Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Asal Usul Penindasan Perempuan PRP

Asal Usul Penindasan Perempuan PRP

Ratings: (0)|Views: 71 |Likes:
Published by Pun Auf

More info:

Published by: Pun Auf on Feb 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/10/2013

pdf

text

original

 
Asal-usul Penindasan Perempuan
Oleh Ken Budha Kusumandaru
Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki --inilah anggapan umum yang berlakusekarang ini tentang kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat. Anggapan ini tercermindalam prasangka-prasangka umum, seperti
"seorang istri harus melayani suami", "perempuanitu turut ke surga atau ke neraka bersama suaminya" 
, dll. Prasangka-prasangka ini mendapatpenguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan-peraturan agamadan adat. Lagipula, sepanjang ingatan kita, bahkan nenek-moyang kita, keadaannya memangsudah begini.Tapi anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Para ahli antropologi sudah menemukan bahwakeadaannya tidaklah selalu demikian.Dalam masyarakat Indian Iroquis, misalnya, kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benarsetara. Bahkan, semua laki-laki dan perempuan dewasa otomatis menjadi anggota dari DewanSuku, yang berhak memilih dan mencopot ketua suku. Jabatan ketua suku dalam masyarakatIndian Iroquis tidaklah diwariskan, melainkan merupakan penunjukan dari warga suku melaluisebuah pemilihan langsung yang melibatkan semua laki-laki dan perempuan secara setara.Keadaan ini berlangsung sampai jauh ke abad ke 19.Dalam masyarakat Jermania, ketika mereka masih mengembara di luar perbatasan denganRomawi, berlaku juga keadaan yang sama. Kaum perempuan mereka memiliki hak dankewajiban yang setara dengan kaum laki-lakinya. Peran yang mereka ambil dalam pengambilankeputusanpun setara karena setiap perempuan dewasa adalah juga anggota dari Dewan Suku.Demikian pula yang berlaku di tengah suku-suku Schytia dari Asia Tengah. Di tengah mereka,bahkan perempuan dapat diangkat menjadi prajurit dan pemimpin perang.Namun jika kita cermati lebih lanjut, masyarakat-masyarakat di mana kedudukan perempuandan  laki-laki  benar-benar  setara  ini  adalah  masyarakat  nomaden,  yang  mengandalkanperburuan dan pengumpulan bahan makanan sebagai sumber penghidupan utama mereka.Suku-suku Indian Iroquis sudah mulai bertanam jagung, namun masih dalam bentuk sangatsederhana. Demikian pula yang berlaku di tengah masyarakat Jermania dan Schytia. Pertanian,bagi mereka, hanyalah pengisi waktu ketika hewan-hewan buruan mereka sedang menetap disatu tempat. Data-data arkeologi bahkan menunjukkan bahwa pertanian primitif ini hanyadikerjakan oleh kaum perempuan sebagai pengisi waktu senggang, dan tidak dianggap sebagaisatu hal yang terlalu penting untuk dapat dikerjakan oleh seluruh suku secara bersama-sama.Namun, ketika berbagai masyarakat manusia menggeser prikehidupannya ke arah masyarakatpertanian, seluruh struktur masyarakatpun berubah. Termasuk di antaranya hubungan antaralaki-laki dan perempuan.
Pertanian dan Bangkitnya Patriarki
Berlawanan dengan pandangan umum tentang bangkitnya masyarakat pertanian, umat manusiatidaklah dengan sukarela memeluk pertanian sebagai cara hidup. Biasanya, orang beranggapanbahwa manusia mulai bertani ketika mereka menemukan daerah-daerah subur yang cocok untuk bertani. Namun, data-data arkeologi dan antropologi menunjukkan bahwa manusia mulaibertani ketika mereka terdesak oleh perubahan kondisi alam, di mana kondisi yang baru tidak lagi memberi mereka kemungkinan untuk bertahan hidup hanya dari berburu dan mengumpulbahan makanan.Peradaban pertanian yang pertama kali muncul adalah peradaban Sumeria dan Mesir. Keduanyalahir dari terdesaknya suku-suku manusia yang mengembara di dataran padang rumput yangkini dikenal sebagai Afrasia. Padang rumput kuno yang kini sudah musnah ini membentang daridaerah pegunungan Afrika Timur melalui Arabia sampai pegunungan Ural di Asia Tengah.
1
 
