Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
39Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Fisiologi Sistem Gastrointestinal

Fisiologi Sistem Gastrointestinal

Ratings: (0)|Views: 1,417 |Likes:
Published by evanregar
Fisiologi Sistem Gastrointestinal
Fisiologi Sistem Gastrointestinal

More info:

Published by: evanregar on Feb 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2013

pdf

text

original

 
Gastrointestinal 2010-2011 / Pemicu 1 1
Fisiologi Sistem Gastrointestinal
 oleh
Evan Regar
, 0906508024 
 Pendahuluan fisiologi sistem gastrointestinal 
Sistem gastrointestinal (selanjutnya disebut sistem GI) merupakan sistem organ yang berperan bagi tubuhdalam penyediaan nutrisi, elektrolit, dan air. Proses ini mencakup proses pemrosesan makanan di rongga mulut,pergerakan makanan sepanjang saluran cerna, sekresi oleh kelenjar cerna, hingga pada akhirnya penyerapan danpengeluaran sisa makanan.Organ yang merupakan bagian dari sistem gastrointestinal memiliki berbagai peranan. Ada organ yangmemiliki kerja sederhana seperti hanya menghubungkan organ satu dengan organ lain, sementara organ lainmemiliki fungsi yang kompleks.Dalam artikel ini, pembahasan akan dilakukan secara sistematika anatomis, mulai dari rongga muluthingga lambung, kemudian disertai dengan pembahasan organ pendukung sistem gastrointestinal, yakni heparbeserta cairan empedu. Namun demikian sebelum melangkah lebih lanjut ada baiknya dibahas mengenaimengenai dasar-dasar faal kontraksi otot polos.
 Kontraksi Otot Polos
1,2,3
Otot polos adalah jenis otot yang berukuran relatif kecildan biasanya berperan untuk melapisi rongga dari suatu organ.Terdapat baik persamaan maupun perbedaan antara kontraksiotot polos dengan otot rangka. Keseluruhan jenis otot,termasuk otot polos, memiliki protein kontraktil yangterbentuk dari filamen
aktin
dan
miosin
.Tidak seperti aktinpada umumnya, aktin pada otot polos
tidak memiliki proteinregulator troponin
. Selain itu organisasi protein kontraktilini berbeda antara otot polos dengan otot rangka. Oleh karenaitu, struktur sarkomer tidak dapat ditemukan di otot poloskarena serabut protein kontraktilnya tidak membentuk susunan miofibril. Struktur yang demikian menyebabkanprotein miosin dapat membentuk 
cross bridge
sepanjangfilamen dan dapat menyebabkan pemendekkan otot yang jauh lebih banyak (efektif) dibandingkan otot rangka.Mekanisme kontraksi otot rangka diterangkan sebagai berikut. Ketiadaan troponin dalam otot polosmenyebabkan tropomiosin
tidak berperan
dalam menutupi tempat berikatan aktin. Dengan demikian, aktin danmiosin dicegah untuk membentuk 
cross bridge
melalui
light chain
 
miosin
(yang selama ini kurang dianggappenting dalam mempelajari mekanisme kontraksi otot rangka).
Cross bridge
 
hanya akan terbentuk
apabila
light chain
miosin terfosforliasi
. Bagaimana
light chain
terfosfolirasi diatur melalui influks Ca
2+
melaluireseptor dihidropiridin ke dalam sitoplasma sel otot (sel otot polos tidak memiliki tubulus T dan retikulumsarkoplasmanya tidak berkembang baik, sehingga sangat memerlukan Ca
2+
dari lingkungan ekstrasel) yangkemudian mengaktifkan kompleks
MLC
(
 myosin light chain)
kinase
. Jika diperhatikan, ion fosfat inorganik (P
i
)yang dibutuhkan untuk kontraksi ini memiliki dua tempat berikatan, yakni di
light chain
(unik bagi otot polos)dan di situs ATPase miosin yang bermanfaat untuk penciptaan
 power stroke
(juga ditemukan di otot rangka).Berdasarkan peningkatan konsentrasi Ca
2+
sitosolik otot polos terbagi menjadi
otot polos fasik
dan
ototpolos tonik
. Otot polos fasik pada keadaan normal sangat lemah kontraksinya, namun akan meningkat aktivitaskontraksinya jika diinginkan. Sementara itu otot polos tonik sebagian besar masa hidupnya berlangsungmengalami kontraksi parsial yang menetap (istilah ini disebut dengan tonus).
Gambar 1
 – 
Struktur mikroskopis otot polos(Tortora, 2010)
 
