Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan yang Bernurani

Pendidikan yang Bernurani

Ratings: (0)|Views: 20|Likes:
Published by saad_spd

More info:

Published by: saad_spd on Feb 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2011

pdf

text

original

 
Pendidikan yang Bernurani
Kondisi Indonesia yang semakin hari semakin membigungkan ini menjadi problem komplek yang tak berkesudahan. Satu sisi reformasi yang digulirkan telah berjalan menuju demokratisasidan transparansi, disisi lain reformasi bidang hukum, politik, ekonomi, pendidikan, sosial- budaya masih ngambang dan kurang dilaksanakan dengan semestinya. Kondisi itu dapat kitalihat pada prilaku warga Indonesia baik secara perorangan maupun kolektif dengan sengajamelakukan pertentangan terhadap reformasi itu sendiri, apakah itu berupa prilaku amoral,korupsi, eksploitasi dan konflik antar sesama atau problem lain yang merugikan banyak pihak.Visi-Misi reformasi yang berjalan dalam rentang puluhan tahun telah banyak dinodai oleh pihak-pihak yang sebenarnya mengetahui aturan dalam reformasi itu sendiri. Korupsi misalnya,telah menjadi darah daging dan sangat sulit dipisahkan, tapi sesulit apapun, semestinya harusdilakukan pemotongan, dan hal itu, tergantung dari niat dan tekad mau melakukanya atau tidak.Bergesernya nilai-nilai keagamaan serta hilangnya nilai nurani mereka sebagai bangsa yangBeragama telah membawa bangsa ini menuju jurang kehancuran peradaban. Dimana para pemimpin tidak lagi merasa berdosa menyeleweng dengan melakukan hal-hal yang merugikan.Kemana nurani mereka? ditaruh dimana jati dirinya? mengapa mereka melakukan pertentangandengan agama? Padahal Indonesia adalah Negara Agamis dan mereka yakin tahu bahwa apayang dilakukan bertentangan dengan semua pertanyaan di atas tadi.Dekadensi moral selain menimpa lembaga-lembaga lain di Negeri ini, juga tidak luput daridepartemen pendidikan Nasional. Kejanggalan-kejanggalan pemberian dana untuk mereformasi pendidikan Indonesia banyak tidak sesuai dengan kepentingan awal. Penyunatan dana, atas dasar lain seperti sumbangan untuk pemimpin, penyunatan proyek atau dengan alasan-alasan lain yangdibuat-buat. Bobolnya dana BOS juga pernah dialami sebagian besar wilayah-wilayah diIndonesia, begitu pula yang terjadi di Diknas Banjarmasin diawal tahun 2009.Kejadian-kejadian tersebut dijadikan martil Menteri Pendidikan Nasional Moh. Nuh denganmengomentari dan memberi usulan agar bangsa ini mengali lagi eksistensi nuraninya denganmelakukan pendidikan karakter. Lontaran pendapat Mendiknas itu kemudian menjadi buah bibir dikalangan masyarakat, padahal sebenarnya masalah tersebut sudah ada dan telah dilakukan olehmasyarakat, tapi selalu terabaikan.keprihatinan masyarakat Indonesia terhadap dekadensi moral yang tidak kunjung selesai,dirasakan penting sekali adanya gerakan pendidikan karakter. Suatu usaha besar yang melibatkansemua pihak untuk mengawal pendidikan karakter bagi seluruh warga Indonesia, terlebih bagiindividu yang masih tumbuh dan berkembang yang masih berada pada masa transisi. Karena itu pendidikan karakter bukanlah semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan jugaorangtua, institusi pendidikan, organisasi agama, dan masyarakat.Teringat apa yang dikatakan rektor UNY Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, MA, pada kuliah perdana pascasarjana bahwa untuk memperkuat pentingnya pendidikan karakter, kita ingat akansabda Rasulullah saw, yaitu : Innamaa bu¶itstu liutammima makaarimal akhlaaq´, artinyaSesungguhnya aku dibangkitkan di bumi ini untuk menyempurnakan akhlaq´. Ini menegaskan bahwa betapa pentingnya akhlaq itu bagi kehidupan baik di mata manusia maupun Tuhan. Jugaditegaskan lagi Rasulullah, yaitu ³hubbul wathan minal iimaan´, artinya cinta tanah air adalahsebagian daripada iman. Hal ini menegaskan bahwa setiap warga negara wajib menunjunjungtinggi bangsa dan negaranya, tidak bersifat merusak apalagi menghacurkan.Begitu indahnya, seandainya setiap kampus atau lembaga-lembaga pendidikan di Indonesiaditerapkan pengajaran karakter baik untuk Mahasiswa atau siswanya dan begitu pula terhadap
 
