Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tabloid Manunggal Eksploitasi Anak

Tabloid Manunggal Eksploitasi Anak

Ratings: (0)|Views: 439 |Likes:
Published by Manunggal Press

More info:

Published by: Manunggal Press on Feb 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2014

pdf

text

original

 
Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Manunggal Universitas Diponegoro Pelin-dung:
Prof dr Susilo Wibowo MS MED SpAnd
Penasehat:
Prof Dr Ignatius Riwanto SpBD,Dr H Muhammad Nasir MSi Akt, Sukinta SH MHum, Dr Muhammad Nur DEA, Dr Adi Nugroho
 Pemimpin Umum:
Hendra Kusuma Wahyu H
. Sekretaris Umum:
Ratna Trianingsih
PemimpinRedaksi:
Ridha Swasti Hapsari
Pemimpin Litbang:
Alan Prahutama
Pemimpin Perusahaan:
Ar-vinda Hanugraheningtyas
Sekretaris Redaksi:
Satya Sandida
Redaktur Pelaksana:
Nurul Huda
Staf Redaksi:
Astri Nur Afdah, Muhammad Alf
M, Nedia Guswina, Mar’atush Sholihah, Destya Dwi Pangestika, Allaely Hardhiani.
Redaktur Artistik dan Online:
Siti Khatijah
Staf Artistik danOnline:
Furqon Abdi, Amalia Puspita Sari, Muhammad Reza Husain, Azam David Saifullah, Widya Prabandari, Ratih Putri Budiayanty.
Manajer Iklan:
Taufk Hidayat
Staf Iklan:
Hayattul Fitri, Rahman Adi Nugroho, Taufk Budiawan.
Manajer Rumah Tangga:
Eka Mei Fajar Y
Manajer Produksidan Distribusi:
Tidar Priyo Santoso
Staf Produksi dan Distribusi:
Widayanti.
Kadiv Data dan Informasi:
Ali Budi Utomo.
Staf Data dan Infor-masi:
Andri Imam Subekhi.
Kadiv Jaringan dan Kerjasama:
Farah Melchalida.
Staf Jaringan dan Kerjasama:
Lutf Agung Mardiansyah.
KadivKaderisasi:
Bondika Ariandani Aprilia.
Staf Kaderisasi:
Septian Ananggadipa. A
lamat Redaksi, Iklan dan Sirkulasi:
Pusat Kegiatan Mahasiswa(PKM) Joglo Universitas Diponegoro Jl. Imam Bardjo, SH No.2 Semarang 50241 Telp: (024) 8446003
E mail
persmanunggal@yahoo.com
Website
 www.manunggal.undip.ac.id
Redaksi menerima tulisan berupa opini, esai, puisi, cerpen, surat pembaca, resensi buku dan akademika. Tulisan diketik rapi dengan spasi 2 maksimal 3 folio. Redaksi berhak melaku-kan penyuntingan naskah seperlunya.
Menjaga Konsistensi
SURAT PEMBACA
Rindu Kantin Kampus
P
indahnya gedung FISIP dari Pleburan ke embalang mem-bawa suasana baru, baik bagi para pengajar dan mahasiswa.Namun kepindahan ini ternyata masih mengalami beberapakekurangan. Salah satunya adalah kantin kampus.Kondisi daerah embalang cukup panas, apalagi jarak area parkirmahasiswa dengan gedung cukup jauh. Belum lagi, gedung yangtinggi membuat mahasiswa seringkali kelelahan setibanya di ruangkelas. Hasilnya, banyak mahasiswa yang tidak konsen mengikutikuliah karena ini. Saya sering mengalami hal tersebut. Oleh karenaitu, saya berharap tersedia kantin di dalam area kampus.Memang ada beberapa penjual makanan di area parkir maha-siswa, tetapi letaknya cukup jauh dan tidak resmi sehingga sayapun khawatir jika membeli makanan di sana. Kalau ada kantinresmi yang disediakan kampus, berarti kualitas makanan juga tidak diragukan.Saya rasa hal ini penting untuk dipertimbangkan para pemegangotoritas di FISIP. Bukan cuma mahasiswa, dosen dan pegawai sayakira membutuhkan asilitas tersebut. Saya rindu hadirnya kantin yang sehat seperti di Pleburan dulu. (
Said Hidayat, FISIP)
S
alam sejahtera bagi kita semua. Me-ngawali tahun 2011, abloid
 Manunggal 
 kembali terbit dengan membawa pesonabaru. Kami menyadari masih memiliki berbagaikekurangan, tetapi hadirnya tabloid edisi ketigaini merupakan bukti semangat konsistensi kamiuntuk memberikan yang terbaik bagi seluruhpembaca setia abloid
 Manunggal 
.Dalam edisi kali ini, kami menyorotieksploitasi terhadap anak, sebuah masalah klasik  yang kembali menyeruak dengan munculnyakasus Arumi Bachsin. Seberapa kompleks ma-salah ini? Bagaimana keseriusan pemerintahmenanggapi masalah ini? Dan bagaimana dam-paknya bagi anak sebagai korban eksploitasi?Semua tersaji lengkap dalam Sajian Utama.Rubrik Fokus membahas mengenai kurang-nya minat mahasiswa mengikuti organisasikampus karena kuliah yang semakin padat.Apakah kurikulum universitas memang tidak memberikan
space 
bagi mahasiswa untuk ikutorganisasi? Selain itu, masih lekat pula dalambenak kita, bagaimana Merapi meletus Ok-tober silam. Oleh karena itu, dalam Lipsuskami menyuguhkan bagaimana penangananterbaik bagi korban bencana alam, terutamadari aspek psikologis. Jangan lewatkan pula pengalaman menarik,berwisata sembari mengagumi keajaiban-ke-ajaiban ilmu pengetahuan. Serunya obyek wisata Jawa imur Park, yang memang menggabung-kan konsep belajar dan wisata, kami bungkusmenarik dalam rubrik Perjalanan. ak keting-galan, potret warisan budaya Buka Luwur, yangdihadirkan lewat rubrik Sastra Budaya.Dengan selalu eksis menerbitkan produk,kami berharap kehadiran kami selama ini telahmemberikan inormasi yang terbaik bagi se-luruh pembaca abloid
 Manunggal 
. Semogasemangat konsistensi masih akan tetap terjaga.Selalu menjadi yang terbaik. (
Redaksi)
 A  z  a m /   M a n u n g g a l  
2
Eksploitasi anak adalahmasalah klasik.
Sudah menjadi budayakah?
Dampak eksploitasi anak dominan pada psikologis.
Yang jelas anak yang menjadikorban.
Kemampuan organisasidimasukkan dalamkurikulum.
Mahasiswa makin sibuk dong…
 