Sekitar 8.000 - 11.000 tahun yang lalu, ketika Jaman Es terakhir telah berakhir, padang rumputini mengalami ketandusan akibat perubahan iklim. Ketandusan ini berawal dari daerah Arabiadan meluas ke utara dan selatan. Bersamaan dengan mengeringnya padang rumput ini, hewan-hewan  buruan  akan  berpindah  mencari  tempat  yang  masih  subur.  Para  pemburu  danpengumpul yang mengikuti hewan buruan ke utara akhirnya bertemu dengan lembah sungaiEfrat dan Tigris, sementara yang ke selatan bertemu dengan lembah sungai Nil. Pada masa itu,sebuah lembah sungai merupakan medan yang tak tertembus oleh manusia, contoh modern darilembah-lembah sungai yang masih perawan seperti ini dapat kita lihat di Papua. Karena terjepitantara dua keadaan yang berbahaya bagi kelangsungan hidup mereka, kelompok-kelompok pemburu dan pengumpul ini akhirnya memutuskan untuk bergerak memasuki lembah-lembahsungai ini dan berusaha menaklukkannya - setidaknya, di lembah-lembah sungai ini masihtersedia air.Proses penaklukan ini pasti berjalan dengan amat beratnya karena peralatan yang merekamiliki, pada awalnya, hanyalah peralatan untuk berburu.  Kini mereka harus menciptakanimprovisasi bagi alat-alat mereka supaya dapat digunakan untuk membersihkan lahan. Karenaperalatan mereka yang primitif itu, proses pembukaan lahan ini dapat berlangsung beratustahun lamanya. Sementara jarang ada binatang buruan yang akan mengikuti mereka memasukilembah-lembah sungai itu. Mereka dihadapkan pada keharusan untuk menemukan sumbermakanan lain.Dan di saat inilah, menurut data arkeologi, kaum perempuan muncul sebagai juru selamat.Mereka menggunakan ketrampilan mereka untuk mengolah biji-bijian menjadi tanaman untuk mendapatkan bahan makanan bagi seluruh komunitas. Apa yang tadinya hanya pengisi waktusenggang kini menjadi sumber penghidupan utama seluruh masyarakat.Keharusan manusia untuk menemukan cara-cara baru untuk mempertahankan hidupnyamembuat perkembangan teknologi berlangsung dengan pesat di tengah masyarakat pertanian,jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi dalam masa-masa sebelumnya. Denganperkembangan teknologi ini, apa yang tadinya hanya dapat dikerjakan bersama-sama (komunal)kini  dapat  dikerjakan  secara  sendirian  (individual).  Proses  untuk  menghasilkan  sumberpenghidupan kini berangsur-angsur berubah dari proses komunal menjadi proses individual.Dan, hal yang paling wajar ketika pekerjaan sudah dilakukan secara individual adalah bahwahasilnya  kemudian  menjadi  milik  individu  (perorangan).  Pertanian  memperkenalkankepemilikan pribadi pada umat manusia.Di samping itu, pertanian sesungguhnya menghasilkan lebih banyak daripada berburu danmengumpul. Tiap kali panen, manusia menghasilkan jauh lebih banyak daripada yang dapatdihabiskannya. Dengan kata lain, pertanian memperkenalkan hasil lebih pada pri-kehidupanmanusia.Namun, hasil lebih ini tidaklah muncul secara kontinyu, melainkan dalam paket-paket. Sekalipanen, mereka mendapat hasil banyak, namun hasil itu harus dijaga agar cukup sampai panenberikutnya. Hal ini menumbuhkan keharusan untuk menjaga dan membagi hasil lebih ini.Melalui proses ratusan tahun, kedua keharusan ini menumbuhkan tentara dan birokrasi.Dengan kata lain, pertanian memperkenalkan Negara pada pri-kehidupan manusia.Sekalipun berlangsung berangsur-angsur selama ratusan tahun, pada satu titik, perubahan-perubahan kecil ini menghasilkan lompatan besar pada pri-kehidupan manusia. Terlebih lagisetelah pertanian diperkenalkan, baik melalui penaklukan atau melalui proses inkulturasi, padaperadaban-peradaban lain di seluruh dunia.Dan salah satu perubahan penting ini terjadi pada pembagian peran antara laki-laki danperempuan.
2
 
