Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KEBIJAKAN PENDIDIKAN NONFORMAL

KEBIJAKAN PENDIDIKAN NONFORMAL

Ratings: (0)|Views: 481 |Likes:

More info:

Published by: Dr. Moh. Alifuddin, M.M. on Feb 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

 
Orasi Ilmiah Wisuda Program DiplomaYPA-Handayani 04 November 2010 
”KEBIJAKAN PENDIDIKAN NONFORMALTENTANG KECAKAPAN HIDUP DAN IMPLIKASINYA PADAKESEJAHTERAAN MASYARAKAT”
Oleh:
Dr. H. Moh. AlifuddinPenghadir yang mulia,
Izinkan saya memulai orasi ilmiah ini dengan memaparkan sedikit
background 
tentang Yayasan Pendidikan Alifuddin Handayani, disingkat YPA-Handayani. YPA-Handayani merupakan penyelenggara pendidikan nonformalyang berbasis di Indonesia Timur. Yayasan ini menyelenggarakan beberaparumpun jenis kursus atau pelatihan. Didirikan sejak tahun 1982 atau 28 tahunsilam dan hingga kini terus berkembang dan tersebar di beberapa provinsi dankabupaten/kota antara lain: Makassar, Bulukumba, Sinjai, Bone, Palopo, Wajo,Pare-pare, Mamuju, Majene, Kendari, Kolaka Utara, Kolaka, Konawe, KonaweSelatan, Bombana, Raha, Bau-Bau dan Buton. Perkembangan tersebut tidakterlepas dari strategi manajemen yang diterapkan yang sifatnya unik, antaralain tampak dari orientasi penyelenggaraan, pola rekrutmen peserta,pelaksanaan proses belajar-mengajar, pembiayaan pelatihan, keluaran(
output 
), penyaluran para alumni, pemberian modal kerja kepada para alumni,sampai pada pembinaan pengembangan alumninya. Dalam hal orientasipenyelenggaraan, YPA peduli
(concern)
pada kebutuhan aktual calonkonsumen yang didasarkan pada kebutuhan daerah setempat. Untuk di daerahperkotaan misalnya, YPA memberikan kursus-kursus yang sesuai kebutuhanmasyarakat kota seperti kursus Bahasa Jepang, kursus Bahasa Inggris, kursuskomputer dan lain-lain yang selaras dengan kebutuhan aktual masyarakat kota.Sedangkan untuk daerah perdesaan, YPA memberikan kursus atau pelatihanmengemudi, nelayan, pertanian, perkebunan, menjahit, memasak, industrirumah, kerajinan tradisional, anyaman, penggergajian, pandai besi, montir,elektronika, dan kursus/pelatihan kerja sesuai kebutuhan masyarakat setempat.Dengan orientasi penyelenggaraan seperti itu, maka dalam proses pengerahan1
 