Lusia Astrika, S.IP, M.Si *)
Legitimasi Eksploitasi Anak oleh Televisi
D
ewasa ini, animo masyarakat melakukan tin-dakan agresi semakin meningkat. erbuktidari munculnya kasus-kasus sebagaimanadiberitakan di media massa, mulai dari me-ningkatnya jumlah kasus kekerasan dalam rumah tanggasampai dengan meningkatnya kriminalitas yang berujungpada tindakan melukai individu lain.Menurut pandangan
behaviorism
, tindakan agresimerupakan tindakan atau perilaku yang melukai oranglain. Sigmund Freud, seorang tokoh psikoanalis me-ngatakan bahwa sesungguhnya dalam diri manusia selalumempunyai potensi bawah sadar yaitu suatu doronganuntuk merusak diri atau
thanatos
, yang pada mulanyadorongan untuk merusak diri tersebut ditujukan untuk orang lain.Maraknya kasus kekerasan, tindak kriminal, dan me-ningkatnya amarah masyarakat pada masa sekarang inimemunculkan pertanyaan tentang apa yang sesungguhnyaterjadi dalam masyarakat dewasa ini. Mengapa bisa terjadiperalihan dari manusia sebagai makhluk sosial (
homohomini socius
) menjadi manusia sebagai ”serigala” bagimanusia lain (
homo homini lupus
)? Pada dasarnya manusiatidak dapat hidup tanpa orang lain, tetapi manusia jugamempunyai hasrat untuk berkuasa atas manusia lain.Denisi kekuasaan disini adalah kemampuan untuk me-maksakan kehendak kepada orang lain, demi tercapainyatujuan yang diinginkan yang punya kuasa.
Power tens to corrupt 
, kekuasaan ibarat pisau bermatadua, yang dapat digunakan untuk perbuatan baik tetapi juga dapat digunakan untuk melukai orang lain. Kekua-saan memang tergantung pada pemegang kekuasaannya,masalah mau dibawa kemana kekuasaan sangat tergantungpada si pemegang kekuasaan. Kekuasaan juga bergan-tung pada besar kecilnya sumber-sumber kekuasaan.Semakin besar sumber–sumber kekuasaan yang dimiliki
*) Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 
M
asivitas transormasi inormasi melalui mediamassa, terutama televisi memunculkan dam-pak serius. Daya tarik televisi sedemikian luarbiasa, sehingga, kini pola-pola kehidupanrutinitas manusia sebelum muncul televisi berubah totalsama sekali. Besarnya potensi media televisi terhadap pe-rubahan masyarakat menimbulkan pro dan kontra.Pandangan pro menilai televisi merupakan wahana pen-didikan dan sosialisasi nilai-nilai positi masyarakat. Seba-liknya, pandangan kontra melihat televisi sebagai ancaman yang bersiat destrukti bagi pemirsanya Dalam dunia anak,banyak kasus menyiratkan bahwa perilaku bandel, nakal,agresi, bermusuhan, dan perilaku buruk anak yang lainberpangkal pada konsumsi keseharian mereka atas media,terutama (tontonan) televisi.Eksploitasi ini mengandung dua dimensi, anak-anak sebagai “pekerja media televisi” dan sebagai penonton. Yangpertama, salah satunya ketika maraknya ajang adu bakatmenyanyi dengan peserta anak-anak. Dalam konten ini,anak-anak dipaksakan untuk pantas ditonton-dengan caramengenakan riasan, kostum, dan lagu-lagu yang dibawakansemuanya menyerupai orang dewasa.Ajang kompetisi ini menjadi anak sebagai obyek ton-tonan yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik.Sistem
vote 
lewat sms dan atau telepon kerap membuatanak mengeksploitasi bagian dirinya yang seharusnya tidak menjadi milik publik. Misalnya, untuk menarik dukungansi anak akan dinaturalisasikan untuk menceritakan bahwaibunya menjadi tenaga kerja di luar negeri dan sudah lamatidak bertemu.Di lain waktu, anak-anak peserta kontes mengalami
