Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sistem Peradilan Atau penyelesaian Sengketa Adat

Sistem Peradilan Atau penyelesaian Sengketa Adat

Ratings: (0)|Views: 3,244|Likes:
Published by rifai

More info:

Published by: rifai on Feb 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2013

pdf

text

original

 
TUGASOleh :RIFAI USMAN (2006 – 21 – 066)
 
-
 Sistem Peradilan atau Penyelesaian sengketa adat yang perludikembangkan.
Secara umum, masyarakat setempat cenderung lebih memilih menyelesaikansengketa yang mereka alami melalui mekanisme lokal yang ada dan terdekat denganmereka. Adapun kasus atau sengketa yang dialami oleh masyarakat yang diprosesdalam penyelesaian sengketa adat meliputi kasus perdata, terutama tanah (batas tanahdan warisan) dan kasus keluarga serta pidana ringan antara lain perkelahian antar  pemuda di lingkungan komunitas dan penganiayaan ringan. Cukup banyak pilihan penyelesaian sengketa yang ada di lingkungan masyarakat. Namun sesuai dengankebiasaan masyarakat setempat, Raja atau kepala desa lah yang mempunyai posisisentral serta memiliki peranan dan pengaruh yang besar dalam penyelesaian sengketaadat Raja menengahi dan membantu menyelesaikan berbagai persoalan dan kasusyang ada di masyarakat, baik perdata dan pidana. Di komunitas Maluku, Raja dikenalsebagai pihak pemutus akhir dalam kasus atau sengketa yang sulit ditangani. Selainitu, Kepala Suku yang setara dengan Kepala Dusun juga kerap menjadi penengahdalam penyelesaian sengketa di tingkat komunitas (masyarakat adat lokal)Mekanisme sistem penyelesaian sengketa adat lokal yang perlu dikembangkandalam proes peradilan di lingkungan masyarakat hukum adat atau masyarakat lokalyang perlu mendapat dukungan dari pemerintah daerah adalah sebagai berikut ::1.Pengaduan penyelesaian sengketa adat masuk ke pihak aktor penyelesaisengketa (misalnya Raja, tokoh agam atau tokoh masyarakat). Di tingkatdesa atau Negeri, ada juga kasus yang diajukan ke Saniri Negeri terlebihdahulu sebelum diajukan ke pihak Raja. Apabila kasus adalah pidana berat, maka diajukan ke pihak Kepolisian.2.Para pihak dipanggil dan diwawancara dalam suatu pertemuan terbuka.Untuk tingkat desa/negeri, biasanya juga dihadiri oleh Saniri Negeri;3.Raja/tokoh agama/tokoh masyarakat kemudian menganalisa kasus danhasil wawancara;4.Untuk kasus tanah, Raja akan meminta bantuan pihak Saniri terutamadalam melakukan investigasi;5.Raja memanggil para pihak untuk mengambil putusan sekaligus bernegosiasi mengenai sanksi nya. Apabila para pihak sepakat dengan
 
hasil nya, maka biasanya ditulis suatu Berita Acara sederhana yangditandatangani oleh para pihak.-
Tujuan dari upaya pengembangan sistem peradilan atau mekanisme penyelesaian sengketa hukum adat lokal 
.
Dari berbagai mekanisme penyelesaian sengketa adat yang berlaku dikalangan masyarakat lokal baik itu sengketa batas tanah, perkelahian antar pemuda,maupun warisan, adapun, menurut masyarakat adat, tujuan dari upaya yang dilakukandalam proses penyelesaian sengketa adat setempat adalah :1.Menjaga keharmonisan dan pemulihan relasi antara masyarakat adatsetempat2.Proses penyelesaian sengketa adat dapat menghemat waktu dan biayadari para pihak yang bersengketa.3.Untuk mencegah dan menghindari keputusan-keputusan yang bersifat memihak dan sewenang-wenang yang dapat merugikan salahsatu pihak yang bersengketa.4.Menjaga, memajukan dan melestarikan adat istiadat dan hukum adatyang hidup di Negeri;5.Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat Negeri; sertamendamaikan perselisihan masyarakat Negeri;-
 Lingkungan Politik (Politik Hukum) yang memberikan ruang lingkup bagi  perkembangan peradilan adat atau penyelesaian sengketa lokal lainnya.
Sebagaimana terjadi di wilayah dan desa lain di Indonesia, provinsi Maluku juga mengalami transisi atau perubahan dari Undang-Undang No.5 Tahun 1979tentang Pemerintahan Desa ke Kebijakan Desentralisasi (Otonomi Daerah).Pemberlakuan UU No. 5 tahun 1979 telah melemahkan keberadaan institusi lokal. UU No.5 tahun 1979 menyebabkan terjadinya “pembagian kekuasaan” antara pemerintahdesa dan adat setempat. Padahal sebelumnya, kedudukan Raja Negeri sangat kuat,kebanyakan dari mereka menguasai sampai sekitar 12 Desa. Namun UU tersebutkemudian menempatkan Kepala Desa terpilih di desa-desa di seluruh Maluku yangtentu saja kemudian melemahkan kedudukan Raja. Ketika UU No.22 Tahun 1999

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
cintya12 liked this
Ali Smith liked this
radhi_hirzi liked this
Juslan Cybershot liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->