Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
15Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bab 10 - Epilog

Bab 10 - Epilog

Ratings:

4.5

(1)
|Views: 597|Likes:
Published by Tatang Taufik
Buku “Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan” (2005).
Buku “Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan” (2005).

More info:

Published by: Tatang Taufik on Aug 22, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

 
 
10
Bab
EPILOG
1. PENDAHULUAN
Hampir dapat dipastikan bahwa semua setuju semakin pentingnya inovasidalam peningkatan daya saing (pada beragam tataran). Keberhasilan yangditunjukkan oleh banyak perusahaan, industri atau beberapa negara lain tak sajamenjadi bukti empiris tentang hal tersebut, tetapi juga sebenarnya memberikanpelajaran yang berharga bagaimana mendorong perkembangan inovasi. Inovasidapat diartikan sebagai “proses” dan/atau “hasil” pengembangan ataupemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untukmenciptakan (memperbaiki) produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atausistem yang baru yang memberikan nilai (terutama ekonomi dan sosial) yangberarti (signifikan).Inovasi sangat penting terutama karena perannya, antara lain dalam:
Membentuk/meningkatkan keunggulan daya saing;
Meningkatkan produktivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi;
Memenuhi kebutuhan sosial secara signifikan;
Meningkatkan standar hidup;
Menciptakan/memperluas kesempatan kerja;
Menciptakan/memperluas pasar setempat, daerah, nasional daninternasional;
Meningkatkan keuntungan dan mendorong kemajuan bisnis.Aktivitas penelitian dan pengembangan (litbang) sangatlah penting,terutama dalam menghasilkan invensi. Namun tentu perlu dipahami bahwa inovasimencakup lebih luas dari sekedar keberhasilan aplikasi hasil litbang. Inovasiberkembang didorong oleh dan dalam beragam bentuk kebaruan
(novelty)
seperti:
Invensi yang dihasilkan dari aktivitas penelitian dan pengembangan(litbang).
Penggalian dan penyesuaian gagasan yang diperoleh dari sektor/bidangatau praktik aktivitas bisnis lain, yang terutama dilakukan oleh para pelakubisnis dalam aktivitas tertentu yang berbeda.
Penggalian dan perintisan ranah pasar dan/atau produk yang ”baru.”
Pengenalan dan/atau pemanfaatan pendekatan yang baru secarakomprehensif terhadap sistem bisnis, seperti misalnya pendekatan dalampraktik/model bisnis.
 
 
 
PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN
324
Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa “pandangan” tentang inovasi berkembang dari waktuke waktu. Pemahaman sebagai “proses sekuensial-linier” sangat mendominasi di masa lampau.Dorongan bahwa hasil temuan
(discovery/invention/technical novelty)
merupakan sumber dan bentukinovasi sebagai sekuen (urut-urutan) rangkaian riset dasar 
riset terapan
litbang
 manufaktur/produksi
distribusi (sering disebut
technology push)
berkembang terutama padaperiode pasca Perang Dunia II hingga tahun 1970an. Kemudian, pandangan selanjutnya bahwaperubahan kebutuhan permintaanlah yang menjadi pemicu atau penarik dari inovasi (sering disebut
demand pull 
) berkembang pada periode selanjutnya sampai periode 1980an.Namun pandangan “sekuensial-linier”
 push
ataupun
 pull 
(atau ada kalanya disebut
 pipelinelinear model 
) demikian disadari tidak sepenuhnya benar. Perkembangan dari waktu ke waktu semakinmemperkuat pergeseran cara pandang dan keyakinan bahwa dalam sebagian besar praktiknya,inovasi lebih merupakan proses interaktif-rekursif dan iteratif, dan sebagai proses pembelajaran
(learning process)
yang merupakan bagian penting dalam proses sosial. Artinya, semakin dipahamibahwa inovasi pada umumnya tidak terjadi dalam situasi yang terisolasi. Cara pandang “interaktif-rekursif” demikian sering juga disebut dengan model
feedback-loop
atau
chain-link 
atau model non-linier.Perubahan yang cepat dan semakin kompleks beserta tantangan yang dihadapi membawakepada ”kesadaran baru” akan perlunya cara pandang yang lebih baik, yang secara holistikmempertimbangkan kompleksitas dan dinamika serta proses pembelajaran terkait dengan inovasi,terutama sejak tahun 1980an. Sejak masa tersebut, “sistem inovasi” (yaitu suatu kesatuan darisehimpunan aktor, kelembagaan, hubungan, interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arahdan kecepatan inovasi dan difusinya, termasuk teknologi dan praktik baik/terbaik, serta prosespembelajaran) dinilai sebagai kerangka pendekatan yang sebaiknya digunakan, terutama oleh parapembuat kebijakan, untuk memahami dinamika inovasi dalam situasi perkembangan dewasa ini.Pergeseran cara pandang demikian berimplikasi pula pada kebijakan yang diterapkanpemerintah oleh berbagai negara dari waktu ke waktu (lihat tabel berikut). Perkembangan yang terjadipun membawa kepada kesadaran bahwa proses kebijakan pada dasarnya merupakan prosespembelajaran. Tantangan baru pun muncul, antara lain bahwa untuk mendorong perkembanganinovasi dibutuhkan upaya-upaya (baik dalam berpikir, bersikap dan bertindak) kreatif-inovatif dalamkebijakan itu sendiri.Dalam dekade terakhir ini, diskusi tentang “kebijakan inovasi”
(innovation policy)
(yangesensinya merupakan kelompok kebijakan yang mempengaruhi kemajuan-kemajuan teknis danbentuk inovasi lainnya) demikian marak berkembang, walaupun umumnya masih terbatas di negara-negara maju. Kebijakan inovasi lebih dari sekedar kebijakan ”litbang” atau bahkan ”iptek”, dan tidakcukup dengan hanya mempertimbangkan perlunya intervensi pada satu sisi
(one-side policy)
dari duamata uang yang saling berkaitan dalam perekonomian (permintaan dan penawaran besertaketerkaitan/interaksi antara keduanya).Menyadari pentingnya hal ini dalam menentukan masa depan, banyak negara secara sungguh-sungguh memberi perhatian dan upaya khusus dalam hal ini. Beberapa menyusun perundangan dandokumen strategis untuk dijadikan acuan agenda nasional semua pihak. Beberapa negaramengembangkan/memperkuat kelembagaan untuk menghasilkan kebijakan inovasi di negaranya.Beberapa asosiasi negara seperti OECD dan Uni Eropa bahkan mengembangkan agenda khususberkaitan dengan tema ini.Inovasi dan sistem inovasi beserta kebijakan inovasi bukanlah “isu dan kebijakan eksklusif”yang hanya menjadi ranah negara, daerah, pelaku bisnis atau masyarakat “maju” saja. Namun patutdiakui, pemahaman keliru tentang ini masih sering ditemui. Tak mengherankan jika masih adaanggapan, yang nampaknya juga luas berkembang, bahwa instrumen-instrumen kebijakan inovasihanyalah sekedar instrumen yang eksklusif bagi kelompok intelektual.
 