cultural shock,
dari kehidupan mereka yang sebelumnyabiasa saja berubah dengan adanya sorotan kamera, hidup yang diatur, dan harus selalu tersenyum. entu saja mereka juga tidak boleh kelihatan lelah di depan kamera, di depanpenggemar, dan wartawan, padahal sebagai manusia merekamemiliki kebebasan. Anak-anak yang tampil dalam kontesbakat kehilangan keceriaan khas anak-anak yang polos dan wajar. Mereka terlihat lebih dewasa dari usia yang sesung-guh Media televisi menjadi panutan baru (
news religius)
 bagi kehidupan manusia. idak menonton televisi samasaja dengan makhluk buta yang hidup dalam tempurung(Kuswandi, 1996 : 23).Secara perlahan, kondisi tersebut akan mendorongpada perubahan psikologi anak, mereka menjadi sombong,susah diarahkan orang tua, membangkang, dan kecerdasanemosinya tidak berkembang baik. Yang kedua, eksploitasi anak sebagai penonton danpangsa pasar yang potensial untuk berbagai produk komersial.Mereka secara tidak langsung dieksploitasi demi kepentinganekonomi. Ekspansi dan kebutuhan industri televisi mendo-rong anak untuk memiliki kecenderungan untuk memilihsajian sensasional dan eksentrik. Sikap latah dan imitasianak kemudian diterjemahkan media melalui kacamataekonomi industri dan keuntungan nansial. Kegandrungananak pada konten televisi dianggap media sebagai pangsapasar yang menggiurkan. Eksploitasi terhadap anak olehtelevisi mewujud dalam tawaran yang indah, televisi mampuberdalih dengan visi kamuati: mengembangkan imajinasi,mencerdaskan, atau memperluas pengetahuan anak.Apa yang dipaparkan tadi adalah bentuk imperialismekultural. Kesadaran anak dijajah dengan cara yang sedemikianhalus oleh “ideologi” televisi. Pada perkembangan ekstrim-nya, imperialisme kultural tersebut berkembang ke arahlegitimasi terhadap eksploitasi anak.Dunia anak adalah dunia serba nyata, sehingga apa yangdilihat diterima sebagai realitas. Kebanyakan dari merekabelum mengenal analogi, gaya bahasa, atau metaora rumit yang menjadi bagian dominan dari tontonan. Hal ini me-ngandung konsekuensi bahwa keterlibatan mereka sejak dinidalam industri komersil ini, harus disertai dengan upayapencerdasan tentang bagaimana industri ini bekerja, danmemengaruhi kehidupan, tentu saja lengkap dengansisi negati dan positi yang dijelaskansecara objekti dan proporsional.Pada akhirnya media literasi ataumelek media menjadi salah satu al-ternati penacegahan dan penanggu-langan eksploitasi anak oleh televisi.Orang tua, utamanya, sudah saatnyamulai peduli dengan dampak tele- visi terhadap perkembangananak-anak mereka ketikamereka hanya men- jadi konsumen pasi inormasi, yangbelum tentu sesuaidengan kondisi normalanak-anak tanpa mampumelakukan sikap kritis.maka semakin besar pula hasrat untuk menguasai.Dalam hal ini, terjadi ketimpangan antara
id 
,
ego
, dan
superego
sebagaimana diungkapkan Sigmund Freud dalampandangan psikoanalisa. Akan terjadi kepribadian yang ti-dak wajar dan akan muncul neurosis yang menghendakipenyaluran, jika
id 
(dorongan nasu),
ego
(prinsip realita),dan
superego