Orasi Ilmiah Wisuda Program DiplomaYPA-Handayani 04 November 2010 
(recruitment)
peserta YPA menerapkan pola jemput bola, yakni denganmendatangi daerah-daerah yang masyarakatnya membutuhkan kursus ataupelatihan.Pelaksanaan proses belajar-mengajar bukan hanya dilakukan secaraklasikal di kelas, tetapi juga di lapangan. Kursus-kursus bahasa, akuntansi dankomputer misalnya diselenggarakan di kelas, sedangkan pelatihan mengemudi,nelayan, pertanian, perkebunan, kerajinan, anyaman atau penggergajiandilaksanakan di lapangan (sawah, pegunungan, pinggir pantai, teras rumahwarga masyarakat atau di bawah pepohonan). Pola pelaksanaan seperti inidilakukan dalam rangka menciptakan para alumni yang betul-betul memilikikecakapan hidup
(life skill)
, dalam arti siap kerja atau siap berwirausaha.Penyelenggaraan pendidikan nonformal yang dilakukan YPAmencerminkan suatu strategi manajemen pendidikan berbasis konteks
(context)
. Konteks dalam artian ini sekurang-kurangnya mengacu padakebutuhan masyarakat lokal (setempat) dan pola penyelenggaraan kursus ataupelatihan yang dilakukan di kelas dan di lapangan, yang ditopang oleh polarekrutmen, proses belajar-mengajar, pembiayaan pelatihan, penyaluran kerja,pemberian modal kerja dan pembinaan pengembangan alumni yang seluruhnyadidedikasikan untuk menjamin penyelenggaraan pendidikan yang berbasiskonteks tersebut.Fenomena penyelenggaraan pendidikan nonformal pada YPA yangmenggunakan strategi manajemen pendidikan berbasis konteks ini cukup unik(dibandingkan dengan penyelenggaraan pendidikan nonformal pada lembaga-lembaga pendidikan lain) sehingga layak atau memenuhi unsur keunikan suatupenelitian ilmiah, khususnya penelitian kebijakan
(policy research).
YPA dalammenyelenggarakan kursus dan pelatihan juga mengacu pada kebijakanpendidikan nonformal yang berlaku di Indonesia, namun dalampenyelenggaraannya tidak seluruhnya sesuai dengan ketentuan-ketentuanpenyelenggaraan pendidikan nonformal, baik yang terkait dengan orientasipenyelenggaraan, pola rekrutmen peserta, proses belajar-mengajar, keluaran
(output)
, penyaluran para alumni, pembiayaan, pemberian modal kerja maupunpembinaan pengembangan alumni. Dalam beberapa aspek ini, YPA memiliki2
 
Orasi Ilmiah Wisuda Program DiplomaYPA-Handayani 04 November 2010 
kebijakan yang unik dan dari keunikannya tersebut YPA tumbuh dengan pesat.Hingga kini telah meluluskan alumni sebanyak ± 850.000 (delapan ratus limapuluh ribu) orang dan hampir semua telah bekerja di berbagai instansipemerintah, swasta, dalam dan luar negeri.Fenomena tersebut sekurang-kurangnya mengundang tiga pertanyaan:(1) Bagaimana kebijakan pendidikan nonformal dalam menanggapi kebutuhankecakapan hidup perserta didik? (2) Bagaimana kebijakan pendidikannonformal yang diterapkan YPA dalam meningkatkan kecakapan hidup paraalumninya? (3) Bagaimana implikasi kecakapan hidup sebagai keluaran(
output 
) pelaksanaan kebijakan pendidikan nonformal oleh YPA padakesejahteraan para alumninya?
Bapak/ibu/sdr/sdr(i) yang saya muliakan,
Untuk menjawab tiga pertanyaan tersebut, kiranya perlu sedikit dibahasmengenai teori yang relevan sebagai pijakan ilmiah, yakni mengenai kebijakan,kecakapan hidup, dan kesejahteraan.
 
Mengenai kebijakan, Mintzberg (dalam Scott dan Davis, 2007: 319)menjelaskan bahwa kebijakan merujuk pada: (a) rencana – cara bertindak yangsengaja ditetapkan; (b) permainan manuver yang dimaksudkan untukmenyesatkan orang lain; (c) pola – kumpulan tindakan yang konsisten, apakahbertujuan atau tidak; (d) posisi – lokasi atau wadah yang menunjuk bidangtindakan; dan (e) perspektif cara memandang dunia. Sedangkan bagiSchermerhorn, Hunt dan Osborn (2005: 390), kebijakan merupakan pedomanbertindak yang menguraikan sasaran penting dan secara luas menunjukkanbagaimana aktivitas dapat dikerjakan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakanmerefleksikan pedoman bertindak yang menguraikan sasaran penting dansecara luas menunjukkan bagaimana aktivitas dapat dikerjakan sertamenunjukkan standar tingkah laku yang mengakibatkan orang-orangmengambil tindakan dengan cara tertentu.Kebijakan tidak akan ada gunanya tanpa dilaksanakan. Pelaksanaankebijakan merupakan sesuatu yang penting, bahkan mungkin jauh lebih pentingdaripada sekedar pembuatan kebijakan. Implementasi kebijakan bukan sekedar 3

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Imam Tauhid liked this
Fritz Saipi liked this
Nhabila Fikri liked this
Fendy Sfera liked this
Ryan Kurniawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->