semua civitas akademika yang melingkupinya. Selain berilmu, pintar juga dibalut dengan jiwayang bernurani. Insyaallah dengan penerapan seperti itu, untuk kedepanya para alumni yang berkesempatan duduk di lembaga-lembaga Negara ini bisa mengurangi dan menjalankan pembangunan karakter yang diperolehnya.Menuju kondisi yang berkarakter, dengan ditandai berbuat jujur disemua lini mumungkinkanterjadi pertentangan yang hebat dalam hati pemimpin tertentu yang sudah terbiasa dengan pikiranmelenceng. Pikiran dan jiwa yang tidak didasari nurani akan selalu mencari celah bagaimanamereka bisa mendapatkan materi (uang lebih atau diluar gajinya) dengan memutar balikkan faktayang ada dan selalu mengatur bagaimana sumbangan yang didapat dikondisikan dengan laporanyang dipas-paskan.Contoh yang perlu dijadikan catatan bagi pengampu pendidikan di daerah-daerah dapatdiambil dari pemerintah kota Surabaya yang sangat berani mengancam pendidikan di kotatersebut dengan tidak memberikan (pemberhentikan) kucuran biaya operasional sekolahterhadap Rintisan sekolah yang beraraf internasional (RSBI) yang diakuinya karena semua RSBI berada dibawah standar. Artinya bahwa nurani pengampu pendidikan harus dipertaruhkan,apakah memang benar bahwa sekolah mereka telah siap atau hanya ingin mendapatkan kucurandana yang sangat besar dan kualitas pendidikan untuk yang kesekian.Satu poin saja dari beberapa poin yang bisa disorot terkait dengan RSBI, misalnya, masihrendahnya guru dalam berbahasa inggris. Padahal standar RSBI, nilai TOEFL guru minimal diatas 300. Kenyataanya masih banyak guru yang belum lancar berbahasa inggris dan 30 persenguru harus lulusan pascasarjana (S2). Bila nurani yang berbicara, perlu berfikir ulang, dengan banyaknya sekolah yang berstatus RSBI khususnya di Banjarmasin, harus benar berhati-hati.Artinya, jangan hanya sekedar ikut-ikutan ngetren dan silau dengan nama besar RSBI tapi yang paling penting adalah kualitas pendidikan.Kualitas menjadi patokan utama pada kelas RSBI. Kualitas harus pula ditandai dengan poin- poin yang telah ditetapkan sesuai dengan standar internasional yang ditentukan seperti kualitasguru, sarana prasarana, dan jaminan mutu pendidikan. Sungguh tak sebanding bila anggarankurang lebih setengah milyar pertahun tak menghasilkan out put memuaskan. Anggaran besar itu merupakan investasi pendidikan yang harus dijawab dengan kualitas sepadan.Sisi lain, orang tua harus siap merogoh kocek lebih banyak untuk biaya sekolah anaknya,karena RSBI tidak mendapatkan subsidi dan tarif-nya pun harus mengikuti tarif internasional.Sehingga ada plesetan RSBI diartikan sebagai rintisan sekolah bertarif internasional. Dari perbincangan beberapa guru RSBI yang mengaggetkan adalah tak ada bedanya antara kelasRSBI dengan kelas reguler biasa. Sang guru pun kembali pada habitatnya masing-masing, sesuai bidang studi yang menjadi keahliannya. Bahasa pengantar mereka dalam proses belajar-mengajar (kecuali pelajaran bahasa Inggris) tetap menggunakan bahasa Indonesia, yang kadang masih bercampur dengan bahasa banjar.Lalu sekarang bagaimana? Mari sekarang kembali pada hati nurani masing-masing, sentuh jiwa dengan semangat kebenaran, bangga dengan kondisi riil, kembangkan pendidikan bernurani dan tidak hanya sekedar gengsi dengan embel-embel RSBI semu. Pengampu lembaga pendidikan bisa memilih apakah pendidikan yang bertarif international, berkualitas lokal. Atau pendidikan yang bertarif lokal dengan kualitas International. Ataukah sudah benar-benar siapdengan pendidikan bertarif internasional dengan kualitas internasional pula. Sekali lagi, tigaunsur pendidikan yaitu;
berpengetahuan, cendikia
dan
bernurani
begitu indah bila diterapkanoleh setiap pengampu lembaga pendidikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->