(hati nurani dan moral) tidak seimbang. im-bulnya neurosis pada kejiwaan manusia disebabkan olehkesalahan penyesuaian secara emosional karena tidak dapatdiselesaikannya konik tak sadar.
Dampak Ketidakseimbangan
Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalahkeseimbangan antara id, ego, dan superego. Permasalahan-nya masyarakat masa sekarang yang seharusnya semakinberadab, justru lebih berorientasi pada keutamaan id (hasrat/dorongan nasu) daripada menjaga keseimbangan antaraid dengan ego (prinsip realita) dan superego (hati nuranidan moral). Apabila ketidakseimbangan ini diteruskan,masyarakat akan mengalami gejala skizorenia.Kata skizorenia berakar dari bahasa Yunani,
schizein
(terbelah) dan
 phren
- (pikiran). Di Indonesia, skizoreniatermasuk gangguan jiwa berat yang terbanyak penderit-anya.
Skizorenia
merupakan penyakit otak yang sanggupmerusak dan menghancurkan emosi. Selain aktor gene-tik, penyakit ini juga bisa muncul akibat tekanan tinggidi sekelilingnya.Ada dua gejala yang menyertai
Skizorenia
yakni gejalanegati dan gejala positi. Gejala negati berupa tindakan yangtidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya,sementara gejala positi adalah tindakan yang mulai mem-bawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk danmelukai orang lain maupun merusak asilitas umum. Gejalapositi dari skizorenia dapat kita lihat pada kasus-kasusdemonstrasi dan konik yang berdampak pada rusaknyaasilitas umum sampai hilangnya nyawa korban. idak tercapainya tujuan atau input yang diinginkan-nya, tingginya hasrat dan amarah, kurangnya kontrol diri,serta minimnya moralitas membuat masyarakat menjadistres, dan pada akhirnya mengalami jiwa yang terpecah(skizorenia). Harus diakui bahwa masyarakat masa kinilebih rentan mengalami gangguan kejiwaan yang dikatakanskizorenia ini.Hanya dengan berawal dari gejolak emosi, skizoreniadapat dialami oleh setiap individu dalam masyarakat. Sepertidalam kasus gejolak emosi masyarakat Yogyakarta dalamkasus penetapan gubernur DIY dan polemik keiistime- waan Yogyakarta misalnya, jika masalah ini tidak segeraterpecahkan dan justru semakin berbelit-belit, maka dapatdiprediksikan bahwa masyarakat yang memiliki tuntu-tan, emosi, dan amarah tak segan-segan akan melakukantindakan-tindakan yang mulai membawa dampak buruk bagi lingkungannya.
Solusi
Pencegahan skizorenia perlu dilakukan. Apabila sudahterlanjur mengalami gangguan jiwa ini, maka penderitaskizorenia perlu diajak kembali bersosialisasi dan dipu-lihkan. Jika skizorenia telah menggejala dalam masyarakatmasa kini, maka diperlukan situasi yang baik dan kondisi yang terkontrol supaya gejala ini tidak menjangkiti ma-syarakat lebih jauh lagi.Adanya kondisi yang kondusi dalam aktor sosio-kultural juga dapat menekan gejala skizoprenia. Untuk mencegah skizorenia, diperlukan keseimbangan antara
id 
(dorongan nasu),
ego
(prinsip realita), dan
superego
 (hati nurani dan moral). Harapan dengan adanya kes-eimbangan ini adalah terciptanya kepribadian yang wajardan menekan penyimpangan kejiwaan/
mental disorder 
 sebagai penyebab skizorenia.
O
leh
: A
rvindA
h
eningtiAs
3

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ayati Saadah liked this
asfarinaa liked this
doubledhe liked this
Manunggal Press liked this
Manunggal Press liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->