Gastrointestinal 2010-2011 / Pemicu 1 2
Sebagian besar otot polos dalam sistem GI merupakan
 single-unit
(setiap otot polos bekerja secaraberkelompok, apabila satu serabut otot berkontraksi maka sel-sel tetangganya akan mengikuti),
 self-excitable
 (eksitabilitas diri), serta
miogenik
. Dengan demikian adanya potensial aksi di salah satu sel dapat menyebabkantimbulnya potensial aksi di sel-sel tetangga melalui penjalaran potensial aksi (
gap junction
). Struktur seperti inidisebut dengan
sinkitium fungsional
.
Sifat eksitabilitas diri yang dimiliki oleh otot polos jenis ini membuatmereka tidak memerlukan perangsangan Sel seperti ini berada di tengah hamparan sel-sel otot polos lain yangtidak memiliki sifat ekstabilitas diri, sehingga sel ini dapat disebut dengan
sel pacu
yang dapat menyebabkanbaik 
 
potensial depolarisasi (
baik apabila diterjemahkan dari istilah
 pacemaker potential 
)
maupun
potensialgelombang lambat (
 slow-wave potential)
, yang lagi-lagi tergantung jenis selnya. Potensial gelombang lambatmerupakan metode eksitabilitas diri yang sering ditemukan di sistem GI. Keberadaan persarafan di sistem GI(seperti yang akan dibahas setelah ini)
tidak menginisiasi
, melainkan
memodulasi
kontraksi otot polos sistemGI. Selain persarafan, kendali hormonal dan mekanik bekerja memodulasi kontraksi otot polos sistem GImelalui kerjanya terhadap permeabilitas kanal ion Ca
2+
otot polos.
 Persarafan sistem gastrointestinal 
Sistem GI memiliki
sistem saraf enterik
 yang berada di sepanjang dinding salurancerna, mulai dari esofagus hingga anus. Sistemsaraf ini memiliki jumlah neuron yang sangatbanyak, menyerupai jumlah neuron di kordaspinalis. Oleh karena itu sistem saraf enterik sangatlah penting dalam pengaturan sistem GI.Sistem saraf enterik terdiri atas
pleksusmyenteric Auerbach
 
(terletak di antara lapislongitudinal dan sirkuler) serta
pleksussubmukosa Meissner
.
1
Pleksus Auerbachberperan dalam pengaturan motilitas sistem GI,sedangkan pleksus Meissner lebih memiliiefek terhadap pengaturan sekresi danperdarahan sistem ini.Hal yang unik dari sistem GI adalahditemukannya sel yang menyerupai sel pacu jantung, yang dapat mencetuskan suatu daya kontraksi sistem GI.Sel ini disebut pula dengan
sel interstisial Cajal
(baca:
caHal
). Sel ini dapat mencetuskan suatu
 slow-wave potential 
yang menjadi dasar dari aktivitas ritmis elektrik dasar dari sistem GI.
Slow-wave potential
 
bukanlahsuatu potensial aksi
, melainkan menyerupai fluktuasi potensial membran secara teratur (siklik) yangmenyebabkan sel-sel kontraktil menjadi lebih mudah (atau justru lebih sulit) mencapai potensial ambang yangdapat mencetuskan potensial aksi sehingga otot polos berkontraksi.
2
 Selain daripada sistem saraf tersendiri ini, sistem gastrointestinal juga mendapat pengaruh dari persarafan
simpatis
dan
parasimpatis
. Kedua sistem saraf ini bekerja dengan cara memengaruhi kedua pleksus sistemsaraf enterik. Stimulasi simpatis akan menyebabkan
penghambatan
aktivitas sistem GI (melalui kerjaneurotransmiter norepinefrin). Kontras dengan simpatis, rangsangan parasimpatis meningkatkan aktivitas sistemGI. Meskipun mempersarafi sistem GI, ketiadaan persarafan otonom ini tidak menyebabkan kelainan yangberarti pada sistem GI, karena persarafan enterik sendiri sudah cukup mumpuni dalam hal menunjang aktivitassistem GI. Lebih lanjut lagi selain ditemukan persarafan otonom dapat pula ditemukan serabut saraf aferen(sensori) yang berasal dari epitel sistem GI. Serabut aferen ini
mengirimkan informasi
ke kedua pleksus,sistem saraf simpatis (melalui ganglia prevertebral), maupun ke sistem saraf parasimpatis (melalui n.vagus kebatang otak).Persarafan sistem GI berperan dalam
refleks GI
yang berperan dalam pengaturan kerja sistem GI. Saat inisetidaknya dikenal tiga jenis refleks GI, yakni
refleks yang hanya melibatkan sistem saraf enterik
;
refleksyang melibatkan ganglia simpatis
, serta
refleks yang melibatkan pusat pengaturan sentral
.
Gambar 2
 – 
Skema persarafan sistem gastrointestinal(Guyton, 2006)
 
