN) menyebutkan asas-asas yangmenjadi landasan penyelenggaraan pelayanan publik terdiri dari: asas kepastian hukum;asas tertib penyelenggaraan Negara; asas kepentingan umum; asas keterbukaan; asas proporsionalitas; asas profesionalitas; dan asas akuntabilitas.Kinerja pelayan publik sebagai aparatur pemerintah sampai saat ini tampaknya belummaksimal. Setidaknya ada tiga masalah utama yang dihadapi oleh aparatur pemerintahkita, dan melatarbelakangi penelitian bertema ³Membangun Sistem Pemerintahan yangLayak dan Melakukan Reformasi Hukum Administrasi: Reformasi Hukum Administrasi Negara dalam Rangka Pelayanan Umum´ yang dilakukan oleh Komisi Hukum Nasional(KHN) bekerja sama dengan Agustinus Pohan, SH., MS; Bayu Seto, SH., LL.M.; danBudi Prastowo, SH., MHum, yang tergabung dalam Sidharta, Pohan, & Prastowo LegalResearch Institute, yaitu adalah:a. Rendahnya kualitas pelayanan publik yang dilaksanakan oleh sebagian aparatur  pemerintahan atau administrasi negara dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Kondisiini karena di dalam kerangka hukum administrasi positif Indonesia saat ini telah diatur tentang standar minimum kualitas pelayanan, namun kepatuhan terhadap standar minimum pelayanan publik tersebut masih belum termanifestasikan dalam pelaksanaantugas aparatur pemerintahan. b. Birokrasi yang panjang (red-tape bureaucracy) dan adanya tumpang tindih tugas dankewenangan, yang menyebabkan penyelenggaraan pelayanan publik menjadi panjang danmelalui proses yang berbelit-belit, sehingga besar kemungkinan timbul ekonomi biayatinggi, terjadinya penyalahgunaan wewenang, korupsi, kolusi, dan nepotisme, perlakuandiskriminatif, dsb.c. Rendahnya pengawasan external dari masyarakat (social control) terhadap penyelenggaraan pelayanan publik, sebagai akibat dari ketidak jelasan standar dan prosedur pelayanan, serta prosedur peyampaian keluhan pengguna jasa pelayanan publik.Karena itu tidak cukup dirasakan adanya tekanan sosial (social pressure) yang memaksa penyelenggara pelayanan publik harus memperbaiki kinerja mereka. Penelitian yang pernah dilakukan KHN sebelumnya menunjukkan bahwa peraturan perUUan yangtampaknya dipersiapkan sebagai µumbrella regulation¶ di bidang pelayanan publik yang berlaku secara nasional, juga sangat sedikit menghadirkan ketentuan-ketentuan yang
 
secara tegas menetapkan sistem dan standar pelayanan atas keluhan publik (publiccomplaints, public grievance standards and procedure).Tim Peneliti mengambil sampel di wilayah Surabaya, Semarang, Bandung, dan Jakarta.Instansi yang dijadikan sampel penelitian adalah Badan Pertanahan Nasional; Kantor Catatan Sipil atau Dinas Kependudukan, dan Kepolisian untuk Kelompok PelayananAdministratif; Perusahaan Penyelenggara Telekomunikasi, Perusahaan Listrik Negarauntuk Kelompok Pelayanan Barang; dan Pusat-pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat,dan Kantor Pos untuk Kelompok Pelayanan Jasa.Hukum positif yang melandasi pelaksanaan kinerja pemerintah dipahami sebagai pedoman bagi aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan publik sebetulnya telahada dengan diundangkannya Instruksi Presiden No.7 Tahun 1999 tentang AkuntabilitasKinerja Instansi Pemerintahan yang menginstruksikan instansi Pemerintahan untuk menyampaikan laporan akuntabilitas kinerja instansi kepada Presiden dan InstruksiPresiden No. 1 Tahun 1995 tentang Perbaikan Mutu Pelayanan Aparatur PemerintahanKepada Masyarakat. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari kemudian diundangkanlahKeputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 63/KEP/M.PAN/2003 tentangPedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik, Keputusan No:Kep/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks KepuasanMasyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah, dan Keputusan No:Kep/26/M.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalamPenyelenggaraan Pelayanan Publik. Secara yuridik, hukum positif Indonesia dapatdianggap telah cukup meletakkan dasar hukum formal untuk memperbaiki kinerjalembaga terutama lembaga atau instansi penyelenggara pelayanan publik.Hanya saja, berdasarkan kajian normatif terhadap peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku atas pelbagai dinas/institusi pelayanan umum (dan DewanPerwakilan Rakyat Daerah), Tim Peneliti berkesimpulan bahwa hukum positif Indonesia belum memiliki sebuah sistem yang utuh dan yang dapat digunakan sebagai pedomanumum bagi setiap institusi penyedia pelayanan umum (dan juga BUMN dan fungsi-fungsi pemerintahan lainnya) tentang pengelolaan dan penyampaian keluhan publik.Pendek kata, sistem pengelolaan dan penyampaian keluhan publik adalah peraturanorganik yang membuka kemungkinan bagi masyarakat untuk melaksanakan hak-haknyamemperoleh perilaku administrasi yang baik sesuai dengan Standar Minimum KualitasPelayanan Publik yang seharusnya ditetapkan terlebih dahulu. Sistem semacam ituidealnya harus mencakup aspek institusional, mencakup aspek prosedural, bersifatintegratif, dan bersifat komprehensif.Sementara, data yang diperoleh Tim dari instansi-instansi penyelenggara pelayanan publik atau dari pihak-pihak yang secara langsung menjalankan fungsi pelayanan publik itu, diperoleh gambaran yang agak berbeda dan beragam, yaitu:1. Beberapa instansi di beberapa wilayah penelitian menyadari sepenuhnya mengenai berlakunya Pedoman di dalam Kepmenpan No 63/2003 sebagai acuan utama, dan berdasarkan itu menerbitkan peraturan-peraturan lokal (pemerintah daerah) atau intern(Keputusan Direksi) untuk menata sistem pelayanan publiknya sejalan dengan pedomanMenpan tersebut; Beberapa di antara instansi-instansi yang masuk dalam kategori ini bahkan memberikan respond yang cukup cepat untuk menyesuaikan mekanisme dankualitas pelayanannya terhadap pedoman-pedoman Menpan itu.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->