BAB 10 EPILOG
 
325
Tabel 10.1
 
Pergeseran Cara Pandang terhadap Inovasi dan Implikasi Kebijakan.
 
Cara Pandang Era Implikasi Kebijakan
Sebagai residual (faktor ”marjinal”) pertumbuhan/kemajuan (model-modelpertumbuhan neo-klasik dansebelumnya).Era di mana inovasi belummemperoleh perhatian khusus(terutama masa sebelum 1960an).Tidak/belum ada upaya khususintervensi.Era
Technology push
(tahun 1960an –tahun 1970an).
Tekanan kebijakan pada sisipenawaran sangat dominan
(supply driven).
 
Kebijakan sains/riset sangatdominan.
Kebijakan teknologi/iptek mulaiberkembang.Inovasi sebagai prosessekuensial linier (
 pinelinelinear model).
 Era
Demand pull 
(1970an – 1980an).
Tekanan kebijakan pada sisipermintaan sangat dominan
(demand driven).
 
Kebijakan teknologi dan/ataukebijakan iptek berkembang,namun yang bersifat satuarah/sisi
(one-side policy)
masihdominan.Inovasi dalam kerangkapendekatan sistem prosesinteraktif-rekursif 
(feedback loop/chain link model)
darikompleksitas dan dinamikapengembangan (
discovery 
,invensi, litbang maupun nonlitbang), pemanfaatan, dandifusi serta pembelajaransecara holistik.Era Sistem Inovasi (1980an –sekarang).
Kebijakan inovasi, dengankerangka pendekatan sistem.
Kebijakan inovasi merupakanproses pembelajaran yang perludiarahkan pada pengembangansistem inovasi yang semakinmampu beradaptasi.
Kebijakan inovasi tak lagi hanyamenjadi ranah monopoliPemerintah ”Pusat,” tetapi jugaPemerintah ”Daerah.”
Kebijakan inovasi perlu mempertimbangkan beragam isu yang mempengaruhi tekanan untukperubahan (misalnya kebijakan persaingan), mempengaruhi kemampuan berinovasi dan menyerapperubahan (misalnya peningkatan kualitas SDM), dan mempertimbangkan kelompok-kelompokmasyarakat yang mungkin “dirugikan” akibat kemajuan/perubahan yang terjadi. Karena itu, kuranglahtepat kerangka agenda yang seolah membenturkan upaya investasi untuk peningkatan daya saingdan pengembangan sistem inovasi dengan isu-isu atau pertimbangan lainnya yang lebih bersifat jangka pendek (yang umumnya dinilai lebih mendesak) sebagai situasi yang
mutually exclusive
dalamsuatu kerangka upaya pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan yang semakin tinggi dansemakin adil secara berkelanjutan.

Activity (15)

You've already reviewed this. Edit your review.
Shinta Dhewie liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
babaysurabay liked this
Djonet Bravo liked this
Ahmad Fauzi liked this
Defitra Pit liked this
Sania Diaurrahmi liked this
sandhiok liked this
suherdi priuk liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->