Pertama, pertanian pada awalnya membutuhkan banyak tenaga untuk membuka lahan karenatingkat  teknologi  yang  rendah.  Hanya  dari  proses  ekstensifikasi  (perluasan  lahan)-lahpertambahan hasil dapat diperoleh. Oleh karena itu, proses reproduksi manusia menjadi salahsatu proses yang penting untuk mendapatkan sebanyak mungkin tenaga pengolah lahanpertanian. Aktivitas seksual, yang tidak pernah dianggap penting, bahkan dianggap beban, ditengah masyarakat berburu dan mengumpul, kini menjadi satu aktivitas yang penting. DewiKesuburan merupakan salah satu dewi terpenting di tengah masyarakat pertanian, bukan hanyaberkenaan dengan kesuburan tanah melainkan juga tingkat kesuburan reproduksi perempuan.Dan sebagai akibat logis dari keadaan ini kaum perempuan semakin tersingkir dari prosesproduktif di tengah masyarakat. Waktunya semakin lama semakin terserap ke dalam kegiatan-kegiatan reproduktif.Kedua, teknologi pertanian yang maju semakin pesat ini ternyata malah membuat aktivitasproduksi di sektor pertanian menjadi semakin tertutup buat perempuan. Penemuan arkeologimenunjukkan bahwa ditemukannya bajak (luku) telah menggusur kaum perempuan darilapangan  ekonomi.  Bajak  merupakan  alat  pertanian  yang  berat,  yang  tidak  mungkindikendalikan oleh perempuan. Terlebih lagi bajak biasanya ditarik dengan menggunakan tenagahewan ternak, di mana pengendalian terhadap ternak memang merupakan wilayah ketrampilankaum laki-laki. Intrusi (mendesak masuknya) peternakan ke dalam pertanian telah membuatruang bagi kaum perempuan, yang keahliannya hanya dalam bidang pertanian, semakintertutup.Karena perempuan semakin tidak mampu bergiat dalam lapangan produksi, maka iapunsemakin tergeser ke pekerjaan-pekerjaan domestik (rumah tangga). Dan ketika perempuan telahsemakin terdesak ke lapangan domestik inilah patriarki mulai menampakkan batang hidungnyadi muka bumi.
Kepemilikan Pribadi dan Patriarki
Tergesernya  kaum  perempuan  dari  lapangan  produktif  ini  terjadi  dalam  konteksberkembangnya kepemilikan pribadi.Dengan semakin bergesernya proses produksi menjadi sebuah proses perorangan, maka unitpengaturan masyarakat pun berubah. Jika tadinya unit pengaturan masyarakat yang terkeciladalah suku maka kini muncullah sebuah lembaga baru, yakni keluarga.Hampir di tiap masyarakat yang terhitung primitif konsep tentang keluarga tidak dikenal.Penelitian arkeologis telah menemukan berbagai bentuk sistem reproduksi masyarakat komunalseperti ini. Seperti nyata di tengah masyarakat Zulu, di Afrika, di mana tiap waktu tertentudiadakan satu upacara di mana kaum perempuan memilih pasangannya untuk jangka waktusampai upacara berikutnya diadakan. Suku-suku Afrika yang lain, semacam orang-orang Bush,menganut sistem di mana seorang perempuan adalah istri dari semua laki-laki yang ada di sukutersebut, sementara seorang laki-laki adalah suami dari semua perempuan di sukunya. Suku-suku aborigin Australia menganut sistem silang-suku, di mana mereka mengenal suku-saudara.Seorang perempuan aborigin adalah istri dari semua laki-laki dalam suku-saudara mereka,demikian sebaliknya yang terjadi dengan tiap laki-laki dalam suku tersebut.Oleh karena pola reproduksi yang komunal semacam ini, garis keturunan seseoang hanya dapatdilihat dari siapa ibunya. Dari sinilah sebab mengapa dalam masyarakat primitif hanya dikenalgaris matrilineal. Ini nampak nyata dalam asal-usul kata "gen" atau "genetik" itu sendiri, yangberasal dari kata kuno bangsa Arya gan atau kan yang artinya "kelahiran" atau "kehamilan".Jadi, "keturunan" merupakan satu bentuk yang sangat bernuansa perempuan pada awalnya.Namun demikian, garis matrilineal ini tidaklah berarti apa-apa selain penentu apakah seseorangdapat digolongkan sebagai "orang kita" atau bukan. Dalam makna yang lebih luas, apakah iasetelah dewasa akan dapat memperoleh tempat dalam Dewan Suku dan ikut mengambil
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->