Gastrointestinal 2010-2011 / Pemicu 1 3
Selain kontrol melalui persarafan, sistem GI juga dapat dikendalikan melalui pengaruh hormonal. Hormondapat meningkatkan atau menurunkan motilitas saluran cerna, demikian pula sekresi saluran cerna. Padaakhirnya, baik persarafan maupun hormon memberikan suatu mekanisme
umpan balik
(
 feedback 
) terhadapsistem GI. Keseluruhan ini mengatur sistem GI melalui reseptor yang peka baik terhadap zat kimiawi, mekanik,maupun osmolaritas.
3
 
 Proses awal yakni mengunyah dan sekresi saliva
 Makanan yang dimakan akan dikunyah (proses
mastikasi
), yang tidak lain merupakan proses motilitasyang terjadi di rongga mulut (cavum oris). Makanan dapat terkunyah karena adanya proses
oklusi
(merapatnyasusunan gigi geligi atas dengan bawah, yang mana pada orang-orang dengan kelainan maloklusi menyebabkanmakanan tidak terkunyah dengan baik).
2
Mengunyah adalah proses yang penting karena menghancurkanstruktur dan kontur makanan menjadi halus dan mudah tertelan. Hal yang lebih penting lagi adalah denganpenghancuran, permukaan makanan yang berkontak dengan enzim akan lebih luas sehingga lebih baik tercerna.
1
 Pada dasarnya mengunyah merupakan proses volunter, walaupun pada akhirnya akan merupakan suatu prosesrefleks yang melibatkan otot-otot rahang, pipi, dan lidah. Makanan akan dibahasi dengan air liur untuk kemudian mengalami sedikit pencernaan. Zat-zat nutrien tidak ada yang diserap di organ ini, dan makananselanjutnya akan melanjutkan perjalanan ke faring.
Saliva
(liur) adalah sekret yang dihasilkan oleh tiga kelenjar besar, yakni
kelenjar submandibularis,sublingualis
, dan
parotis
, serta oleh kelenjar pipi (
buccal
) yang lebih kecil.
1
Hampir seluruh komponen salivaadalah H
2
O, dengan komposisi sisanya merupakan:1.
 
Elektrolit
, yang sebagian besar tersusun atas ion K
+
, bikarbonat (HCO
3-
). Perlu diketahui bahwakandungan elektrolit saliva berbeda dengan cairan tubuh akibat proses transpor aktif ion-ion yangterjadi di saluran keluar kelenjar liur;2.
 
Sekret serosa,
berupa
ptialin
(suatu
alfa-amilase
) yang berperan dalam memecah pati (ataupolisakarida) menjadi
maltosa
(suatu disakarida);3.
 
Mucin
, suatu sekresi mukus untuk melicinkan makanan dan melindungi mukosa oral;4.
 
Enzim proteolitik
, berupa
lisozim
yang bekerja menyerang bakteri untuk memasukkan
ion tiosianat
 (SCN
-
) yang akan menjadi agen bakterisidal;5.
 
serta
Imunoglobulin A
yang merupakan bagian dari sistem imun humoral dan mencegah bakteri agartidak mempenetrasi epitelium maupun
laktoferin
yang dapat mengikat zat besi yang dibutuhkan bagiperkembangbiakan bakteri.Setiap harinya sekitar 1-2 liter saliva dihasilkan(dengan volume mulai dari 0,5 ml/menit hinggamaksimum 5 ml/menit).
2
Variasi volume sekresi salivamengisyaratkan bahwa sekresi saliva adalah suatu prosesyang melibatkan pengaturan melalui persarafan baik parasimpatis maupun simpatis. Rangsangan
parasimpatis
 akan menghasilkan saliva dengan jumlah yang cukupbanyak. Rangsangan parasimpatis dikendalikan oleh
nukleus salivatorius superior
dan
inferior
yang terletak di batang otak. Melalui n.glossofaringeal dan ganglionotik-lah kelenjar parotis dipersarafi. Sementara itu kelenjarsubmandibular melibatkan jaras persarafan n.fasialis danganglion submandibularis. Perangsangan parasimpatisdiakibatkan oleh rangsangan sensor rasa dan taktil daripermukaan lidah dan sekitar faring.Peranan pusat luhur (
 higher center
) dari sistem saraf pusat dapat memengaruhi sekresi saliva. Oleh karenaitu, seseorang yang mencium aroma makanan kesukaannya dapat menghasilkan saliva yang lebih banyak 
Gambar 3
 – 
Pengaturan sekresi saliva(Ganong, 2010)

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->