Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
29Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bab 9 - Kerangka Kebijakan Inovasi Daerah

Bab 9 - Kerangka Kebijakan Inovasi Daerah

Ratings:

4.62

(13)
|Views: 6,842|Likes:
Published by Tatang Taufik
Buku “Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan” (2005).
Buku “Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan” (2005).

More info:

Published by: Tatang Taufik on Aug 22, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/15/2013

pdf

text

original

 
 
9
Bab
KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI DAERAH
1. PENDAHULUAN
Diskusi pada bagian sebelumnya antara lain menyajikan tinjauan tentangkonsep maupun contoh praktik di beberapa negara dalam pengembangan sisteminovasi. Di antara kesimpulan penting dari penggalian tentang ini adalah:1. Pentingnya kerangka kebijakan inovasi yang komprehensif sebagai basisbagi pengembangan instrumen kebijakan yang diperlukan;2. Mengembangkan instrumen-instrumen kebijakan yang kontekstual;3. Merancang instrumen kebijakan dengan landasan isu kebijakan yang jelas,baik dalam bentuk ”kegagalan pasar,” “kegagalan pemerintah” maupun“kegagalan sistemik”, dan mekanisme yang sesuai (antara lain misalnyadengan meletakkannya dalam upaya melengkapi/memperkuat peran pasar,bukan “menggantikannya”);4. Senantiasa memperbaiki penadbiran kebijakan, termasuk mendorongpembelajaran dalam proses kebijakan.Berbagai pihak mengajukan beberapa pola kebijakan inovasi yangdipandang penting. OECD (1999) misalnya, menetapkan tujuh tema utamakebijakan inovasi yang dinilai penting sebagai kemungkinan respons yang baikmenyangkut tantangan kebijakan yang bersifat generik dalam konteks nasionaltertentu. Ketujuh tema kebijakan tersebut adalah:1. Mengamankan kondisi kerangka kerja yang sesuai;2. Membangun budaya inovasi;3. Meningkatkan difusi teknologi;4. Mendorong jaringan dan klasterisasi;5. Mengungkit penelitian dan pengembangan;6. Merespon globalisasi;7. Memperbaiki pembuatan kebijakan.Uni Eropa, melalui
the First Action Plan for Innovation in Europe
 
1996 
padaawalnya menetapkan tiga prioritas, yaitu:1. Menumbuhkembangkan budaya inovasi;2. Menciptakan suatu kerangka legal regulasi, dan keuangan yang kondusif bagi inovasi; dan3. Mendorong/menggerakkan riset lebih erat dengan inovasi baik pada tatarannasional maupun Komunitas Eropa.
 
 
 
PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN
302
Semangat mengejar ketertinggalan Uni Eropa, terutama dari Amerika Serikat, memotivasiupaya-upaya bersama dari
the Innovation Action Plan
, yang pada intinya mendorong tujuan bersamaterutama mendorong inovasi di seluruh Eropa, mengembangkan regulasi yang lebih baik bagiperkembangan inovasi, mendorong pasar yang dinamis bagi pengetahuan, meningkatkan investasidalam inovasi, meningkatkan keterampilan bagi inovasi, dan mengembangkan penadbiran inovasiyang efisien.Selanjutnya menindaklanjuti
the Lisbon Strategy 
di tahun 2000, Uni Eropa (EC, 2000),menetapkan lima agenda utama kebijakan, yaitu:1. Koherensi kebijakan inovasi.2. Kerangka regulasi yang kondusif bagi inovasi.3. Mendorong penciptaan dan pertumbuhan perusahaan-perusahaan inovatif.4. Memperbaiki antarmuka
(interface)
yang penting dalam sistem inovasi.5. Masyarakat yang terbuka terhadap inovasi.Sebagai agenda penyempurnaan/penguatan dari prakarsa-prakarsa sebelumnya, kemudianditetapkan empat agenda prioritas tambahan, yaitu (EC, 2003):1. Interaksi dengan bidang-bidang kebijakan lainnya untuk memperbaiki lingkungan bagiperusahaan-perusahaan inovatif.2. Menstimulasi dinamisme pasar yang lebih besar dan memanfaatkan konsep pasar pemimpin
(lead market).
 3. Mendorong inovasi dalam sektor publik.4. Memperkuat dimensi daerah dalam kebijakan inovasi.Uni Eropa juga mengungkapkan beberapa contoh praktik baik negara (tahun 2000) dalamkonteks tertentu. Untuk klaster dan jaringan misalnya adalah Belanda (kebijakan klaster yang relatif termaju), Belgia (diseminasi trans-nasional yang aktif, PLATO). Sedangkan menyangkut penadbiraninovasi, misalnya adalah Finlandia (dewan inovasi sebagai struktur koordinasi), Denmark(reorganisasi administratif), Inggris (praktik
foresight 
), dan Irlandia (penggunaan program-programeksperimental).Sementara itu, Bank Dunia mendorong negara-negara menyikapi kecenderunganperkembangan ekonomi pengetahuan dengan kerangka K4D
(Knowledge for Development)
danmenekankan pada elemen:1. Insentif ekonomi dan rejim kelembagaan yang memberikan insentif bagi pemanfaatanpengetahuan yang ada dan yang baru secara efisien serta menyuburkan kewirausahaan.2. Pengembangan SDM yang terdidik, kreatif dan terampil.3. Pengembangan infrastruktur informasi yang dinamis.4. Penguatan sistem inovasi nasional yang efektif.Diskusi sebelumnya juga membahas contoh praktik kebijakan inovasi di beberapa negara, yangsecara formal ditetapkan melalui dokumen formal maupun diskusi para pakar yang menyarankanbeberapa agenda utama kebijakan inovasi. Untuk Amerika Serikat misalnya, Branscomb dan Keller (1997) menyarankan enam langkah utama kebijakan, yaitu:
 
BAB 9 KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI DAERAH
 
303
1. Mendorong inovasi perusahaan.2. Menekankan riset teknologi dasar.3. Memanfaatkan secara lebih baik teknologi yang tersedia.4. Menggunakan keseluruhan alat kebijakan, bukan sekedar dukungan litbang.5. Membangkitkan globalisasi inovasi.6. Memperbaiki efektivitas pemerintah.Bab ini selanjutnya akan mendiskusikan kerangka kebijakan daerah secara umum, denganmemetik pelajaran dari praktik di beberapa negara, dan menyesuaikannya dengan konteks Indonesiasecara nasional maupun daerah pada umumnya. Kerangka kebijakan yang diajukan di sini lebihdilandaskan pada penelaahan sistem inovasi Indonesia (Bab 6), penggalian isu-isu kebijakan (Bab 7),dan pokok-pokok pikiran tentang strategi inovasi daerah seperti yang telah disampaikan pada Bab 8.
2. KERANGKA LEGISLASI
Kerangka legislasi sangat penting sebagai landasan legal bagi para aktor dalam sistem inovasiuntuk berperan efektif. Kerangka legislasi seyogyanya memberikan pijakan apa yang dinilai pentingdan memungkinkan berkembangnya sinyal-sinyal ekonomi yang tepat bagi para pelaku untukberfungsi dan berkontribusi bagi perkembangan sistem inovasi daerah yang maju dan dinamis, sesuaidengan potensi terbaik setempat.Secara konsep, sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (sistem iptek) merupakan bagianintegral dari sistem inovasi (pada beragam tataran). Karena itu sangat logis menempatkan kebijakanstrategis pembangunan sistem iptek di daerah merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakanstrategis pembangunan sistem inovasi daerah yang bersangkutan. UU No. 18/2002 tentunyamerupakan salah satu acuan dalam menyusun kebijakan strategis daerah berkaitan denganpembangunan sistem iptek di daerah. Dengan memahami konsep tersebut dan mengacu kepada UUNo. 18/2002, maka beberapa hal penting berikut merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalamperancangan kebijakan daerah.Namun tentu perlu diingat bahwa sistem iptek (pada tingkat daerah ataupun nasional)merupakan bagian integral dari sistem inovasi (pada tingkat daerah ataupun nasional). Karena itusangat logis bila muncul anggapan bahwa kebijakan strategis iptek (pada tingkat daerah ataupunnasional) merupakan bagian integral dari kebijakan strategis inovasi atau strategi inovasi (pada tingkatdaerah ataupun nasional).Walaupun perundangan yang ada ”baru” mewajibkan perlunya kebijakan strategispembangunan iptek, namun ini baru merupakan prasyarat minimal bagi peningkatan daya saingdaerah. Yang sangat diperlukan adalah kebijakan strategis berkaitan dengan sistem inovasi (daerah).Dalam kaitan ini, perundangan terbaru tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 32 tahun 2004) danbeberapa perundangan lainnya merupakan komplemen (bagi UU No. 18 tahun 2002) untukperumusan kebijakan strategis inovasi daerah.Simplifikasi tentang bagaimana keterkaitan, kesejalanan dan koherensi kebijakan inovasinasional dan daerah dalam pengembangan sistem inovasi, serta bagaimana keterpaduan kebijakaninovasi perlu dikembangkan di daerah ditunjukkan pada Gambar 9.1 dan 9.2.

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
Shinta Dhewie liked this
Revier Wong liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Made Rahmawaty liked this
Rabial Kanada liked this
Liza Engalika liked this
Dudut Dwi liked this
Heri Julianto liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->